Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tren Makan Mentega atau Margarin Utuh, Apa Risikonya?
ilustrasi mentega (pexels.com/ Felicity Tai)
  • Mentega dan margarin sama-sama padat energi. Menggigitnya langsung bukan otomatis berbahaya, tetapi makan banyak sekaligus membuat asupan lemak dan energi cepat bertambah.

  • Porsi besar dapat menimbulkan begah atau mual. Pada orang dengan batu empedu, makanan tinggi lemak juga bisa memicu nyeri.

  • Mentega umumnya lebih tinggi lemak jenuh, sedangkan kandungan margarin bervariasi. Perhatikan komposisi lemak pada label produk.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Satu balok mentega atau margarin biasanya dipakai sedikit demi sedikit sebagai olesan atau bahan masakan. Namun, di media sosial, ada orang yang menggigitnya langsung dari kemasan, kadang dalam jumlah besar, sebagai tantangan atau konten.

Makan mentega atau margarin tanpa dimasak tidak otomatis berbahaya karena memang biasa dimakan sebagai olesan. Hal yang perlu diperhatikan dalam tren ini adalah jumlah yang masuk sekaligus. Produk tersebut mengandung banyak lemak dalam porsi kecil, sehingga asupan energi dapat bertambah cepat.

Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Prof. Dr. Ir. Sri Anna Marliyati, M.Si., mengingatkan bahwa keduanya bukan makanan yang perlu dikonsumsi langsung dalam jumlah banyak.

“Margarin merupakan sumber lemak yang sangat padat energi. Satu gram lemak menghasilkan sekitar 9 Kkal, sehingga konsumsi langsung dalam jumlah banyak dapat dengan cepat meningkatkan asupan energi,” jelasnya, mengutip laman resmi IPB University.

1. Lemak dan energi bisa bertambah cepat

Satu gram lemak menyediakan sekitar 9 kilokalori. Namun, karena mentega dan margarin tinggi lemak, menggigitnya langsung dari balok bisa membuat orang sulit memperkirakan porsinya.

Satu kali mencoba dalam jumlah kecil tidak serta-merta menyebabkan penyakit. Perhatian lebih besar tertuju pada kebiasaan mengonsumsi porsi besar atau mengulanginya, terutama jika asupan energi dari makanan secara keseluruhan terus melebihi kebutuhan tubuh.

2. Porsi besar dapat membuat perut tidak nyaman

ilustrasi mentega (unsplash.com/Sorin Gheorghita)

Makanan tinggi lemak dapat memperlambat pengosongan lambung. Setelah memakannya dalam jumlah banyak, seseorang bisa merasa sangat kenyang, begah, atau mual.

Prof. Sri juga menjelaskan bahwa makanan berlemak merangsang kontraksi kandung empedu. Pada orang dengan batu empedu atau gangguan kandung empedu, ini dapat memicu nyeri atau rasa tidak nyaman di perut.

Tidak berarti setiap orang yang mencicipi sedikit mentega atau margarin akan mengalami efek tersebut. Kemungkinan dan tingkat ketidaknyamanan bisa berbeda, antara lain bergantung pada jumlah yang dimakan dan kondisi kesehatan seseorang.

3. Kenaikan kadar lemak darah

Setelah makanan berlemak dikonsumsi, kadar trigliserida dalam darah dapat meningkat sementara (postprandial lipemia atau peningkatan lemak darah setelah makan. Kenaikan sementara berbeda dengan diagnosis gangguan lemak darah dan tidak membuktikan bahwa satu kali makan langsung menyebabkan penyakit jantung.

Sebagai konteks, tinjauan sistematis tentang sekali makan tinggi lemak dan rendah karbohidrat menunjukkan respons lemak darah setelah makan dapat berlangsung hingga beberapa jam. Namun, temuan antarstudi tidak seragam. Para penulis menyebut bukti tersebut belum cukup untuk memastikan kaitannya dengan dampak kesehatan jangka panjang.

Dalam jangka panjang, komposisi lemak dan pola makan keseluruhan lebih penting daripada satu gigitan. Lemak jenuh—yang lebih banyak terdapat pada mentega—dapat meningkatkan kolesterol LDL jika dikonsumsi berlebihan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar lemak jenuh menyumbang tidak lebih dari 10 persen energi harian, sementara lemak trans tidak lebih dari 1 persen.

Kamu juga disarankan untuk mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dari sumber nabati. Mengganti lemak jenuh dengan pilihan lemak tak jenuh dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

4. Komposisi margarin dan mentega berbeda

Mentega berasal dari lemak susu dan umumnya mengandung lebih banyak lemak jenuh. Sementara itu, margarin dibuat dari minyak nabati, tetapi kandungannya bergantung pada bahan dan cara pengolahannya.

Margarin lunak berbahan minyak nabati biasanya mengandung lebih banyak lemak tak jenuh dibanding mentega, sementara beberapa produk margarin padat dapat memiliki komposisi berbeda.

Jadi, margarin tidak mutlak lebih buruk atau lebih baik. Selalu cek informasi nilai gizi dan komposisi produk, termasuk kandungan lemak jenuh dan trans. Hindari lemak trans yang diproduksi secara industri. Lemak jenis ini pernah digunakan dalam sejumlah minyak dan produk oles, tetapi kandungannya berbeda-beda menurut produk dan proses pembuatannya.

Bagi orang dengan gangguan kadar lemak darah, penyakit jantung koroner, obesitas, perlemakan hati, diabetes yang disertai gangguan lemak darah, atau riwayat batu empedu, Prof. Sri Anna menyarankan konsumsi mentega dan margarin lebih diperhatikan. Apabila memiliki kondisi tersebut, ikuti anjuran dokter yang memahami riwayat kesehatan dan pola makan pribadi.

Mentega dan margarin masih dapat dikonsumsi secukupnya sebagai bagian dari makanan. Kalau mengunyahnya langsung dalam bentuk balok, risikonya terutama muncul ketika dikonsumsi dalam jumlah banyak atau merupakan kebiasaan berulang.

Referensi

IPB University, “Tren Makan Mentega dan Margarin Langsung, Pakar IPB University Ingatkan Risiko Konsumsi Berlebih,” diakses 10 Oktober 2026.

World Health Organization, “Healthy Diet,” diakses 10 Oktober 2026.

Megan L. Wilson et al., “Effects of Single Low-Carbohydrate, High-Fat Meal Consumption on Postprandial Lipemia and Markers of Endothelial Dysfunction: A Systematic Review of Current Evidence,” Nutrition Reviews 83, no. 3 (2025): e1049–e1067.

American Heart Association, “Saturated Fats,” diakses 10 Oktober 2026.

World Health Organization, “Trans Fat,” diakses 10 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article

Apa Itu Pneumonic Plage?10 Oct 2026, 20:38 WIB