Apa Benar Ada Kutukan Best New Artist di Grammy Awards?

Best New Artist merupakan salah satu kategori tertua di ajang Grammy Awards. Penghargaan ini sudah ada sejak penyelenggaraan Grammy Awards kedua yang digelar pada 1959 silam. Sejak saat itu, penghargaan ini menjadi penanda penting bagi musisi pendatang baru yang dinilai paling bersinar dalam setahun terakhir.
Namun, di balik prestise yang melekat pada penghargaan tersebut, tersimpan sebuah anggapan yang terus dibicarakan hingga kini. Banyak yang meyakini adanya “kutukan” Best New Artist, yang menyebut bahwa karier para pemenangnya justru akan meredup setelah membawa pulang piala gramofon emas tersebut.
Bahkan, alih-alih melesat semakin tinggi, sejumlah pemenang justru disebut kesulitan mempertahankan popularitas dan kesuksesan mereka di tahun-tahun berikutnya. Lantas, apa benar “kutukan” Best New Artist ini nyata? Atau hal tersebut cuma kebetulan saja? Yuk, mari kita bedah!
1. Beberapa musisi yang kariernya dinilai redup setelah memenangkan Best New Artist

Secara teori, penghargaan Best New Artist di Grammy Awards seharusnya menjadi tiket emas bagi musisi pendatang baru untuk mencapai karier yang lebih gemilang. Namun nyatanya, memang tak sedikit pemenang yang kariernya justru dinilai melempem, terutama di era 1990-an.
Contohnya, Marc Cohn, pemenang Best New Artist tahun 1992. Setelah berhasil mengalahkan Boyz II Men, ia nyaris justru tak lagi mencetak hit besar. Ada juga Paula Cole, yang dikenang lewat lagu “Where Have All the Cowboys Gone?” yang tak lagi bersinar di tanggal lagu setelah kemenangannya pada 1998 silam.
Bahkan, fun., yang mempopulerkan lagu "We Are Young", juga mengalami pasang surut karier. Setahun setelah meraih Best New Artist pada 2013, grup indie-pop itu justru mengumumkan hiatus, yang sampai saat ini masih berlangsung. Sementara gitarisnya, Jack Antonoff sukses menjadi penulis lagu untuk musisi papan atas dan vokalis grup Bleachers, mantan vokalisnya, Nate Ruess justru mengalami kesulitan mengembangkan karier solonya.
2. Beberapa di antara pemenang Best New Artist malah tersandung kontroversi

Di samping itu, tak sedikit pula pemenang Best New Artist yang kariernya meredup akibat kontroversi. Salah satu kasus paling terkenal adalah Milli Vanilli, pemenang Best New Artist 1990. Duo asal Jerman ini sempat meraih kesuksesan besar sepanjang 1989 dengan deretan lagu hit. Namun, kemenangan tersebut dicabut setelah terungkap bahwa mereka tidak menyanyikan lagu-lagu hits-nya sendiri, melainkan melakukan lip-sync dengan vokal penyanyi lain. Sejak saat itu, karier mereka pun tenggelam.
Ada juga Lauryn Hill, pemenang Best New Artist 1999 yang meraih kesuksesan lewat album klasik The Miseducation of Lauryn Hill yang bahkan mengantarkannya menyabet total lima Grammy. Namun, dua dekade setelah kemenangannya tersebut, Hill lebih sering disorot karena reputasinya sebagai artis tur yang sering bermasalah, mulai dari pembatalan konser dan keterlambatan tampil. Selain itu, hingga kini ia belum juga merilis album solo baru.
Dari deretan peristiwa di atas, tak heran bila muncul anggapan bahwa piala Best New Artist dari Grammy Awards justru lebih mirip kutukan. Media-media Amerika Serikat bahkan tak ragu membahas topik ini saat penghargaan itu digelar tiap tahunnya.
3. Kemenangan Dua Lipa hingga Billie Eilish patahkan “kutukan” Best New Artist

Nah, menariknya, dalam beberapa tahun terakhir, “kutukan” Best New Artist tersebut justru goyah. Babak baru ini dimulai pada 2019 ketika Dua Lipa, yang saat itu berusia 23 tahun keluar sebagai pemenang dengan mengalahkan sejumlah nomine kuat, seperti Chloe x Halle, Greta Van Fleet, H.E.R., Jorja Smith, Bebe Rexha, Margo Price, dan Luke Combs. Kemenangan tersebut ia raih sebelum album Future Nostalgia dirilis, ketika popularitasnya sebagai bintang pop global belum sepenuhnya terjamin.
Setahun kemudian, Billie Eilish melanjutkan tren positif tersebut. Ia tidak hanya mengalahkan pesaing kuat seperti Rosalía, Lizzo, Maggie Rogers, dan Lil Nas X, tetapi juga mencetak sejarah dengan menyapu bersih empat kategori utama, termasuk Song of the Year dan Album of the Year. Bahkan, pada Grammy Awards 2026 yang baru saja digelar, Billie Eilish pun kembali membuktikan konsistensinya dengan meraih penghargaan Song of the Year lewat lagu “Wildflower”.
Tren positif ini tidak hanya ditunjukkan oleh Dua Lipa dan Billie Eilish saja. Megan Thee Stallion, Olivia Rodrigo, Victoria Monét, hingga Chappell Roan juga berhasil membangun karier yang kian gemilang setelah memenangkan Best New Artist.
Lantas, bagaimana menurut kalian? Apakah “kutukan” Best New Artist di ajang Grammy Awards benar-benar ada, atau justru hanya kebetulan, bahkan mitos belaka?


















