Referensi
Ling Liang, Janice Y. Kung, and Bradley Mitchelmore, “Comparative Peripheral Edema for Dihydropyridines Calcium Channel Blockers Treatment: A Systematic Review and Network Meta-Analysis,” The Journal of Clinical Hypertension 24, no. 5 (2022): 536–54, https://doi.org/10.1111/jch.14436.
National Library of Medicine, “Amlodipine Besylate Tablet,” DailyMed, diakses 7 Oktober 2026.
Domenic A. Sica, “Calcium Channel Blocker-Related Peripheral Edema: Can It Be Resolved?,” The Journal of Clinical Hypertension 5, no. 4 (2003): 291–95, https://doi.org/10.1111/j.1524-6175.2003.02402.x.
Mayo Clinic, “Leg Swelling: Causes and Definition,” diakses 7 Oktober 2026.
National Health Service, “Side Effects of Perindopril,” diakses 7 Oktober 2026.
Obat Hipertensi Bisa Bikin Kaki Bengkak? Ini Faktanya

Obat hipertensi golongan calcium channel blocker, terutama amlodipine dan nifedipine, dapat memicu bengkak di kaki atau pergelangan kaki; risiko pada amlodipine meningkat seiring dosis.
Bengkak terjadi karena pelebaran pembuluh arteri kecil lebih kuat daripada vena, sehingga cairan masuk ke jaringan. Namun, penyebabnya juga bisa terkait jantung, ginjal, vena, atau obat lain.
Jika bengkak muncul setelah obat atau perubahan dosis, hubungi dokter dan jangan menghentikan obat sendiri. Segera cari bantuan bila disertai nyeri dada, sesak, atau satu kaki mendadak bengkak.
Take a Deeper Reads

Seseorang yang rutin minum obat tekanan darah mungkin menyadari pergelangan kakinya tampak lebih bengkak menjelang sore. Sepatu terasa sempit, sementara kulit di sekitar mata kaki meninggalkan bekas saat ditekan. Wajar jika muncul pertanyaan apakah penyebabnya efek obat?
Jawabannya, bisa. Akan tetapi, kaki bengkak tidak selalu karena obat. Kondisi jantung, ginjal, pembuluh darah, dan obat lain juga dapat memicu keluhan serupa.
Table of Content
Obat hipertensi yang bisa menyebabkan kaki bengkak
Calcium channel blocker (CCB) membantu menurunkan tekanan darah dengan melemaskan pembuluh darah. Amlodipine dan nifedipine termasuk obat yang cukup dikenal dalam golongan ini.
Dalam tinjauan sistematis dan metaanalisis terhadap 71 uji klinis dengan total 56.283 peserta, nifedipine menempati peringkat tertinggi untuk risiko edema (pembengkakan) di antara obat-obat CCB dihidropiridin yang diteliti.
Label obat amlodipine yang tercatat di DailyMed, basis data informasi obat dari National Library of Medicine Amerika Serikat, juga menyebut edema sebagai efek samping yang meningkat seiring dosis. Dalam uji terkontrol yang dicantumkan di label itu, edema dilaporkan pada 1,8 persen peserta yang mendapat dosis 2,5 mg, 3 persen pada dosis 5 mg, dan 10,8 persen pada dosis 10 mg. Pada kelompok plasebo, angkanya 0,6 persen.
Mengapa obat bisa menyebabkan kaki bengkak?

ilustrasi pria minum obat hipertensi (pexels.com/Towfiqu barbhuiya) Pada CCB seperti amlodipine, pembuluh arteri kecil dapat melebar lebih kuat daripada pembuluh vena yang membawa darah kembali dari kaki. Perbedaan ini meningkatkan tekanan di pembuluh kapiler. Sebagian cairan lalu bergerak keluar dari pembuluh dan terkumpul di jaringan sekitar, termasuk di kaki dan pergelangan kaki.
Karena itu, bengkak akibat CCB tidak selalu terjadi karena tubuh menahan terlalu banyak garam dan air. Bengkak dapat lebih terasa setelah seseorang lama berdiri atau duduk, dan cenderung tampak menjelang akhir hari. Pada amlodipine, risiko edema juga meningkat seiring dosis.
Kaki bengkak belum tentu efek obat
Pembengkakan pada kaki bisa disebabkan banyak hal. Di antaranya gangguan aliran darah di pembuluh vena, penggumpalan darah, gangguan jantung atau ginjal, penyakit hati, kehamilan, dan duduk atau berdiri lama. Beberapa obat lain, termasuk obat nyeri tertentu seperti ibuprofen atau naproxen, juga dapat berkaitan dengan kaki bengkak.
Karena itu, catat kapan bengkak mulai muncul, apakah terjadi setelah obat baru dimulai atau dosisnya diubah, dan apakah bengkaknya mengenai satu atau kedua kaki. Informasi ini dapat membantu dokter menilai kemungkinan penyebabnya.
Bengkak akibat obat bisa tampak serupa dengan bengkak akibat gangguan ginjal atau penyebab lain, sehingga tidak selalu bisa dibedakan hanya dari penampilannya.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Jika kaki mulai bengkak setelah mulai minum obat hipertensi atau setelah dosisnya berubah, hubungi dokter yang meresepkan obat.
Dokter dapat menilai obat yang digunakan, memeriksa kemungkinan penyebab lain, lalu mempertimbangkan penyesuaian dosis atau pilihan pengobatan.
Jangan menghentikan obat tekanan darah sendiri. Mengubah pengobatan tanpa arahan dokter bisa mengganggu pengelolaan tekanan darah.
Jangan pula menambah obat pelancar kencing atau diuretik tanpa petunjuk tenaga kesehatan. Pada edema akibat CCB, mekanismenya tidak selalu sama dengan kelebihan cairan dalam tubuh. Penggunaan diuretik yang tidak tepat dapat membawa risiko lain.
Kapan kaki bengkak perlu segera diperiksa oleh dokter?

ilustrasi dokter memeriksa pasien (pexels.com/Pavel Danilyuk) Cari pertolongan medis segera jika satu kaki tiba-tiba membengkak, terutama jika disertai nyeri, terasa dingin, atau tampak pucat. Bengkak yang disertai nyeri dada, sulit bernapas, sesak saat berbaring, pingsan, pusing berat, atau batuk berdarah juga perlu ditangani sebagai keadaan darurat. Gejala-gejala tersebut dapat menandakan masalah serius, termasuk bekuan darah atau gangguan jantung.
Ada pula jenis pembengkakan yang berbeda dari bengkak di pergelangan kaki, yaitu pembengkakan mendadak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan. Ini dapat menjadi tanda angioedema, reaksi serius yang dalam beberapa kasus berkaitan dengan obat hipertensi golongan ACE inhibitor, seperti perindopril. Jika pembengkakan mengganggu napas atau menelan, cari pertolongan darurat.
Jadi, obat hipertensi tertentu bisa menyebabkan kaki bengkak, terutama amlodipine dan nifedipine. Namun, jangan langsung menyimpulkan obat sebagai penyebabnya. Catat perubahan gejala dan diskusikan dengan dokter agar penyebabnya dinilai dan pengobatan tekanan darah tetap aman.























