Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Apakah Minum Teh setelah Makan Daging Ganggu Penyerapan Zat Besi?

Apakah Minum Teh setelah Makan Daging Ganggu Penyerapan Zat Besi?
ilustrasi Korean BBQ menu daging sapi (unsplash.com/The Creativv)
Intinya Sih
  • Teh mengandung tanin dan polifenol yang bisa menghambat penyerapan zat besi, terutama dari sumber nabati seperti sayuran dan kacang-kacangan.

  • Zat besi heme dari daging merah lebih mudah diserap tubuh dan tidak terlalu terpengaruh oleh konsumsi teh setelah makan.

  • Agar penyerapan zat besi optimal, disarankan memberi jeda 1–2 jam sebelum minum teh serta menambah asupan vitamin C dari buah atau sayur.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Saat makan besar, seperti lauk daging, beberapa orang senang menikmatinya dengan teh. Melihat orang makan seporsi sate kambing atau semangkuk gulai sapi ditemani es teh manis merupakan hal umum. Namun, beberapa orang bilang pola makan seperti ini bisa mengganggu penyerapan zat besi dalam tubuh. Apa benar?

Secara ilmiah, teh memang mengandung senyawa tanin dan polifenol yang dapat menghambat penyerapan zat besi di saluran pencernaan. Namun, efeknya tidak selalu sama pada setiap jenis makanan.

Zat besi dari daging merah, misalnya, memiliki karakteristik berbeda dibanding zat besi dari sayuran atau kacang-kacangan. Karena itu, penting memahami bagaimana teh bekerja dalam tubuh dan apakah kebiasaan minum teh setelah makan daging benar-benar perlu dihindari.

Table of Content

Daging adalah sumber zat besi yang penting

Daging adalah sumber zat besi yang penting

Daging, terutama daging merah seperti sapi dan kambing, dikenal sebagai salah satu sumber zat besi terbaik bagi tubuh. Zat besi merupakan mineral penting yang dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Ketika tubuh kekurangan zat besi, kamu bisa mengalami anemia yang ditandai dengan mudah lelah, pusing, hingga tubuh terasa lemas.

Zat besi dalam makanan terbagi menjadi dua jenis, yakni zat besi heme dan zat besi non heme. Zat besi heme banyak ditemukan pada produk hewani seperti daging, ayam, dan ikan, sedangkan zat besi non heme umumnya berasal dari tumbuhan seperti bayam, kacang-kacangan, dan serealia.

Dibanding zat besi non heme, zat besi heme jauh lebih mudah diserap tubuh. Menurut berbagai penelitian, tubuh dapat menyerap sekitar 15–35 persen zat besi heme, sementara zat besi non heme penyerapannya cenderung lebih rendah dan lebih mudah dipengaruhi makanan atau minuman lain.

Inilah alasan mengapa konsumsi daging sering dianjurkan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat besi, terutama pada kelompok yang rentan anemia seperti ibu hamil, remaja putri, dan orang dengan kadar hemoglobin rendah. Selain kandungan zat besinya lebih tinggi, penyerapan zat besi dari daging juga lebih stabil dibanding sumber nabati.

Kandungan dalam teh

Segelas es teh manis dengan es batu di dalam gelas bening, menampilkan warna teh cokelat keemasan yang menyegarkan.
ilustrasi minum es teh manis (vecteezy.com/Chairil Azmi)

Teh mengandung senyawa alami bernama tanin dan polifenol. Senyawa ini dapat mengikat zat besi di saluran pencernaan sehingga sebagian mineral tersebut menjadi lebih sulit diserap tubuh. Karena itulah, minum teh bersamaan atau sesaat setelah makan sering dikaitkan dengan penurunan penyerapan zat besi.

Namun, efeknya tidak selalu sama pada semua jenis zat besi. Penelitian menunjukkan bahwa tanin dalam teh lebih kuat menghambat penyerapan zat besi heme, yaitu zat besi dari sumber nabati seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, dan serealia.

Sementara itu, zat besi heme dari daging merah, ayam, atau ikan cenderung lebih mudah diserap tubuh dan tidak terlalu terdampak oleh konsumsi teh.

Artinya, bagi orang sehat yang sesekali minum teh setelah makan daging, kebiasaan ini umumnya tidak langsung menimbulkan masalah. Tubuh masih tetap bisa menyerap sebagian zat besi dari daging, terutama karena jenis zat besinya memang lebih mudah diolah oleh tubuh.

Meski begitu, kondisi ini tetap perlu diperhatikan pada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami kekurangan zat besi, seperti anemia, ibu hamil, remaja putri, hingga orang dengan pola makan rendah zat besi.

Jika teh terlalu sering dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan, terutama dalam jangka panjang, penyerapan zat besi bisa menjadi kurang optimal dan berpotensi memengaruhi kadar zat besi tubuh.

Kapan aman untuk minum teh?

Agar penyerapan zat besi tetap optimal, para ahli umumnya menyarankan untuk memberi jeda waktu antara makan dan minum teh. Jeda sekitar 1–2 jam setelah makan dinilai dapat membantu mengurangi efek tanin dalam menghambat penyerapan zat besi, terutama jika menu makanan mengandung banyak sumber zat besi.

Selain itu, penyerapan zat besi juga bisa dibantu dengan konsumsi makanan kaya vitamin C. Vitamin C diketahui mampu meningkatkan absorpsi zat besi di usus. Karena itu, sebaiknya kombinasikan daging dengan sumber vitamin C seperti jeruk, tomat, stroberi, atau paprika.

Jadi, minum teh setelah makan daging memang dapat memengaruhi penyerapan zat besi, tetapi efeknya tidak sebesar pada sumber zat besi nabati. Orang sehat umumnya tidak perlu terlalu khawatir selama pola makan tetap seimbang dan kebutuhan zat besi tercukupi. Jika ingin lebih aman, cukup beri jeda sebelum minum teh agar tubuh memiliki waktu menyerap zat besi dengan lebih optimal.

Referensi

"Kebiasaan Minum Teh Setelah Makan: Benarkah Bisa Picu Anemia Defisiensi Besi?". Kemenkes RS Surabaya. Diakses Mei 2026.

Zijp, Itske M., Onno Korver, and Lilian B. M. Tijburg. “Effect of Tea and Other Dietary Factors on Iron Absorption.” Critical Reviews in Food Science and Nutrition 40, no. 5 (September 1, 2000): 371–98.

Piskin, Elif, Danila Cianciosi, Sukru Gulec, Merve Tomas, and Esra Capanoglu. “Iron Absorption: Factors, Limitations, and Improvement Methods.” ACS Omega 7, no. 24 (June 10, 2022): 20441–56.

Fuzi, Salma F Ahmad, Dagmar Koller, Sylvaine Bruggraber, Dora Ia Pereira, Jack R Dainty, and Sohail Mushtaq. “A 1-h Time Interval between a Meal Containing Iron and Consumption of Tea Attenuates the Inhibitory Effects on Iron Absorption: A Controlled Trial in a Cohort of Healthy UK Women Using a Stable Iron Isotope.” American Journal of Clinical Nutrition 106, no. 6 (October 18, 2017): 1413–21.

Share Article
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F

Related Articles

See More