Bukti yang ada polanya cukup konsisten, bahwa makan malam lebih awal tampaknya lebih menguntungkan daripada makan larut malam, terutama jika makan dilakukan sangat dekat dengan waktu tidur.
Dalam uji klinis acak silang terhadap 20 orang dewasa sehat, para peneliti membandingkan makan malam pukul 18.00 dengan pukul 22.00, sementara peserta tidur pada pukul 23.00. Ketika makan pukul 22.00, puncak glukosa setelah makan sekitar 18 persen lebih tinggi dibandingkan ketika makan pukul 18.00.
Penelitian lain terhadap 12 orang dewasa sehat juga membandingkan makan malam pukul 18.00 dengan pukul 21.00. Hasilnya, makan lebih awal memperbaiki pola glukosa selama 24 jam dibanding makan malam yang lebih larut.
Namun, bukan cuma waktu makan saja yang penting. Jarak antara makan malam dan waktu tidur juga mungkin berperan.
Uji klinis acak silang yang melibatkan 845 orang membandingkan pemberian glukosa yang dilakukan 4 jam sebelum waktu tidur dengan hanya 1 jam sebelum tidur. Ketika dilakukan lebih dekat dengan waktu tidur, respons glukosa sekitar 8,3 persen lebih tinggi, sementara respons insulin 6,7 persen lebih rendah. Pada saat itu, kadar melatonin peserta juga lebih tinggi.
Melatonin memang dikenal sebagai hormon yang membantu mengatur siklus tidur dan bangun. Akan tetapi, ketika kadar melatonin sudah meningkat pada malam hari, kemampuan tubuh melepaskan insulin dan menangani glukosa dapat berkurang pada sebagian orang.