Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

7 Adegan MCU yang Dibenci Fans karena Beda dari Komik

Thor dalam Avengers: Endgame
Thor dalam Avengers: Endgame (dok. Walt Disney Studios Motion Pictures/Avengers: Endgame)
Intinya sih...
  • Kisah cinta Bruce dan Natasha tidak ada dalam komik
  • Captain America: Civil War terlalu "kecil" dibanding versi komik
  • Mantis dibuat karakter naif, berbeda dengan versi kompleks di komik
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Marvel Cinematic Universe (MCU) berhasil membawa dunia Marvel ke bagian besar dari budaya pop modern. Namun, adaptasi ini tentu tidak selamanya sempurna. MCU sering kali mengambil kebebasan kreatif yang jauh berbeda dari versi komiknya dan beberapa di antaranya benar-benar tidak disukai penggemar.

Mulai dari perubahan karakter, penyederhanaan alur cerita besar, hingga perbedaan desain dan kepribadian tokohnya, ada banyak momen di mana MCU dinilai gagal meniru kehebatan komik aslinya. Lebih parahnya lagi, sebagian perubahan ini bahkan memengaruhi cerita di semesta komik utama Marvel, Earth-616. Kalau kamu penasaran, berikut ini beberapa adegan MCU yang dibenci fans karena berbeda dari komik. Kecewa berat!

1. Kisah cinta Bruce dan Natasha yang gak pernah ada dalam komik

Natasha menenangkan Hulk
Natasha menenangkan Hulk (dok. Walt Disney Studios Motion Pictures/Avengers: Age of Ultron)

Salah satu keputusan paling aneh dari fase awal MCU adalah menjadikan Bruce Banner dan Natasha Romanoff sebagai pasangan. Hubungan mereka digambarkan cukup intens, bahkan disebut bahwa hanya Black Widow yang bisa menenangkan Hulk. Namun, kisah cinta ini berakhir tanpa arah di Avengers: Age of Ultron (2015) dan dianggap tidak perlu oleh banyak fans.

Padahal, di komik hubungan itu tidak pernah ada. Natasha justru pernah terlibat dengan Bucky Barnes, sedangkan Bruce memiliki kisah cinta ikonik dengan Betty Ross. Chemistry antara Natasha dan Bruce di film juga terasa dipaksakan, sehingga banyak penggemar lebih memilih untuk melupakannya sepenuhnya.

2. Captain America: Civil War yang terlalu “kecil”

cuplikan film Captain America: Civil War
cuplikan film Captain America: Civil War (dok. Walt Disney Studios Motion Pictures/Captain America: Civil War)

Cerita Captain America: Civil War (2016) di komik merupakan salah satu peristiwa paling besar dan berpengaruh di dunia Marvel. Konflik ini melibatkan ratusan pahlawan, dampaknya luas, dan menimbulkan perpecahan besar antara dua kubu. Namun, versi filmnya terasa jauh lebih sederhana.

Dalam Captain America: Civil War (2016), hanya sekitar selusin pahlawan yang terlibat dalam konflik. Fokus film pun lebih kepada konflik pribadi antara Tony Stark dan Steve Rogers soal Bucky, bukan tentang isu besar kebebasan versus kontrol pemerintah seperti di komik. Banyak fans menilai MCU terlalu cepat mengadaptasi cerita sebesar ini tanpa pondasi yang cukup kuat.

3. Mantis yang dibuat dari pejuang kosmik jadi karakter naif

Mantis dalam Guardians of the Galaxy Vol. 3
Mantis dalam Guardians of the Galaxy Vol. 3 (dok. Walt Disney Studios Motion Pictures/Guardians of the Galaxy Vol. 3)

Trilogi Guardians of the Galaxy sukses besar dan memperkenalkan banyak karakter baru, tapi tidak semuanya setia pada versi komik. Salah satu yang paling berubah adalah Mantis. Dalam film, Mantis digambarkan sebagai gadis polos dan manis yang kadang kikuk, lebih sebagai pelengkap humor dibanding karakter penting.

Padahal, di komik Mantis adalah sosok kuat dan kompleks. Ia manusia mutan yang dilatih oleh bangsa Kree, disebut sebagai Celestial Madonna, dan punya peran penting dalam takdir alam semesta. Ia bahkan mampu memisahkan dirinya menjadi beberapa versi untuk berevolusi secara spiritual. Sayangnya, versi filmnya terlalu disederhanakan dan kehilangan kedalaman tersebut.

