Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Stevia untuk Diabetes, Berapa Batas Aman per Hari?

3 min read
Stevia untuk Diabetes, Berapa Batas Aman per Hari?
ilustrasi stevia dalam bentuk cair (magnific.com/magnific)
  • JECFA menetapkan ADI steviol glikosida 0–4 mg per kg berat badan per hari, dihitung sebagai ekuivalen steviol. Tidak ada batas harian khusus untuk diabetes.

  • Angka itu bukan berat bubuk stevia atau jumlah sachet. Bentuk dan campuran produk berbeda-beda, jadi cek komposisi serta informasi gizinya.

  • Stevia dapat menggantikan gula untuk mengurangi asupan gula, tetapi tidak untuk mengobati diabetes atau memperbaiki HbA1c.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat mengganti gula pasir dengan stevia, pertanyaan praktisnya sering kali: berapa sachet yang masih aman? Jawabannya tidak sesederhana menghitung sachet, karena produk stevia bisa memiliki komposisi berbeda.

Untuk pemanis steviol glikosida, Komite Ahli Gabungan FAO/WHO untuk Aditif Pangan (JECFA) menetapkan asupan harian yang dapat diterima (acceptable daily intake/ADI) sebesar 0–4 mg per kilogram berat badan per hari, sebagai ekuivalen steviol. Batas ini berlaku bagi populasi umum, termasuk orang dengan diabetes.

  1. Hitung batas berdasarkan berat badan

    Kalikan berat badan dalam kilogram dengan 4 mg. Hasilnya adalah batas atas ADI harian sebagai ekuivalen steviol:

    Berat badan

    Batas atas ADI per hari

    50 kg

    200 mg

    60 kg

    240 mg

    70 kg

    280 mg

    80 kg

    320 mg

    ADI merupakan perkiraan jumlah yang dapat dikonsumsi setiap hari sepanjang hidup tanpa risiko kesehatan yang berarti berdasarkan bukti yang tersedia, bukan target konsumsi harian.

  2. Beda batas aman harian dan batas dalam makanan

    Ilustrasi pemanis stevia cair yang diteteskan ke dalam segelas minuman untuk menambah rasa manis.
    ilustrasi meneteskan produk pemanis stevia ke dalam minuman (magnific.com/magnific)

    Saat membaca informasi tentang stevia, penting untuk memahami bahwa ADI dan batasan dari BPOM itu berbeda.

    ADI menunjukkan perkiraan jumlah stevia yang dapat dikonsumsi setiap hari berdasarkan berat badan tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang berarti. Sementara itu, BPOM mengatur berapa banyak stevia yang boleh ditambahkan ke suatu produk makanan atau minuman, misalnya minuman ringan, yoghurt, atau makanan penutup.

    Jadi, angka ADI tidak bisa langsung diubah menjadi jumlah saset atau gram bubuk stevia, karena setiap produk dapat mengandung jenis, kadar, dan campuran bahan yang berbeda-beda. Jumlah stevia dalam setiap produk bisa berbeda, sehingga perhatikan komposisi produk dan petunjuk penggunaannya.

    Jika ingin mengetahui batas penggunaan stevia pada suatu makanan atau minuman, kamu bisa memeriksa kategori produknya melalui basis data CekBTP BPOM.

  3. Apakah stevia menaikkan gula darah?

    Stevia dapat digunakan sebagai pengganti gula karena tidak memberikan efek yang sama seperti gula pasir terhadap kadar gula darah.

    Dalam sebuah penelitian pada 69 orang dewasa, termasuk penderita diabetes tipe 2, minuman yang mengandung stevia tidak menyebabkan kenaikan gula darah yang berarti dalam beberapa jam setelah dikonsumsi. Namun, penelitian ini hanya melihat efek jangka pendek.

    Penelitian lain yang menggabungkan hasil dari 12 uji klinis pada 871 orang dewasa menemukan bahwa stevia mungkin membantu menurunkan gula darah puasa dalam jumlah kecil. Meski begitu, tidak ditemukan perbaikan yang berarti pada HbA1c, yaitu ukuran yang menunjukkan rata-rata kadar gula darah selama beberapa bulan.

    Karena itu, stevia dapat menjadi alternatif untuk mengurangi konsumsi gula, tetapi bukti yang ada saat ini belum cukup untuk menyatakan bahwa stevia dapat digunakan sebagai pengobatan diabetes atau menggantikan obat penurun gula darah.

  4. Cek bahan lain dalam produk

    Sebagian produk yang dipasarkan sebagai stevia dapat mengandung bahan pengisi atau pemanis lain. Klaim “bebas gula” juga tidak selalu berarti produk bebas karbohidrat. Selalu baca memeriksa label gizi untuk melihat jumlah karbohidrat dan kalori.

    Kesimpulannya, ADI 0–4 mg ekuivalen steviol/kg berat badan per hari bisa digunakan sebagai batas acuan, bukan target konsumsi. Karena angka pada kemasan belum tentu menunjukkan ekuivalen steviol, jumlah saset yang setara tidak bisa dihitung tanpa mengetahui jenis dan kadar pemanisnya.

    Stevia dapat membantu mengurangi gula yang ditambahkan, tetapi tidak menggantikan rencana makan, pemantauan gula darah, atau obat yang diresepkan.

    Referensi

    Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives, “Steviol Glycosides,” JECFA Database, diakses 30 Oktober 2026.

    Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, “Pencarian berdasarkan Data Terkait Jenis Pangan,” Cek BTP, diakses 30 Oktober 2026.

    Corey E. Scott et al., “Acute Stevia Consumption Does Not Alter Endocrine Responses in Individuals with Normal Weight, Overweight, and Type 2 Diabetes Mellitus,” The Journal of Nutrition 156, no. 11 (2026): 101814, https://doi.org/10.1016/j.tjnut.2026.101814.

    Xuerui Bai et al., “Effect of Steviol Glycosides as Natural Sweeteners on Glucose Metabolism in Adult Participants,” Food & Function 15, no. 8 (2024): 3908–19, https://doi.org/10.1039/D3FO04695H.

    American Diabetes Association, “Get to Know Carbs,” diakses 30 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More