Referensi
Andrew J. Clegg, James E. Hill, Donncha S. Mullin, Catherine Harris, Chris J. Smith, C. Elizabeth Lightbody, Kerry Dwan, Gary M. Cooney, Gillian E. Mead, and Caroline L. Watkins, “Exercise for Depression,” Cochrane Database of Systematic Reviews, no. 1 (2026): CD004366, https://doi.org/10.1002/14651858.CD004366.pub7.
Rosana Carvalho Silva, Mattia Meattini, Giulia Perusi, Sara Carletto, Marco Bortolomasi, Massimo Gennarelli, Bernhard T. Baune, and Alessandra Minelli, “Disentangling the Biological Mechanisms Underlying the Effects of Physical Exercise in Major Depressive Disorder: A Comprehensive Systematic Review of Randomized Controlled Trials,” Psychological Medicine 55 (2025): e197, https://doi.org/10.1017/S0033291725100743.
National Institute for Health and Care Excellence, Depression in Adults: Treatment and Management, guideline NG222, recommendation 1.4.40 (2022), diakses 10 Oktober 2026.
Michael Noetel, Taren Sanders, Daniel Gallardo-Gómez, et al., “Effect of Exercise for Depression: Systematic Review and Network Meta-Analysis of Randomised Controlled Trials,” BMJ 384 (2024): e075847, https://doi.org/10.1136/bmj-2023-075847.
World Health Organization, "WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour," diakses 10 Oktober 2026.
Peran Olahraga dalam Membantu Meredakan Depresi

Rutin berolahraga bisa membantu mengelola stres mental dan emosional sehari-hari, dan ini mungkin akan memudahkan untuk mengatasi beberapa gejala depresi.
Berolahraga bisa membantu mengalihkan perhatian dari pikiran dan perasaan sedih, meskipun hanya sementara. Saat berolahraga, kamu punya waktu untuk menenangkan pikiran dan fokus pada gerakan tubuhmu.
Karena dukungan sosial yang kuat penting bagi orang dengan depresi, mengikuti kelas olahraga kelompok mungkin bermanfaat.
Saat depresi membuat energi dan minat terhadap banyak hal menurun, berolahraga bisa terasa seperti tugas tambahan. Penelitian menunjukkan olahraga dapat membantu mengurangi gejala depresi pada sebagian orang. Namun, manfaatnya tidak selalu sama dan belum menjadikannya pengganti otomatis untuk psikoterapi atau obat.
Berikut lima peran olahraga yang didukung bukti untuk membantu meredakan depresi.
Table of Content
1. Dapat membantu mengurangi gejala depresi
Tinjauan Cochrane yang terbit pada 2026 merangkum 73 uji klinis acak yang melibatkan hampir 5.000 orang dewasa dengan depresi. Hasilnya menunjukkan olahraga dapat mengurangi gejala depresi secara moderat dibandingkan tanpa terapi atau intervensi kontrol. Namun, banyak penelitian berskala kecil atau memiliki keterbatasan metode, sedangkan hanya sedikit yang mengikuti peserta dalam jangka panjang.
Artinya, olahraga berpotensi membantu, tetapi tidak menjamin gejala setiap orang akan hilang. Perubahan yang dirasakan pun tidak selalu langsung muncul.
2. Bisa menjadi bagian dari perawatan, tetapi belum terbukti menggantikan terapi
Tinjauan yang sama membandingkan olahraga dengan psikoterapi dan obat antidepresan. Hasilnya menunjukkan kemungkinan hanya sedikit atau tidak ada perbedaan dalam penurunan gejala. Namun, kesimpulan tentang perbandingan dengan obat didasarkan pada sedikit penelitian dan bukti yang kepastiannya rendah. Manfaat terhadap kualitas hidup juga belum konsisten.
Olahraga tentu tidak dapat menggantikan obat atau psikoterapi. Pilihan perawatan perlu disesuaikan dengan kondisi dan dibicarakan bersama tenaga kesehatan. Jika kamu sedang menggunakan obat antidepresan, jangan menghentikan atau mengubah dosisnya tanpa berkonsultasi dengan dokter.
3. Ada beberapa kemungkinan jalur kerja di otak dan tubuh

ilustrasi berlari bersama teman-teman (Unsplash/Fitsum Admasu) Para peneliti masih berusaha memahami bagaimana olahraga dapat membantu mengurangi gejala depresi. Sebuah tinjauan terhadap 30 penelitian yang melibatkan 2.194 orang dewasa menemukan perubahan pada berbagai proses di dalam tubuh, seperti peradangan, hormon stres, serta zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin. Namun, belum ada satu mekanisme yang terbukti dapat menjelaskan seluruh manfaat olahraga.
Tubuh merespons olahraga melalui banyak proses yang saling berkaitan, dan hubungan antara perubahan-perubahan tersebut dengan perbaikan gejala depresi masih terus diteliti.
4. Dapat mendukung kesejahteraan dan memberi struktur pada hari
Rutinitas sederhana, seperti berjalan kaki, ikut kelas pilates, main padel, atau berolahraga di gym pada waktu yang sama setiap minggu dapat membantu membangun keseharian yang lebih teratur. Bagi sebagian orang, bergerak di luar rumah atau berolahraga bersama juga menjadi kesempatan untuk terhubung dengan orang lain dan mengurangi rasa terisolasi.
Aktivitas fisik seperti berjalan, berenang, menari, atau berkebun dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Manfaat ini mungkin lebih besar jika dilakukan di luar ruangan.
5. Pilih aktivitas yang memungkinkan untuk dijalani
Penelitian yang terbit pada 2024 menunjukkan bahwa beberapa jenis olahraga, seperti jalan kaki atau joging, yoga, latihan kekuatan, serta taici atau qigong, berkaitan dengan penurunan gejala depresi. Namun, kualitas bukti yang tersedia masih terbatas sehingga belum bisa dipastikan jenis olahraga mana yang paling efektif.
Jadi, tidak ada satu jenis olahraga yang cocok untuk semua orang. Yang terpenting adalah memilih aktivitas yang terasa nyaman dan bisa dilakukan secara bertahap. WHO menyarankan orang dewasa untuk rutin melakukan aktivitas fisik aerobik dan latihan penguatan otot setiap minggu sebagai bagian dari gaya hidup sehat.
Walaupun dapat membantu, tetapi olahraga bukan satu-satunya cara untuk menangani depresi. Jika gejala terus berlanjut atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan mental. Olahraga dapat menjadi salah satu bagian dari rencana perawatan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing orang.























