- Hindari suplemen kalsium selama 24 jam sebelum tes, kecuali dokter atau fasilitas pemeriksaan memberikan instruksi berbeda.
- Kenakan pakaian nyaman tanpa ritsleting, kancing, atau ikat pinggang berbahan logam.
- Lepaskan perhiasan dan benda logam di area yang akan diperiksa.
- Beri tahu dokter atau petugas jika sedang hamil atau mungkin hamil.
- Sampaikan jika baru menjalani pemeriksaan barium atau menerima zat kontras untuk CT scan atau pemeriksaan kedokteran nuklir. Pemeriksaan tersebut dapat memengaruhi hasil DXA dan mungkin perlu diberi jeda.
Tes Kepadatan Tulang: Persiapan, Prosedur, dan Arti Hasil

DEXA atau DXA mengukur mineral tulang, terutama di pinggul dan tulang belakang bawah, untuk menilai kepadatan, risiko patah tulang, serta respons pengobatan.
Tes dapat dipertimbangkan bagi perempuan 65 tahun ke atas, laki-laki 70 tahun ke atas, atau usia lebih muda dengan faktor risiko tertentu.
Pemeriksaan berlangsung 10–30 menit tanpa jarum dan nyeri; hasil T-score atau Z-score perlu dinilai dokter bersama riwayat kesehatan serta faktor risiko lain.
Osteoporosis sering tidak menimbulkan tanda sampai seseorang mengalami patah tulang. Karena itu, bagi sebagian orang, pemeriksaan kepadatan tulang menjadi cara untuk mengetahui kondisi tulang sebelum terjadi patah tulang.
Pemeriksaan yang paling umum digunakan adalah DXA atau DEXA, singkatan dari dual-energy X-ray absorptiometry. Tes ini mengukur mineral dalam tulang, terutama di pinggul dan tulang belakang bawah. Hasilnya membantu dokter menilai kepadatan tulang, memperkirakan risiko patah tulang, dan memantau respons terhadap pengobatan.
Table of Content
Siapa yang mungkin perlu menjalani tes ini?
Tidak semua orang butuh tes kepadatan tulang. Dokter mempertimbangkan usia, riwayat patah tulang, kondisi kesehatan, obat yang digunakan, dan faktor risiko lainnya.
International Society for Clinical Densitometry (ISCD) menyebut pemeriksaan dapat dipertimbangkan untuk perempuan berusia 65 tahun ke atas dan laki-laki berusia 70 tahun ke atas.
Pemeriksaan juga dapat dipertimbangkan pada orang yang lebih muda jika memiliki faktor seperti berat badan rendah, pernah mengalami patah tulang, memakai obat yang berisiko mengurangi kepadatan tulang, atau memiliki kondisi medis yang memengaruhi tulang.
Yang perlu dipersiapkan
DXA biasanya tidak memerlukan puasa, pasien umumnya tetap boleh makan seperti biasa. Namun, beberapa hal berikut dapat membantu hasil pemeriksaan lebih lancar:
Bagaimana prosedurnya?

