National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), “High Blood Pressure & Kidney Disease,” diakses Oktober 2026.
National Kidney Foundation, “ACE Inhibitors and ARBs,” diakses Oktober 2026.
Elaine Ku et al., “Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors or Angiotensin-Receptor Blockers for Advanced Chronic Kidney Disease: A Systematic Review and Retrospective Individual Participant-Level Meta-Analysis of Clinical Trials,” Annals of Internal Medicine 177, no. 7 (2024): 953–963, https://doi.org/10.7326/M23-3236.
KDIGO CKD Work Group, “KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease,” Kidney International 105, suppl. 4 (2024): S117–S314, diakses Oktober 2026.
NIDDK, “Keeping Kidneys Safe: Smart Choices about Medicines,” diakses Oktober 2026.
American Kidney Fund, “Diuretics,” diakses Oktober 2026.
NIDDK, “Keeping Kidneys Safe,” diakses Oktober 2026.
Minum Obat Darah Tinggi Bisa Merusak Ginjal? Cek Faktanya

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak ginjal. Obatnya justru membantu mengendalikan risiko tersebut.
Obat ACE inhibitor dan ARB dapat melindungi ginjal, meski kadang membuat hasil kreatinin atau eGFR sedikit berubah pada awal pengobatan.
Dehidrasi, penyakit ginjal, dan interaksi dengan obat lain dapat mengubah risikonya. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat sendiri.
Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali perlu dikendalikan dengan obat untuk menurunkan risiko komplikasi serius, seperti stroke, serangan jantung, dan gagal jantung. Namun, tidak sedikit pasien yang khawatir ketika harus mengonsumsi obat hipertensi dalam jangka panjang. Salah satu kekhawatirannya adalah anggapan bahwa obat hipertensi dapat merusak ginjal.
Kekhawatiran ini biasanya muncul karena sebagian orang melihat perubahan hasil pemeriksaan fungsi ginjal setelah mulai minum obat, atau mendengar pengalaman orang lain yang mengalami gangguan ginjal. Sebelum percaya mentah-mentah, yuk pahami dulu bagaimana tekanan darah tinggi memengaruhi ginjal dan bagaimana obat hipertensi bekerja di dalam tubuh.
Table of Content
1. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat merusak ginjal
Ginjal menyaring darah melalui pembuluh-pembuluh kecil. Tekanan darah yang terus tinggi dapat membebani dan merusak pembuluh tersebut, sehingga kemampuan ginjal menyaring darah ikut menurun. Karena itu, mengendalikan tekanan darah sangat penting untuk mencegah atau memperlambat penyakit ginjal.
2. Sejumlah obat hipertensi justru membantu melindungi ginjal
Obat golongan ACE inhibitor dan ARB—yang nama generiknya sering berakhiran -pril atau -sartan, seperti ramipril dan losartan—dapat menurunkan tekanan darah sekaligus mengurangi tekanan pada saringan ginjal. Pada sebagian orang dengan penyakit ginjal, obat-obat ini juga membantu mengurangi protein dalam urine dan memperlambat penurunan fungsi ginjal.
Tinjauan sistematis dan metaanalisis pada 2024, yang menggabungkan data 1.739 pasien dengan penyakit ginjal kronis lanjut dari 18 uji klinis, menemukan bahwa penggunaan ACE inhibitor atau ARB dikaitkan dengan risiko lebih rendah mengalami gagal ginjal yang memerlukan dialisis atau transplantasi.
3. Perubahan kreatinin belum tentu berarti ginjal rusak

ilustrasi ginjal (IDN Times/Aditya Pratama) Pada sebagian pasien, ACE inhibitor atau ARB dapat menyebabkan perubahan kecil pada eGFR—perkiraan kemampuan ginjal menyaring darah—atau kenaikan kreatinin setelah obat dimulai. Hal itu bisa terjadi karena obat mengurangi tekanan di dalam saringan ginjal. Perubahan kecil pada awal pengobatan tidak otomatis menandakan kerusakan yang terus memburuk.
Akan tetapi, hasil tes perlu dinilai oleh dokter. Pedoman KDIGO 2024 menyarankan pemantauan tekanan darah, kreatinin, dan kalium dalam 2–4 minggu setelah ACE inhibitor atau ARB dimulai atau dosisnya dinaikkan pada pasien dengan penyakit ginjal kronis. Pedoman itu juga menyebut kenaikan kreatinin lebih dari 30 persen dalam empat minggu perlu dievaluasi oleh dokter.
4. Risiko dapat berubah saat dehidrasi atau memakai obat lain
Kondisi seperti muntah, diare, atau sulit minum dapat menyebabkan dehidrasi dan menurunkan aliran darah ke ginjal. Dalam situasi tertentu, obat tekanan darah dapat ikut memengaruhi kemampuan ginjal menyaring darah. Obat diuretik, yang membantu tubuh membuang garam dan cairan, juga perlu digunakan sesuai dosis serta kondisi pasien.
Perhatikan juga obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau naproksen. Obat golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS/NSAID) ini bukan obat hipertensi, tetapi dapat berisiko bagi ginjal, terutama jika digunakan lama atau saat tubuh kekurangan cairan. Sampaikan kepada dokter atau apoteker semua obat dan suplemen yang dikonsumsi, termasuk yang dijual bebas.
5. Jangan menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter
Apabila hasil tes ginjal berubah, dokter dapat menilai tekanan darah, kreatinin, eGFR, kadar kalium, kondisi hidrasi, serta obat lain yang digunakan.
Kalau sedang muntah dan diare, tanyakan kepada dokter atau apoteker apakah ada langkah khusus untuk obat yang diminum.
Jangan mengubah dosis atau berhenti minum obat tanpa arahan dokter yang merawat.
Referensi
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)







![[QUIZ] Dari Caramu Mendinginkan Diri saat Terik, Kami Tahu Masalah Kesehatan yang Mengintaimu!](https://image.idntimes.com/post/20231128/pexels-mauricio-mascaro-907865-2c8f1bbcaa89d9b6228fec9cc7e8026d-e1ab1b5bc3187ee440e7ad7b1a8c77aa.jpg)














