Tongkol jagung menyimpan berbagai senyawa bioaktif, termasuk:
Dalam literatur ilmiah, resveratrol telah diteliti bertahun-tahun dan ditemukan dapat:
Menghambat pertumbuhan sel kanker.
Memicu apoptosis (bunuh diri sel abnormal).
Menghambat penyebaran sel ganas.
Bekerja pada jalur molekuler penting seperti p53, caspase, dan p21.
Temuan ini mendorong para peneliti Universitas Airlangga untuk menggali potensi tongkol jagung lebih jauh, khususnya terhadap kanker payudara.
Dalam studi yang dipublikasikan dalam Asian Pacific Journal of Cancer Prevention (APJCP, 2025) ini, para peneliti menggunakan tikus Sprague Dawley yang diinduksi kanker payudara menggunakan 7,12-dimethylbenz(a)anthracene (DMBA), suatu karsinogen kimia yang digunakan untuk menginduksi kanker payudara pada model hewan. Mereka kemudian memberikan ekstrak tongkol jagung dalam dua dosis, yaitu 200 mg/kg dan 250 mg/kg.
Dua indikator utama yang dievaluasi:
Ki-67, penanda seberapa cepat sel kanker membelah
Hasilnya, ekstrak tongkol jagung tidak menurunkan Ki-67 secara signifikan. Artinya, belum ada bukti kuat bahwa tongkol jagung menghambat proliferasi (perbanyakan) sel kanker pada model hewan ini.
Caspase-3, penanda apoptosis (kematian sel kanker)
Hasilnya, ekstrak tongkol jagung meningkatkan ekspresi caspase-3 dengan signifikan, terutama pada dosis 250 mg/kg. Ini menunjukkan bahwa ekstrak tongkol jagung dapat mendorong proses bunuh diri sel kanker, salah satu mekanisme utama dalam terapi anti kanker.
Temuan ini diperkuat studi internasional yang menunjukkan bahwa ekstrak tongkol jagung dapat mengganggu metabolisme sel kanker, meningkatkan stres oksidatif terkontrol, mengaktivasi caspase, serta memicu kematian sel.