Comscore Tracker

Mati Otak: Penyebab, Diagnosis, Bedanya dengan Koma

Kematian bukan hanya jantung yang berhenti berdetak

Mati otak (brain death), atau juga dikenal sebagai mati batang otak (brain stem death), adalah kondisi saat seseorang yang menggunakan mesin pendukung kehidupan buatan tidak lagi memiliki fungsi otak. Ini artinya orang tersebut tidak akan sadar kembali atau bisa bernapas tanpa bantuan.

Seseorang yang mati otak secara hukum dipastikan mati. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk pulih karena tubuh mereka tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan life support.

Mati otak adalah definisi legal dari kematian, yang merupakan penghentian total semua fungsi otak dan ini tidak dapat dibalikkan. Artinya, karena trauma atau cedera otak yang ekstrem dan serius, suplai darah tubuh ke otak terhambat dan otak mati. Mati otak adalah kematian dan ini permanen.

Memahami mati otak

Tidak seperti bentuk kehilangan kesadaran lainnya, mati otak melibatkan hilangnya fungsi batang otak secara total. Artinya, sistem pengaktif retikuler—jaringan difus saraf yang menghubungkan sumsum tulang belakang dan otak—telah rusak secara permanen. Ini juga menunjukkan bahwa bagian-bagian otak yang mengatur pernapasan dan aktivitas jantung telah dihancurkan secara permanen, seperti dijelaskan dalam laman Verywell Health.

Mati otak bisa menjadi konsep yang sulit dipahami oleh beberapa orang. Karena banyak orang mengasosiasikan kematian dengan jantung yang berhenti berdetak, maka beberapa, mereka sering mengabaikan fakta bahwa otaklah yang memberikan impuls yang "menjalankan" jantung.

Sementara peralatan life support dapat digunakan untuk mempertahankan pernapasan dan sirkulasi, tidak ada peralatan atau perangkat yang dapat membuat otak tetap bekerja. Pada akhirnya, apabila otak mati, bagian tubuh lainnya juga akan ikut mati.

Perbedaan antara mati otak dan koma

Mati Otak: Penyebab, Diagnosis, Bedanya dengan Komailustrasi otak manusia (pixabay.com/Raman Oza)

Dilansir LifeSource, koma adalah keadaan tidak sadar yang dalam dengan mata tertutup, yang mana seseorang tidak dapat merespons orang atau lingkungan di sekitarnya. Saat mengalami koma, seseorang masih hidup dan terdapat beberapa aktivitas otak. Tergantung tingkat keparahan cedera, waktu pemulihan berbeda-beda dan koma bisa bersifat sementara atau permanen.

Orang yang sedang koma mungkin memiliki respons batang otak, pernapasan spontan, dan/atau tidak membuat gerakan/tidak ada respon motorik sama sekali (non-purposeful motor responses).

Koma memiliki tiga kemungkinan hasil, yaitu perkembangan ke kematian otak, pemulihan kesadaran, atau evolusi ke keadaan kesadaran yang tertekan secara kronis, seperti kondisi vegetatif.

Pasien dalam keadaan koma tidak dipertimbangkan untuk donor organ, mata, atau jaringan.

Di sisi lain, seperti yang sudah disinggung sebelumnya, mati otak adalah kematian. Sudah tidak ada lagi fungsi otak. Mati otak terjadi akibat pembengkakan di otak; aliran darah di otak berhenti dan tanpa darah untuk mengoksidasi sel, jaringan mati. Kondisi ini tidak dapat dibalikkan (ireversibel). Setelah jaringan otak mati, tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki atau memulihkannya.

Otak punya banyak fungsi, termasuk pikiran, gerakan, dan semua fungsi neurologis yang memungkinkan tubuh mempertahankan tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh, hormon, pernapasan, dan lain-lain. Saat kondisi memburuk hingga terjadi mati otak, maka seluruh sistem tubuh berhenti. Seseorang tidak akan lagi bisa bernapas, jantung tak mampu berdetak, dan fungsi tubuh terhenti begitu otak mati. Tindakan medis buatan besar-besaran harus dimulai untuk mempertahankan fungsi organ (seperti dukungan ventilator), tetapi intervensi ini hanya tindakan sementara.

Baca Juga: Koma Miksedema: Gejala, Penyebab, Penanganan

Perbedaan antara mati otak dan kondisi vegetatif

Perbedaan antara kematian otak dan keadaan vegetatif (gangguan kesadaran), yang dapat terjadi setelah kerusakan otak yang luas, adalah bahwa mungkin untuk pulih dari keadaan vegetatif, tetapi kematian otak bersifat permanen, seperti dijelaskan dalam laman National Health Service.

Seseorang dalam keadaan vegetatif masih memiliki batang otak yang berfungsi. Ini artinya:

  • Beberapa bentuk kesadaran mungkin ada.
  • Bernapas tanpa bantuan biasanya dimungkinkan.
  • Ada kemungkinan kecil untuk pulih karena fungsi inti batang otak mungkin tidak terpengaruh.

Seseorang dalam keadaan vegetatif terjaga, tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran. Misalnya, seseorang mungkin membuka mata namun tidak menanggapi lingkungan di sekitarnya.

Dalam kasus yang jarang, seseorang dalam kondisi vegetatif mungkin menunjukkan beberapa rasa respons yang dapat dideteksi menggunakan pemindaian otak, tetapi tidak dapat berinteraksi dengan lingkungannya.

