Selain fungsi kognitif, membaca untuk kesenangan dikaitkan dengan stres yang lebih rendah, empati yang lebih baik, dan rasa kesepian yang berkurang. Membaca bersama anak atau mengikuti klub buku juga dapat menambah interaksi sosial.
Meski demikian, bukti mengenai manfaat emosional tersebut sebagian berasal dari survei berdasarkan pengalaman pribadi. Hasilnya dapat dipengaruhi oleh kebiasaan, minat, dan kondisi sosial orang yang mengikuti survei. Karena itu, membaca tidak dapat dianggap sebagai pengganti psikoterapi atau pengobatan untuk depresi dan gangguan mental lainnya.
Membaca juga bukan cara tunggal untuk menjaga kesehatan otak. Tidur cukup, aktivitas fisik rutin, hubungan sosial, pengelolaan tekanan darah dan diabetes, serta pemeriksaan kesehatan tetap berperan penting.
Kesimpulannya, penelitian menunjukkan bahwa membaca untuk kesenangan memiliki hubungan yang konsisten dengan kemampuan kognitif, kesejahteraan mental, dan penurunan fungsi otak yang lebih lambat. Kebiasaan ini dapat dimulai dari bacaan yang disukai.
Referensi
Barbara J. Sahakian, Vicki Perrin, and Christelle Langley, “Reading and Associations with Brain Health, Cognition, Well-Being, and Mental Health,” Psychological Medicine 56 (2026): e262, 1–5, https://doi.org/10.1017/S0033291726105625.
Yun-Jun Sun et al., “Early-Initiated Childhood Reading for Pleasure: Associations with Better Cognitive Performance, Mental Well-Being and Brain Structure in Young Adolescence,” Psychological Medicine 54, no. 2 (2024): 359–373, https://doi.org/10.1017/S0033291723001381.
Yu-Hung Chang, I-Chien Wu, and Chao A. Hsiung, “Reading Activity Prevents Long-Term Decline in Cognitive Function in Older People: Evidence from a 14-Year Longitudinal Study,” International Psychogeriatrics 33, no. 1 (2021): 63–74, https://doi.org/10.1017/S1041610220000812.
Y. Wang et al., “Reading Activities Compensate for Low Education-Related Cognitive Deficits,” Alzheimer’s Research & Therapy 14, no. 1 (2022): 156, https://doi.org/10.1186/s13195-022-01098-1.