Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Alasan Reza Arap Ditunjuk Jadi Sutradara, Produser Kepincut Marapthon
Content Day Harusnya Horor di SCTV Tower, Rabu (1/7/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Jakarta, IDN Times - Reza Arap akan kembali ke layar lebar lewat film Harusnya Horror. Dalam proyek ini, ia tidak hanya menjadi pemeran utama, tetapi juga menjalani debut sebagai sutradara film, lho.

Terpilihnya Reza Arap sebagai sutradara film Harusnya Horror tersebut, ternyata bukan tanpa alasan. Dalam Content Day yang digelar di SCTV Tower, Jakarta, Rabu (1/7/2026), Jimmy Lalwani produser dari rumah produksi Essjay Pictures mengungkap bahwa keputusan tersebut berawal dari kesan positifnya terhadap program live streaming Marapthon yang digagas Arap bersama teman-temannya.

1. Jimmy Lalwani tertarik gandeng Reza Arap jadi sutradara gegara kepincut Marapthon yang sering muncul di FYP-nya

Content Day Harusnya Horor di SCTV Tower, Rabu (1/7/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Di hadapan awak media yang hadir, Jimmy Lalwani menceritakan bahwa Marapthon kerap muncul di laman FYP miliknya. Dari sana, ia melihat sosok Reza Arap sebagai pribadi yang murah hati, baik, serta memiliki hubungan pertemanan yang kuat dengan orang-orang di sekitarnya. Hal itulah yang membuat Jimmy Lalwani yakin untuk memberikan kesempatan kepada Reza Arap untuk menggarap sebuah film.

“Waktu mereka bikin Marapthon, sering lewat di FYP saya. Terus saya melihat sosok Reza yang kayaknya murah hati, baik hati, terus juga persahabatannya kuat, chemistry dapet. Dari situ saya merasa kayaknya boleh nih dikasih kesempatan untuk membuat film bersama-sama,” kata Jimmy Lalwani.

2. Jimmy akui puas dengan hasil kerja Reza Arap dan teman-temannya

Content Day Harusnya Horor di SCTV Tower, Rabu (1/7/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Keputusan Jimmy Lalwani menunjuk Reza Arap sebagai sutradara pun juga dipertanyakan oleh Reza Arap sendiri. Pasalnya, rumah produksi tersebut juga mengajak teman-temannya, khususnya para anggota AAA Clan, yang sebagian besar belum memiliki pengalaman bermain film.

“Ngasih proyek film yang bujetnya wow, terus anak-anaknya juga gak pernah main film, tidak pernah nge-direct juga, kenapa sih memberanikan diri atau mengambil resiko tersebut?” tanya Reza Arap.

Menanggapi pertanyaan Arap tersebut, Jimmy pun kembali menegaskan bahwa sejak awal, ia melihat potensi besar yang dimiliki oleh Reza Arap dan teman-temannya. Meski menyadari minimnya pengalaman mereka di dunia perfilman, ia memilih mengambil risiko dengan memberikan pendampingan, termasuk menghadirkan acting coach agar para pemain dapat memaksimalkan kemampuan mereka.

“Jujur, kita lihat ada potensi, dan kita ada visi, dan kita memberanikan diri mencoba. Yes, ada pertimbangan, ‘Wah, belum pernah ada akting, tapi ya udah, kita kasih acting coach, kita maksimalkan,” lanjutnya.

Setelah melihat hasilnya, Jimmy menyebut pihak rumah produksi merasa sangat puas. Menurutnya, apa yang dilakukan Reza Arap dan hasil yang ia berikan merupakan sebuah masterpiece.

“Setelah lihat hasilnya, kita dari PH sangat-sangat puas. Apa yang dilakukan oleh Reza, seperti biasa, apa yang keluar dari dia, menurut kita masterpiece. Semoga semuanya juga sempurna.”

3. Cerita Reza Arap awalnya punya dua ide cerita, yang satunya mirip Agak Laen: Menyala Pantiku!

Content Day Harusnya Horor di SCTV Tower, Rabu (1/7/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Reza Arap juga mengungkap bahwa awalnya ia menyiapkan dua ide cerita untuk dipresentasikan kepada produser. Salah satunya adalah Harusnya Horror, sementara ide lainnya mirip dengan cerita film Agak Laen: Menyala Pantiku! karena mengangkat kisah sekelompok anak berandal yang dihukum dan ditempatkan di sebuah panti jompo. Nah, saat itu, ia pun tidak mengetahui bahwa Ernest Prakasa juga tengah menggarap film berlatar panti jompo.

“Saya tuh kalau memutuskan sesuatu hal yang besar itu selalu coin flip. Saya coin flip di depan Om Jimmy dapetnya Harusnya Horror. Coba lagi, dua kali, Harusnya Horror. Tiga kali, Harusnya Horror juga. Akhirnya kita pilih Harusnya Horror, tanpa kita tahu kalau Koh Ernest bikin Agak Laen yang panti jompo,” ungkapnya.

Reza Arap mengaku bersyukur karena akhirnya ia memilih Harusnya Horror, sehingga tidak perlu berhadapan langsung dengan proyek Ernest Prakasa yang mengusung tema serupa.

“We are good friends. Bahkan Koh Ernest pun sempet datang ke lokasi syuting, melihat dan support juga. Pokoknya, we are best friends. Itu lucu aja gitu. Kenapa sih kepala kita bisa nyambung gitu. Bayangin, kalau aku coin flip, dapetnya panti jompo. Bukan saingan lagi, ulang! Melawan Ernest kek mana coba? Mundurlah kami. Tapi ya, itu how universe works dan mungkin itu udah jalan juga ya.”

Curated For You

Editorial Team

Related Article