Foufo Pakai Motion Capture, Bayu Skak: Mirip Avatar-nya James Cameron

Jakarta, IDN Times – Film komedi fiksi ilmiah Foufo (2026) menghadirkan sesuatu yang berbeda dari kebanyakan film Indonesia. Tak hanya menggabungkan genre sci-fi dengan budaya Madura, film garapan Bayu Skak di bawah naungan SinemArt ini juga memanfaatkan teknologi motion capture dan CGI untuk menghidupkan karakter alien titular di dalamnya.
Dalam konferensi pers di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (3/7/2026), Bayu bahkan sempat berkelakar bahwa teknologi yang digunakan timnya tak kalah canggih dengan yang dipakai James Cameron saat menggarap Avatar (2009). Berikut cerita lengkapnya!
1. Bukan AI, Foufo gunakan teknologi CGI dan motion capture

Jika melihat dari poster dan trailer-nya, karakter Foufo tampil dengan kepala dan mata berukuran besar yang dirancang agar terlihat menggemaskan bagi penonton anak-anak. Untuk mewujudkannya, Bayu Skak memilih menggunakan perpaduan teknologi CGI dan motion capture, alih-alih mengandalkan kecerdasan buatan (AI).
"Untuk menghidupkan karakternya Foufo, itu kita harus menggunakan teknologi CGI. Ini juga enggak kalah teman-teman kayak James Cameron punya. Karena ini pakai teknologi itu loh teman-teman, motion capture ya kan," ungkap sang sutradara.
Dalam proses produksinya, Skak Studios dan Sinemart menggandeng studio animasi lokal asal Surabaya, Hompimpa. Sekitar 120 animator dilibatkan untuk mengerjakan karakter Foufo hingga tampak hidup di layar lebar.
Bagi Bayu sendiri, penggunaan motion capture menjadi pengalaman baru sebagai sutradara. Ia mengaku harus beradaptasi dengan proses produksi yang berbeda dibanding film-film sebelumnya.
"Jadi, saya sebagai sutradara pun juga ini sesuatu yang baru bagi saya kan. Karena berkali-kali juga harus menyesuaikan karena sebelum kami syuting itu selalu kita capture sekeliling dulu teman-teman," ceritanya.
Ia juga menjelaskan, tim produksi memberi perhatian khusus pada detail visual, terutama pantulan cahaya di mata Foufo. Karena ukuran mata karakter sangat besar, lingkungan sekitar lokasi syuting harus direkam terlebih dahulu agar refleksi cahaya pada proses CGI terlihat alami.
"Karena Anda tahu kan bahwa matanya dari Foufo itu kan segede itu kan ya. Nah, itu harus ada refleksi teman-teman. Kalau Anda tadi itu lihat ya maksudnya kayak teliti oh iya itu ada refleksinya itu kami capture dulu sekeliling untuk matanya itu," tambahnya.
2. Karakter Foufo dihidupkan oleh dua aktor sekaligus

Bayu juga mengungkapkan, karakter Foufo diperankan oleh dua aktor dengan tugas yang berbeda. Satu orang bertanggung jawab merekam gerakan tubuh menggunakan motion capture, sementara satu lainnya mengisi suara karakter tersebut.
"Terus juga untuk menghidupkan karakternya ini ada dua orang. Di sini ada Bambang Ceper dan juga ada Mas Ade Bibier. Mas Ade ini adalah orang yang mengisi suaranya, sementara Bambang Ceper yang gerak, teman-teman," sebut Bayu.
Ade Bibier mengaku proyek ini menjadi pengalaman baru sepanjang kariernya sebagai pengisi suara. Aktor yang juga dikenal sebagai pengisi suara SpongeBob versi Indonesia itu harus melakukan dubbing secara langsung agar gerakan dan suara karakter terasa menyatu.
"Saya lumayan lama di dunia dubbing tiba-tiba dapat proyek ini bersama Mas Bayu dan dipasangkan oleh Mas Bambang Ceper ini. Ini suatu hal yang sangat buat saya hal yang baru juga di film ini. Dubbing secara live," ungkap Ade.
Sementara itu, Bambang Ceper justru menghadapi tantangan dari sisi fisik. Ia harus mengenakan kostum motion capture yang cukup tebal sehingga mudah kepanasan saat syuting. Tim produksi sampai menyediakan ruang istirahat dengan dua unit AC khusus agar Bambang bisa memulihkan kondisi di sela-sela pengambilan gambar.
"Kalau aku pas kesulitan itu cuma di kostum ya, karena kostumnya itu tebal. Cuma kuat 30 menit. Kalau 30 menit lebih, susah itu," akunya.
3. Bayu berharap Foufo jadi terobosan di perfilman Indonesia

Di akhir sesi, Bayu berharap Foufo bisa menjadi langkah baru bagi perfilman Indonesia, baik dari sisi teknologi maupun keberanian mengangkat budaya lokal dalam balutan genre yang tidak biasa.
"Jadi harapannya ini bisa menjadi sesuatu nantinya di perfilman kita di Tanah Air. Jadi ini adalah nuansa yang berbeda yang bertajuk Science Fiction Comedy," harap Bayu.
Menurutnya, premis tentang alien yang bertemu masyarakat Madura sudah menghadirkan daya tarik tersendiri. Ia berharap film ini dapat menjadi tontonan keluarga yang hangat sekaligus memperkenalkan budaya Madura kepada penonton yang lebih luas.
"Ini kan sesuatu yang nampaknya wow sekali ya kan. Di mana UFO kok ketemu sama orang-orang Madura nih. Jadi dari premis saja sudah lucu sekali dan harapannya ini juga bisa menjadi tontonan yang hangat," pungkasnya.
Foufo menjadi film komedi fiksi ilmiah berlatar budaya Madura pertama di Indonesia. Sekitar 90 persen pemainnya merupakan aktor asli Madura, dengan sebagian besar dialog menggunakan bahasa Madura. Film garapan Bayu Skak ini dibintangi Tretan Muslim, Habib Ja'far, Ade "Bibier" Kurniawan, Benidictus Siregar, Bambang Ceper, Siti Kam, Fuad Sasmita, hingga DJ Rara. Foufo dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 9 Juli 2026.


