4. Alasan Thanos terlalu dimanusiakan

Thanos di Avengers: Endgame
Thanos di Avengers: Endgame (dok. Walt Disney Studios Motion Picture/Avengers: Endgame)

Marvel Studios sering dikritik karena cenderung membuat para villain-nya terasa kurang kuat. Thanos pun tak luput dari masalah ini. Di MCU, ia diceritakan mengumpulkan Batu Keabadian untuk memusnahkan separuh populasi alam semesta demi menciptakan keseimbangan dan mengatasi krisis sumber daya.

Dalam komik, motivasi Thanos jauh lebih sederhana sekaligus egois, yaitu hanya ingin menarik perhatian Lady Death, sosok yang ia cintai. Tak ada niat mulia di baliknya, hanya obsesi terhadap cinta yang tak terbalas. Justru inilah yang membuat Thanos versi komik terasa lebih kejam dan kompleks dibandingkan versi film yang mencoba membuatnya tampak seperti penyelamat.

5. Thor yang kehilangan wibawa aslinya

Thor dalam Thor: Ragnarok
Thor dalam Thor: Ragnarok (dok. Disney Studios Motion Pictures/Thor: Ragnarok)

Thor mengalami hal serupa. Setelah Taika Waititi mengambil alih waralaba ini, sang Dewa Petir berubah menjadi sosok yang lebih komedik. Awalnya menyegarkan, tapi lama-lama Thor kehilangan sisi heroik dan wibawanya.

Chris Hemsworth memang punya bakat komedi alami, tapi dalam komik, Thor dikenal sebagai sosok serius dan terhormat. Ia bisa bercanda, tapi tetap berwibawa sebagai prajurit Asgard. Versi film perlahan menghapus sisi itu, menjadikannya lebih mirip badut daripada dewa. Sejak saat itu, citranya sebagai pahlawan megah tak pernah kembali.

6. Asal-usul Ms. Marvel diubah total

Kamala Khan dalam Ms. Marvel
Kamala Khan dalam Ms. Marvel (dok. Walt Disney Studios Motion Pictures/Ms Marvel)

Serial Ms. Marvel (2022) membuat kejutan besar dengan mengungkap bahwa Kamala Khan versi MCU adalah seorang mutan dan bukan Inhuman seperti di komik. Padahal, kekuatan Kamala di versi asli berasal dari gen Inhuman yang terpicu oleh Terrigen Mist, dan hal ini menjadi bagian penting dari perjalanan karakternya.

Perubahan besar ini dianggap merusak akar ceritanya. Elemen “Inhuman” bukan sekadar label, melainkan cerminan cara Kamala menemukan jati diri dan menghadapi diskriminasi. Dengan menjadikannya mutan, Marvel memang membuka jalan untuk X-Men, tapi sekaligus menghapus fondasi yang membuat kisah Ms. Marvel begitu istimewa di komik.

7. Spider-Man yang terlalu bergantung pada Iron Man

cuplikan film Avengers: Infinity War
cuplikan film Avengers: Infinity War (dok. Walt Disney Studios Motion Pictures/Avengers: Infinity War)

Spider-Man versi Tom Holland memang disukai banyak orang, tapi banyak penggemar komik merasa karakter ini kehilangan kemandiriannya. Dalam komik, Peter Parker adalah pahlawan yang berdiri di atas kakinya sendiri. Ia menciptakan kostum, senjata, dan menanggung beban hidupnya tanpa bantuan siapa pun.

Namun di MCU, Tony Stark menjadi mentor sekaligus penolong utama Peter. Dari kostum canggih hingga panduan moral, hampir semua aspek hidupnya dipengaruhi Iron Man. Hubungan mereka memang hangat dan emosional, tapi juga membuat Spider-Man terasa seperti “Iron Man Junior”. Baru di Spider-Man: No Way Home (2021) Peter benar-benar kembali ke jati dirinya sebagai pahlawan yang mandiri dan sederhana seperti di komik.

Banyak adegan di MCU yang diubah dari versi komiknya, dan meskipun beberapa berhasil memperkaya cerita, tidak sedikit yang justru membuat penggemar kecewa. Perubahan ini sering kali dilakukan demi menyesuaikan tone film, mempercepat alur, atau menyatukan berbagai karakter dalam satu semesta yang luas.

Namun, bagi pembaca setia komik, setiap perubahan terasa seperti kehilangan bagian penting dari identitas aslinya. Pada akhirnya, adaptasi MCU tetap menarik, tapi tak bisa sepenuhnya menggantikan pesona dan kedalaman kisah versi komiknya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More

Aktor Gary Iskak Meninggal Dunia, Innalilahi!

29 Nov 2025, 11:21 WIBHype
ibunda Raisa meninggal dunia

Ibunda Raisa Meninggal Dunia

29 Nov 2025, 08:54 WIBHype