Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Aturan Pakai Celana Dalam yang Sehat dan Benar, Jarang Dibahas

Aturan Pakai Celana Dalam yang Sehat dan Benar, Jarang Dibahas
Ilustrasi celana dalam dijemur (pexels.com/www.kaboompics.com)
Intinya Sih
Sisi Positif
  • Bahan, kebersihan, dan cara pemakaian celana dalam berpengaruh langsung pada kesehatan kulit dan area genital.

  • Kelembapan dan sirkulasi udara adalah faktor utama yang menentukan risiko infeksi dan iritasi.

  • Kebiasaan sederhana seperti mengganti celana dalam secara rutin dan memilih ukuran yang tepat dapat mencegah berbagai masalah kesehatan.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Ada hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari tanpa banyak dipikirkan, termasuk memilih dan memakai celana dalam. Di balik fungsi dasarnya untuk melindungi dan memberi kenyamanan, ternyata ada peran penting celana dalam yang berkaitan dengan kesehatan kulit dan area genital.

Area yang tertutup celana dalam adalah lingkungan yang hangat dan lembap. Kondisi ini membuatnya rentan terhadap pertumbuhan bakteri dan jamur jika tidak dirawat dengan benar. Karena itu, cara memilih, memakai, dan merawat celana dalam sebenarnya memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang sering disadari.

Walau terdengar sepele, tetapi memperhatikan kesehatan celana dalam itu penting. Ini karena organ vital sangat sensitif dan rentan mengalami iritasi. Tidak ingin itu terjadi, kan? Maka dari itu, kenali apa saja aturan pakai celana dalam yang sehat dan benar di bawah ini.

Table of Content

1. Pilih celana dalam berbahan katun

1. Pilih celana dalam berbahan katun

Kain yang tidak menyerap keringat atau tidak memiliki sirkulasi udara yang baik dapat menciptakan lingkungan lembap, yang merupakan kondisi ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme.

Para ahli merekomendasikan penggunaan bahan seperti katun karena mampu menyerap kelembapan dan memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik. Ini membantu menjaga area genital tetap kering dan mengurangi risiko iritasi serta infeksi jamur.

Penelitian menunjukkan, lingkungan lembap di area genital meningkatkan risiko pertumbuhan Candida, jamur penyebab infeksi. Bahan sintetis yang tidak menyerap keringat dapat memperburuk kondisi ini.

Meski bahan sintetis seperti nilon atau spandeks terasa elastis dan pas, tetapi penggunaannya dalam waktu lama, terutama saat cuaca panas atau aktivitas tinggi, dapat meningkatkan kelembapan. Karena itu, memilih bahan yang “bernapas” dapat menjadi bagian dari langkah pencegahan.

2. Gunakan ukuran yang tepat, tidak terlalu ketat

Tumpukan celana dalam laki-laki model bokser berwarna hitam, biru, dan abu-abu dengan motif garis di atas permukaan putih.
ilustrasi tumpukan celana dalam laki-laki bokser (freepik.com/mrsiraphol)

Banyak orang memilih celana dalam yang lebih ketat karena dianggap lebih rapi atau nyaman, padahal tekanan berlebih dapat berdampak pada kulit dan sirkulasi.

Celana dalam yang terlalu ketat dapat menyebabkan gesekan terus-menerus pada kulit, yang memicu iritasi, lecet, bahkan peradangan. Dalam jangka panjang, gesekan ini juga dapat mengganggu keseimbangan mikrobiota alami di area genital.

Pakaian ketat, termasuk pakaian dalam, dapat meningkatkan kelembapan dan panas lokal, yang berkontribusi pada infeksi jamur.

Selain itu, tekanan dari pakaian ketat dapat memperburuk kondisi tertentu, seperti iritasi kulit atau folikulitis. Dalam beberapa kasus, gesekan berulang juga dapat menyebabkan hiperpigmentasi atau perubahan warna kulit di area lipatan.

3. Ganti celana dalam secara teratur

Celana dalam bersentuhan langsung dengan keringat, cairan tubuh, dan bakteri dari kulit. Karena itu, menggantinya secara rutin tak bisa ditawar.

Para ahli menekankan pentingnya menjaga kebersihan area genital untuk mencegah infeksi. Salah satu langkah paling dasar adalah memastikan pakaian dalam selalu bersih dan kering.

