5 Perbedaan Film Supergirl dan Komik Supergirl: Woman of Tomorrow

- Film Supergirl (2026) menjadi adaptasi longgar dari komik Supergirl: Woman of Tomorrow, dengan Milly Alcock memerankan Kara Zor-El menggantikan Sasha Calle di semesta baru DCU.
- Beberapa elemen penting diubah, seperti absennya Comet si kuda super, penambahan karakter Lobo dan Superman, serta penghapusan lokasi Maypole yang berperan besar dalam versi komik.
- Perbedaan mencolok juga terlihat pada narasi dan akhir cerita; Ruthye tidak lagi menjadi narator, dan film menampilkan Kara membunuh Krem alih-alih menyelamatkannya seperti di komik.
Peringatan: Artikel ini mengandung spoiler bagi yang belum menonton Supergirl!
Supergirl (2026) menandai kembalinya Kara Zor-El sebagai protagonis utama di layar lebar sejak film solo pertamanya yang dibintangi Helen Slater pada 1984. Sang Girl of Steel terakhir kali muncul dalam The Flash (2023) sebagai bagian dari DC Extended Universe (DCEU) dengan Sasha Calle sebagai pemerannya. Tongkat estafet tersebut kini telah diteruskan kepada Milly Alcock yang memerankan Kara dalam DC Universe (DCU).
Usut punya usut, Supergirl mengadaptasi miniseri komik modern yang cukup terkenal, yaitu Supergirl: Woman of Tomorrow (2021—2022) karya Tom King dan Bilquis Evely. Bahkan, film ini sebenarnya sempat menggunakan judul yang sama sebelum akhirnya disederhanakan menjadi Supergirl saja. Walau sama-sama mengisahkan perjalanan Kara dan Ruthye Marye Knoll dalam memburu Krem of the Yellow Hills, adaptasi filmnya menghadirkan sejumlah perubahan besar jika dibandingkan dengan versi Supergirl: Woman of Tomorrow.
1. Film Supergirl tidak menampilkan Comet si kuda super

Selain Krypto, Supergirl sebenarnya juga memiliki hewan pendamping setia berupa seekor kuda. Ia adalah Comet yang pertama kali muncul dalam Adventure Comics #293 (1962) dan menjadi salah satu sosok penting yang menemani berbagai petualangan sang Girl of Steel pada era Silver Age. Setelah lama menghilang, dia akhirnya kembali dalam Supergirl: Woman of Tomorrow #6 untuk membantu Supergirl menghadapi Krem of the Yellow Hills.
Sayangnya, Comet sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya dalam Supergirl. Hal ini sebenarnya merupakan keputusan penulis naskah, Ana Noguiera, supaya penonton awam tidak kebingungan dengan kemunculan seekor kuda super yang belum pernah diperkenalkan di DCU, sebagaimana diungkapkannya kepada Entertainment Weekly. Dia juga menambahkan kalau Krypto sudah cukup mewakili peran sebagai hewan pendamping yang memiliki ikatan emosional dengan sang Girl of Steel.
2. Supergirl menambahkan karakter yang tidak ada pada versi komiknya

Selain Kara, Supergirl menampilkan dua karakter yang ikonis di kalangan fans DC. Pertama, ada Lobo (Jason Momoa), seorang pemburu bayaran asal planet Czarnia yang nyaris abadi. Kedua, tentu ada Kal-El alias Superman (David Corenswet) yang telah disinggung sejak trailer film saat dia meminta sang Girl of Steel, sepupunya, untuk pulang ke Bumi.
Nah, tahukah kamu bahwa kedua karakter ini sebetulnya tidak pernah muncul dalam Supergirl: Woman of Tomorrow? Yap, seri komik tersebut sesungguhnya dibuat sebagai petualangan mandiri sang Girl of Steel tanpa melibatkan karakter ikonik DC lainnya. Perubahan ini kemungkinan dilakukan untuk memperkuat keterkaitan film Supergirl dengan Superman (2025) sekaligus memperluas semesta kosmik DCU.
3. Maypole yang menjadi lokasi penting tidak ada dalam filmnya

Dalam Supergirl: Woman of Tomorrow #3, Kara dan Ruthye sempat singgah di Maypole, sebuah kota di planet Coronn. Di sana, mereka menemukan fakta mengerikan kalau Krem menjadi dalang di balik peristiwa genosida saat dia masih menjadi tahanan di Maypole. Dia diketahui mengusulkan Kaum Biru menyuap sekelompok perompak galaksi bernama Brigands untuk memusnahkan ras tetangga mereka, Kaum Ungu, demi memastikan kelangsungan hidup populasinya.
Mulai dari planet Evely yang menjadi tempat persinggahan Kara hingga Barenton yang menjadi lokasi pertarungan klimaks, Supergirl sama sekali tidak menampilkan planet Corron, tempat Maypole berada. Apalagi, film ini juga mengubah peran Krem (Matthias Schoenaerts) menjadi pemimpin Brigands, bukan lagi sosok yang beroperasi di balik layar. Perombakan tersebut memang membuat alur cerita Supergirl lebih ringkas, tetapi justru menghilangkan kritik sosial terhadap kekerasan sistemik dan diskriminasi ras yang menjadi salah satu tema penting dalam versi komiknya.
4. Supergirl tidak menjadikan Ruthye sebagai narator seperti di komik

Sejak awal, Supergirl telah menempatkan Kara sebagai protagonis utama. Film ini mengajakmu mengikuti kisah hidupnya, mulai dari kelahiran di Argo City, perpisahan dengan orang tuanya, hingga pertemuan dengan Superman. Walau Ruthye (Eve Ridley) juga muncul, perannya tidak terlalu besar kalau dibandingkan dengan versi komiknya.
Supergirl: Woman of Tomorrow justru menjadikan Ruthye sebagai tokoh utama sekaligus narator cerita. Saat Kara kehilangan kekuatannya akibat paparan matahari hijau di planet Barenton, Ruthye-lah yang maju untuk melindunginya dari dinosaurus yang menghuni planet tersebut. Sayangnya, versi filmnya sama sekali tidak menampilkan adegan epik tersebut dan menggantinya dengan pertempuran klimaks ala Mad Max.
5. Versi film merombak total ending dari Supergirl: Woman of Tomorrow

Ruthye sebenarnya mendapat kesempatan untuk menghabisi Krem of the Yellow Hills dalam Supergirl: Woman of Tomorrow #8, tapi Kara berhasil meyakinkannya untuk mengurungkan niatnya. Sebagai hukuman, sang antagonis utama dipenjara di Phantom Zone selama 300 tahun. Setelah masa hukumannya berakhir, Kara membawa Krem menemui Ruthye untuk memberinya kesempatan memukul pembunuh ayahnya dengan tongkat.
Ending tersebut benar-benar bertolak belakang dengan apa yang terjadi dalam Supergirl. Di sini, Kara masih mencoba untuk meyakinkan Ruthye untuk mengurungkan niatnya, tetapi pada akhirnya justru dia sendiri yang membunuh Krem agar Ruthye tidak hidup dengan penyesalan karena telah menghilangkan nyawa musuhnya. Alhasil, versi filmnya tidak mengadaptasi momen timeskip selama 300 tahun sekaligus reuni emosional antara Kara dan Ruthye.
Sebagai adaptasi longgar (loose adaptation), Supergirl memang melakukan beberapa perubahan dari versi komiknya demi menyesuaikan cerita dengan kontinuitas DCU dan membuatnya mudah dipahami oleh fans awam. Menurutmu, mana yang lebih baik antara jalan cerita versi film dengan Supergirl: Woman of Tomorrow?




