Penyebab

Mati Otak: Penyebab, Diagnosis, Bedanya dengan Komailustrasi dokter memeriksa kondisi pasien yang mengalami mati otak (pexels.com/RODNAE Productions)

Mati otak dapat terjadi ketika suplai darah atau oksigen ke otak terhenti. Ini bisa disebabkan oleh:

  • Henti jantung, kondisi ketika jantung berhenti berdetak dan otak kekurangan oksigen.
  • Serangan jantung, kondisi ketikan suplai darah ke jantung tiba-tiba terhenti.
  • Stroke, ketika suplai darah ke otak tersumbat atau terganggu.
  • Gumpalan darah, yaitu penyumbatan di pembuluh darah yang mengganggu atau memblokir aliran darah ke seluruh tubuh.

Mati otak juga dapat disebabkan oleh:

  • Cedera kepala parah.
  • Pendarahan otak.
  • Infeksi, seperti ensefalitis.
  • Tumor otak.

Cara mengetahui mati otak

Mati otak berarti dokter yang berkompeten, biasanya ahli neurologi, melakukan pemeriksaan fisik ekstensif dan mendokumentasikan kriteria mati otak. Mengutip American Academy of Neurology, ini meliputi:

  • Tidak responsif.
  • Tidak adanya refleks.
  • Apnea (ketidakmampuan bernapas tanpa ventilator).

1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui tingkat ketanggapan. Jika pemeriksaan menunjukkan kurangnya respons, pemeriksaan fisik akan dilanjutkan untuk memeriksa refleks tertentu.

Seseorang yang mati otak tidak akan memiliki refleks batang otak. Misalnya, seseorang yang sedang koma yang tidak mati otak akan mengedipkan mata atau menggerakkan kepalanya jika matanya teriritasi dengan bola kapas. Sementara itu, seseorang yang mati otak tidak dapat berkedip, tersentak, atau mencoba menjauh ketika dokter menyentuh mata mereka dengan sepotong kapas. Oleh karena itu, jika tidak ada refleks berkedip, itu menyiratkan bahwa batang otak tidak berfungsi dengan baik.

Jenis lain dari pengujian fisik adalah tes kalorik dingin. Tes ini dilakukan dengan menggunakan spuit berisi air es dan disuntikkan ke dalam liang telinga. Pasien yang mati otak tidak akan memiliki respons terhadap jenis rangsangan ini, tetapi individu yang memiliki fungsi otak akan memiliki respons, yang dapat berkisar dari gerakan mata hingga muntah.

2. Tes apnea

Seorang pasien yang cukup sakit untuk pengujian kematian otak akan menggunakan ventilator dan tidak dapat bernapas tanpanya. Untuk menguji untuk melihat apakah refleks pernapasan utuh atau tidak ada, ventilator dilepas dalam prosedur yang disebut tes apnea.

Biasanya, gas darah arteri diambil segera sebelum tes apnea dimulai, ketika ventilator dilepas. Oksigen dapat diberikan selama tes apnea, tetapi ventilator tidak dapat digunakan.

Kebanyakan orang, bahkan mereka yang memiliki penyakit parah, akan berusaha menarik napas ketika ventilator dilepas. Namun, seseorang yang mati otak tidak akan bernapas selama tes apnea.

Saat seseorang mati otak, otak tidak dapat mengirim sinyal untuk bernapas dan pernapasan tidak terjadi tanpa dukungan ventilator.

3. Tes lainnya

Setelah penilaian fisik selesai, dokter dapat memilih untuk memesan tes tambahan. Meskipun pemeriksaan fisik dan tes apnea biasanya dilakukan, tetapi beberapa orang yang tidak mati otak tidak dapat menoleransi tes apnea. Dalam kasus tersebut, sering kali studi aliran akan dilakukan. Studi ini dilakukan untuk melihat apakah darah mengalir ke otak melalui aliran darah. Jika penelitian menunjukkan bahwa tidak ada darah yang mencapai otak, tes ini konsisten dengan kematian otak, menurut laporan dalam jurnal Neurology tahun 2010.

Beberapa dokter akan menggunakan electroencephalogram (EEG), yang merupakan tes yang mengukur gelombang otak. Seseorang yang mati otak akan memiliki EEG "datar" karena gelombang otak tidak akan ada.

Atropin, obat resep yang menyebabkan detak jantung meningkat, juga dapat diberikan sebagai tes tambahan untuk mati otak karena tidak efektif pada individu yang mengalami mati otak. Jika detak jantung meningkat, terutama setelah obat diberikan, ini menunjukkan bahwa orang tersebut tidak mati otak.

Mengonfirmasi kematian

Mati Otak: Penyebab, Diagnosis, Bedanya dengan Komailustrasi pasien mengalami mati otak (pexels.com/Anna Shvets)

Saat seseorang dinyatakan mati otak, ini berarti ia secara sah dianggap meninggal dunia. Setelah batang otak berhenti berfungsi secara permanen, tidak ada cara untuk membalikkannya dan jantung pada akhirnya akan berhenti berdetak, bahkan jika ventilator terus digunakan.

Untuk menyelamatkan keluarga atau teman pasien dari penderitaan yang tidak perlu, setelah ada bukti yang jelas bahwa matiotak telah terjadi, orang tersebut akan diputuskan sambungannya dari ventilator.

Sertifikat kematian akan mencerminkan tanggal ketika mati otak dideklarasikan, bukan ketika jantungnya berhenti di lain waktu.

Di beberapa negara, jika seseorang dinyatakan mati otak dan memenuhi kriteria tertentu, donor organ bisa menjadi pilihan. Dalam banyak kasus, individu telah membuat keputusan untuk mendonorkan organnya, misalnya dinyatakan dalam tanda pengenal atau surat wasiat.

Baca Juga: Koma Diabetes: Gejala, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan

Topic:

  • Nurulia

Berita Terkini Lainnya