Hanung Bramantyo setelah konferensi pers official poster & trailer "Lobang Buaya" di XXI Senayan City, Jakarta, Jumat (28/8/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Pilihan genre horor untuk sebuah cerita yang mengambil latar peristiwa bersejarah ternyata juga menjadi pertanyaan ketika Lobang Buaya diputar di sejumlah festival internasional. Film tersebut sebelumnya mengikuti ajang seperti International Film Festival Rotterdam (IFFR) dan Bucheon International Fantastic Film Festival (BIFAN). Hanung mengungkapkan bahwa penonton di kedua festival tersebut justru memiliki pertanyaan yang relatif sama.
"Jadi pertanyaannya adalah, kisah atau situasi kejadian sefenomenal ini, semonumental ini, kenapa dibuat dengan genre horor? Kenapa tidak dibuat dengan genre yang memang autentik? Saya bilang, saya menjawab, 'Karena situasi di negara saya untuk membuat film yang seperti ini, itu sangat riskan, belum bisa diterima, menimbulkan kontroversial, apa segala macem.' Alih-alih diapresiasi oleh penonton, justru malah akan membuat gaduh," akunya.
Pertimbangan tersebut juga berkaitan dengan pengalaman Hanung ketika menawarkan sejumlah proyeknya kepada sales internasional. Ia pernah memiliki dua film, masing-masing bergenre drama dan horor. Dari kedua proyek tersebut, justru film horor yang dianggap lebih mudah diterima dan memiliki potensi perjalanan internasional lebih besar. Karena itu, Lobang Buaya akhirnya dikemas sebagai film fiksi dengan balutan horor.
"Makanya di film yang ini, betul-betul saya mencoba untuk membuat fiksinya, membuat dengan genre, dengan balutan packaging horor, karena memang itu yang sekarang sedang diminati di masyarakat kita, penonton kita. Sesuai dengan data penonton ya, dengan data penonton saat ini memang penonton penikmat film horor itu memang tinggi. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia terbukti," imbuhnya.
Meski begitu, pilihan tersebut tetap berangkat dari ketertarikan pribadi Hanung terhadap sejarah. Ia memang dikenal memiliki ketertarikan untuk mengangkat cerita yang berkaitan dengan sejarah Indonesia. Tahun lalu saja, ia merilis dua film berlatar sejarah, yakni Gowok: Kamasutra Jawa (2025) dan Rahasia Rasa (2025).
"Karena memang histori saya, kemampuan saya atau kesenangan saya memang membuat film sejarah," ujarnya.