ilustrasi DEXA atau DXA scan (commons.wikimedia.org/Meralr) Pada pemeriksaan DXA sentral, pasien berbaring telentang di atas meja. Alat pemindai bergerak di atas tubuh untuk mengambil gambar pinggul dan tulang belakang bawah. Petugas mungkin mengatur posisi kaki atau meminta pasien diam beberapa saat agar gambar tidak buram.
Pemeriksaan ini tidak menggunakan jarum dan biasanya tidak sakit. Prosesnya umumnya berlangsung sekitar 10–30 menit, bergantung pada alat dan bagian tubuh yang diperiksa.
Ada pula alat portabel yang mengukur tulang di tumit, pergelangan tangan, atau jari. Namun, alat tersebut tidak memberikan informasi selengkap DXA sentral.
Cara membaca hasilnya
Hasil DXA dapat memuat T-score dan Z-score. T-score membandingkan kepadatan tulang dengan nilai rata-rata orang dewasa muda yang sehat, sementara Z-score membandingkannya dengan orang seusia dan karakteristik serupa.
Pada perempuan pascamenopause dan laki-laki berusia 50 tahun ke atas, T-score umumnya digunakan untuk klasifikasi kepadatan tulang:
T-score
Arti umum
−1 atau lebih tinggi
Kepadatan tulang normal
Di bawah −1 hingga di atas −2,5
Kepadatan tulang rendah, sering disebut osteopenia
−2,5 atau lebih rendah
Memenuhi kriteria kepadatan tulang untuk osteoporosis
Untuk perempuan sebelum menopause dan laki-laki di bawah 50 tahun, ISCD lebih menganjurkan penggunaan Z-score. Z-score −2 atau lebih rendah disebut “di bawah kisaran yang diharapkan untuk usia”, dan angka ini tidak otomatis menjadi diagnosis osteoporosis.
Hasil DXA juga tidak dapat memastikan siapa yang kelak akan mengalami patah tulang. Dokter akan menilainya bersama riwayat patah tulang, usia, obat yang digunakan, kondisi kesehatan, dan faktor risiko lain.
Pemeriksaan ulang pun tidak harus dilakukan pada jadwal yang sama untuk semua orang; waktunya disesuaikan dengan hasil sebelumnya, pengobatan, dan perubahan kondisi.
Apa manfaat dan risikonya?

ilustrasi dokter menjelaskan hasil pemeriksaan kesehatan kepada pasien di ruang konsultasi. (unsplash.com/Vitaly Gariev) DXA dapat membantu menemukan kepadatan tulang rendah, mendukung penilaian risiko patah tulang, dan memantau pengobatan.
Sebuah tinjauan sistematis menemukan bahwa program skrining pada perempuan berusia 65 tahun ke atas yang berisiko lebih tinggi berkaitan dengan penurunan kecil angka patah tulang pinggul dan patah tulang osteoporosis mayor. Namun, program yang diteliti menggabungkan penilaian risiko dan pemeriksaan lanjutan. Hasilnya tidak membuktikan bahwa DXA saja menghasilkan manfaat yang sama, dan bukti untuk skrining laki-laki masih terbatas.
DXA menggunakan sinar-X dengan dosis radiasi yang sangat rendah. Risiko paparan radiasi tetap perlu diperhitungkan, terutama pada perempuan hamil atau mungkin hamil.
Pemeriksaan di tulang belakang juga bisa kurang akurat pada sebagian orang dengan perubahan bentuk tulang, osteoartritis, atau riwayat operasi tulang belakang.
Jika dokter menyarankan tes kepadatan tulang, tanyakan bagian tubuh mana yang akan diperiksa, apa arti hasilnya untuk kondisi pribadi, dan kapan perlu pemeriksaan ulang.
Referensi
National Institute of Arthritis and Musculoskeletal and Skin Diseases, “Bone Mineral Density Tests: What the Numbers Mean,” diakses 19 Oktober 2026.
RadiologyInfo.org, “Bone Density Scan (DEXA or DXA),” diakses 19 Oktober 2026.
International Society for Clinical Densitometry, “Official Positions 2023,” diakses 19 Oktober 2026.
U.S. Preventive Services Task Force, “Osteoporosis to Prevent Fractures: Screening,” diakses 19 Oktober 2026.
Leila C. Kahwati, Catherine E. Kistler, Gregory Booth, et al., “Screening for Osteoporosis to Prevent Fractures: A Systematic Evidence Review for the US Preventive Services Task Force,” JAMA 333, no. 6 (2025): 509–31, https://doi.org/10.1001/jama.2024.21653.









![[QUIZ] Dari Playlist Lari Kamu, Kami Tebak Tipe Kepribadian Kamu](https://image.idntimes.com/post/20260822/gambar-artikel-90_62bcda34-1f45-442a-acf2-42109b179116.png)