Dalam kondisi tertentu—misalnya setelah olahraga, berkeringat banyak, atau cuaca panas—celana dalam sebaiknya diganti lebih dari sekali sehari. Kelembapan yang berkepanjangan meningkatkan risiko pertumbuhan jamur dan bakteri.

Menggunakan kembali celana dalam yang sudah lembap atau kotor, bahkan untuk waktu singkat, dapat meningkatkan risiko iritasi. Kebiasaan sederhana ini sering terlihat sepele, tetapi dampaknya bisa signifikan terhadap kesehatan.

4. Hindari pemakaian terlalu lama dalam kondisi lembap

Seorang perempuan berlari mengenakan jaket biru dan celana olahraga abu-abu sambil tersenyum menikmati udara segar.
ilustrasi lari (freepik.com/Drazen Zigic)

Kelembapan adalah musuh utama kesehatan area genital. Celana dalam yang basah oleh keringat atau air menciptakan lingkungan ideal bagi mikroorganisme. Menjaga area genital tetap kering adalah langkah penting untuk mencegah infeksi jamur dan iritasi kulit.

Jamur seperti Candida berkembang lebih cepat dalam kondisi hangat dan lembap. Karena itu, membiarkan celana dalam basah terlalu lama dapat meningkatkan risiko infeksi.

Kebiasaan seperti tidak segera mengganti pakaian setelah olahraga atau duduk lama dengan pakaian lembap dapat memperpanjang paparan terhadap kondisi ini. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memicu masalah berulang.

5. Cuci dengan benar

Cara mencuci celana dalam juga memengaruhi kesehatan. Sisa detergen, bakteri, atau jamur yang tidak hilang sepenuhnya dapat menyebabkan iritasi.

Penggunaan detergen yang lembut dan membilas pakaian secara menyeluruh untuk menghindari residu yang dapat mengiritasi kulit.

Selain itu, mencuci dengan air hangat dan mengeringkan hingga benar-benar kering membantu mengurangi jumlah mikroorganisme. Proses pengeringan yang tidak sempurna dapat memungkinkan bakteri tetap bertahan.

Menggunakan pelembut pakaian atau pewangi berlebih juga perlu dihindari, terutama bagi individu dengan kulit sensitif. Bahan kimia tambahan dapat memicu reaksi iritasi atau alergi.

Celana dalam mungkin terlihat sebagai bagian kecil dari rutinitas sehari-hari, tetapi perannya dalam menjaga kesehatan tidak bisa diabaikan. Bahan yang tepat, ukuran yang sesuai, serta kebersihan yang terjaga dapat membantu mencegah berbagai masalah, mulai dari iritasi ringan hingga infeksi.

Kebiasaan sederhana seperti mengganti celana dalam tepat waktu dan menjaga area tetap kering adalah bentuk perawatan diri yang sering terlupakan, yang mendukung kesehatan jangka panjang.

Referensi

American College of Obstetricians and Gynecologists. “Vulvovaginal Health.” Diakses April 2026.

Mayo Clinic. “Yeast Infection (Vaginal) – Symptoms and Causes.” Diakses April 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Genital Candidiasis.” Diakses April 2026.

National Health Service. “Vaginal Thrush.” Diakses April 2026.

Peter G. Pappas et al., “Clinical Practice Guideline for the Management of Candidiasis: 2016 Update by the Infectious Diseases Society of America,” Clinical Infectious Diseases 62, no. 4 (December 16, 2015): e1–50, https://doi.org/10.1093/cid/civ933.

American Academy of Dermatology. “Sensitive Skin Care.” Diakses April 2026.

Jack D Sobel, “Vulvovaginal Candidosis,” The Lancet 369, no. 9577 (June 1, 2007): 1961–71, https://doi.org/10.1016/s0140-6736(07)60917-9.

Valentina Sustr et al., “Vulvovaginal Candidosis: Current Concepts, Challenges and Perspectives,” Journal of Fungi 6, no. 4 (November 7, 2020): 267, https://doi.org/10.3390/jof6040267.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bayu D. Wicaksono
Nuruliar F
3+
Bayu D. Wicaksono
EditorBayu D. Wicaksono
Follow Us

Related Articles

See More