5 Adegan Brutal di Buku Stephen King yang Gak Ada dalam Adaptasinya

- Patrick membunuh adiknya yang masih bayi saat Patrick baru berusia 5 tahun
- Akhir cerita yang mengiris hati dalam buku Cujo
- Kematian brutal Vicky di cerita pendek Children of the Corn
- Jack menghancurkan wajahnya sendiri dengan palu di buku The Shining
- Adegan bayi yang sudah meninggal dan dikasih puding cokelat dalam novel Salem's Lot
Saat mendengar film berdasarkan novel Stephen King, banyak penggemar film horor yang langsung berbondong-bondong ke bioskop untuk menontonnnya. Gak salah lagi, Stephen King sendiri memang mendapat gelar Master of Horror. Jadi, ketika penonton melihat namanya, banyak yang mengharapkan kisah-kisah teror kelas atas. Meskipun begitu, adegan teror tersebut terkadang bisa gak muncul dalam adaptasinya ke layar lebar.
Sebab, para pembuat film ini menganggap kalau adegan-adegan dari buku Stephen King tersebut terlalu gelap untuk dilihat oleh penonton. Beberapa adegan bahkan dipotong karena terlalu mengerikan. Ada juga yang memang gak dimasukkan ke dalam film karena sangat mengiris hati. Apalagi jika adegan tersebut melibatkan cerita tragis tentang anak-anak. Nah, apa saja, ya, kira-kira?
1. Patrick membunuh adiknya yang masih bayi saat Patrick baru berusia 5 tahun

Novel IT karya Stephen King punya lebih dari seribu halaman. Nah, untuk setiap adegan yang ditampilkan di layar, ada sepuluh bagian tersembunyi dari buku yang gak pernah masuk ke dalam film maupun adaptasi televisinya. Tapi kita akan membahas satu adegan tertentu dalam buku yang dianggap sangat mengerikan untuk difilmkan.
Dalam bab 17 dari novel IT, ada adegan brutal yang dilakukan Patrick Hockstetter ketika ia berusia lima tahun. Saat orangtua Patrick membawa pulang bayi, adik Patrick yang bernama Avery, Patrick ternyata gak mau menjadi seorang kakak, sampai-sampai ia membenci adik bayinya itu. Apa pun alasannya, Patrick berniat membunuh adiknya. Saat orangtuanya gak melihat, Patrick membekap bayi itu dengan bantal dan ia merasakan sensasi bahagia saat melakukannya.
Adegan ini menjadi awal kebrutalan seorang Patrick. Di bab tersebut juga, terlihat kalau Patrick suka menyiksa hewan hingga mati dengan menaruh hewan-hewan itu di dalam lemari es. Namun, adegan setelah pembunuhan pertama yang dilakukannya, terutama setelah membunuh adik bayinya adalah ketika Patrick mengambil susu dan kue, dan menikmatinya tanpa rasa bersalah di ruang tamu. Adegan yang sangat di luar logika. Gak heran, sih, kalau adaptasi film maupun serial TV-nya lebih memilih melewatkan adegan ini.
2. Akhir cerita yang mengiris hati dalam buku Cujo

Adaptasi karya Stephen King seringkali diubah akhir ceritanya dari buku aslinya. Seperti halnya dengan Cujo. Tapi keputusan ini justru lebih baik karena cerita aslinya terlalu brutal, nih.
Novelnya bukan bacaan yang ringan, mengingat isinya yang sangat menyakitkan. Yap, di mana lagi kamu bisa menyaksikan seorang ibu terjebak di dalam mobil yang panas dan sesak bersama anaknya, sementara itu seekor anjing gila bernama Cujo menunggu di luar untuk memangsa. Ditambah lagi, mobil ini mogok.
Ibu beranama Donna ini pastinya akan melakukan apa saja untuk melindungi anaknya. Namun di akhir buku, suaminya menemukan Donna sedang memegang pemukul bisbol berlumuran darah. Di samping itu, anaknya yang bernama Tad Trenton meninggal karena sesak napas dan dehidrasi di dalam mobil. Jadi, agak mengejutkan ketika semua yang telah dialami Donna, suaminya malah melihat hal tersebut dan berkata, "Sudah berapa lama dia (Tad) meninggal, Donna?"
Namun dalam filmnya, Tad (yang diperankan Danny Pintauro) nyaris meninggal, tapi ia selamat. Sedangkan Donna (yang diperankan Dee Wallace) punya akhir yang bahagia setelah perjuangannya melawan anjing rabies tersebut. Dee Wallace sendiri memang meminta agar akhir cerita film tersebut lebih baik ketimbang cerita akhir dalam bukunya yang menyedihkan itu.
Bahkan Stephen King sendiri mengakui bahwa akhir cerita yang ditulisnya memang agak berlebihan. Menurut Dee Wallace dalam sebuah wawancara untuk podcast Still Here Hollywood, Stephen King menulis surat kepadanya dengan bilang, "Syukurlah kau tidak membunuh anak itu di akhir cerita. Aku belum pernah menerima surat kebencian sebanyak ini untuk karya lain yang pernah kubuat."
3. Kematian brutal Vicky di cerita pendek Children of the Corn

Cerita pendek Children of the Corn karya Stephen King mengisahkan tentang sebuah kota kecil di Nebraska yang dikuasai oleh sekte anak-anak psikopat yang suka membunuh. Adaptasi filmnya tahun 1984 penuh dengan adegan menakutkan. Salah satunya adegan ketika Vicky (diperankan Linda Hamilton) diikat di tiang salib seperti orang-orangan sawah. Namun, adegan itu gak sebanding dengan adegan yang digambarkan Stephen King dalam cerita pendeknya.
Dalam kisah yang ditulis Stephen King, Vicky disiksa jauh lebih brutal. Dalam buku, Vicky digantung di tiang dengan kawat berduri, membuat penyiksaannya terasa sangat menyakitkan. Anak-anak psikopat tersebut bahkan mencungkil mata Vicky dan menyumpal mulutnya dengan kulit jagung. Begitulah cara suami Vicky menemukannya.
Vicky juga sudah tewas tentunya, dan cara kematiannya bisa dibilang sangat mengerikan. Adegan yang ditulis Stephen King itu sangat menakutkan dan bikin trauma. Namun dalam film, adegan tersebut gak ada. Vicky pun ditemukan selamat. Ini bikin penggemar lega, sih, karena gak harus menyaksikan adegan visualnya di film.
4. Jack menghancurkan wajahnya sendiri dengan palu di buku The Shining

Bagian tergelap dari kisah bukanlah hotel yang menyeramkan atau pembunuhan mengerikan yang terjadi di sana—melainkan cara Stephen King merefleksikan realitas. Inti dari buku yang ditulis Stephen King ini adalah kisah tentang bagaimana kecanduan bisa mengubah orang yang kita cintai menjadi seseorang yang sama sekali gak kita kenali. Tentu saja, dalam film yang diadaptasi Stanley Kubrick berbeda dengan bukunya. Salah satu dari banyak perbedaannya dengan buku Stephen King adalah hilangnya adegan mengerikan antara Jack dan Danny.
Ketika ayah Danny itu dirasuki oleh roh jahat yang menghuni Hotel Overlook, Jack mengejar Danny dengan palu godam. Namun, tepat ketika Jack akan memukul wajah Danny, Jack malah melukai wajahnya sendiri. Ia memukul wajahnya dengan palu sampai hancur.
Adegan itu sangat gak nyaman meski hanya dibaca dalam sebuah tulisan. Apalagi Stephen King menulisnya dengan sangat gamblang dan detail. Belum lagi di sepanjang novel, pembaca dibuat peduli pada Jack. Jadi mengganggu banget jika melihat Jack bertindak seperti itu. Terlebih lagi Danny harus menyaksikannya.
Adegan ketika Danny menyadari bahwa sosok di hadapannya bukan ayahnya lagi tentunya mengerikan banget. Jadi Stanley Kubrick gak sepenuhnya salah menghilangkan adegan tersebut. Sebagai catatan, nih, miniseri televisi remake The Shining (1997), menggambarkan Jack Torrance yang diperankan oleh Steven Weber, justru mengadaptasi adegan ini.
5. Adegan bayi yang sudah meninggal dan dikasih puding cokelat dalam novel Salem's Lot

Sampai tulisan ini dibuat, novel Stephen King yang berjudul Salem's Lot sudah diadaptasi menjadi tiga versi berbeda: dua serial TV, dan yang terbaru, film yang tayang di layanan streaming. Namun, ada adegan mengerikan di buku tersebut yang gak ditampilkan di ketiga versi adaptasi karena sangat mengerikan.
Adegan yang dimaksud terjadi setelah seorang vampir masuk lewat jendela kamar tidur. Vampir itu mengambil bayi Randy McDougall dari tempat tidurnya, dan menghisap darahnya. Sejauh ini, adegan tersebut bukan hal baru bagi Stephen King, yang memang sering mengorbankan anak-anak dalam ceritanya. Nah, kengeriannya justru datang dari reaksi sang ibu ketika menemukan bayinya. Masih menyangkal apa yang terjadi, si ibu yang bernama Sandy berusaha mati-matian untuk menghidupkan kembali putranya.
Dia yakin kalau bayinya hanya tidur lemas atau kekurangan susu, karena ditinggalkan olehnya. Sandy pun mencoba membangunkan bayinya dengan memberi puding cokelat Gerber. Saat Sandy gagal memasukkan puding ke mulut bayi yang gak bernyawa itu, sebuah kesadaran perlahan muncul. Yap, dia akhirnya menyadari bahwa bayinya sudah meninggal.
Gak semua adegan dalam buku pantas disajikan secara visual lewat adaptasi filmnya. Yap, jika penggambaran di bukunya saja sangat brutal dan menyedihkan, bagaimana jika kita melihatnya dalam bentuk filmnya. Memang seharusnya jangan, ya, karena bisa bikin trauma.


















