Apa Itu Teknik Sinema Teater dan One Long Shot Film Ghost in the Cell?

- Film Ghost in the Cell karya Joko Anwar mengusung konsep sinema teater dan teknik one long shot, menghadirkan pengalaman menonton yang intens tanpa banyak potongan adegan.
- Dimas Danang dan Morgan Oey menjelaskan bahwa metode ini membuat interaksi antar pemain terasa alami, mirip pertunjukan teater dengan alur mengalir seperti opening film La La Land.
- Aming mengungkap gaya penyutradaraan Joko Anwar yang unik layaknya storyteller, menciptakan suasana mendalam; film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 April 2026.
Jakarta, IDN Times - Bioskop Indonesia bakal kedatangan film terbaru berjudul Ghost in the Cell. Membawa kisah tentang teror hantu di sebuah Lapas, film ini cukup diantisipasi karena tercatat sebagai karya terbaru sutradara Joko Anwar.
Saat media visit di kantor IDN, Kamis (5/3/2026), para pemain, Morgan Oey, Dimas Danang, dan Aming menceritakan bahwa film ini meninggalkan kesan mendalam bagi mereka. Hal ini karena film digarap dengan pendekatan sinema teater dan one long shot. Begini penjelasannya.
1. Penjelasan teknik sinema teater dan one long shot menurut Dimas Danang

Dalam momen wawancara yang berlangsung sekitar 70 menit, Dimas Danang menceritakan bahwa film Ghost in the Cell ini digarap dengan pendekatan sinema teater, di mana sebagian besar adegannya menggunakan teknik long shot, tepatnya sekitar 30 long shot.
Dengan teknik tersebut setiap adegan digarap seperti pertunjukan teater, di mana para pemain akan bergerak dan berinteraksi secara terus-menerus tanpa banyak potongan. Sebagai pemain, Danang mengaku terkesan dengan teknik pengambilan gambar ini karena ia merasa ada banyak momen yang tercipta secara natural, terutama karena semua pemain juga bisa bekerja sama dengan sangat kompak dan saling menyesuaikan diri.
“Jadi, dia tuh jalan gitu, adegannya jalan bener-bener kayak teater. Dan itu banyak banget hal-hal yang ajaib yang akhirnya keluar. Karena kenapa? Karena ya ensemble-nya juga udah jadi,” ungkap Danang dengan nada antusias.
2. Danang sebut gayanya mirip opening film La La Land

Morgan Oey memperkirakan salah satu alasan kenapa Joko Anwar memilih teknik tersebut adalah karena film ini bisa melibatkan sekitar 20 pemain dalam satu adegan. Menurutnya, dengan metode ini, semua pemain yang berada dalam satu ruangan sekaligus bisa bergerak sesuai peran mereka masing-masing, meskipun kamera sedang fokus pada karakter lain.
“Kan kita semua mau gak mau semuanya satu ruangan itu, walaupun kameranya nyorot yang lain, kita tetap mengerjakan apa yang kita kerjakan. Jadi itu yang benar-benar kayak teater aja. Makanya abang suka bilang, ‘Kalau ada yang salah nanti, tetap keep roll aja.’ Kalau kata abang itu magisnya,” lanjut Morgan.
Ia menambahkan, penndekatan sinema teater ini memungkinkan pengambilan gambar dilakukan tanpa banyak potongan, sehingga adegan tidak pecah-pecah dan alurnya tetap mengalir.
Danang kemudian menjelaskan bahwa gaya ini mirip dengan opening film La La Land.
“Kalau misalnya mau lihat sinema teater yang paling populer itu opening La La Land, kayak gitu flow-nya.”
3. Aming ungkap Joko Anwar bawa gaya storyteller saat mengarahkan pemain

Sementara itu, Aming menceritakan bahwa cara Joko Anwar mengarahkan adegan di film juga sangat unik. Alih-alih memberi perintah “Action!” seperti biasanya, ia lebih terkesan seperti seorang storyteller yang membangun suasana lewat narasi.
“Cara dia nge-direct tuh kocak ya. Kayak ketika waktu ‘Action!’, dia gak ‘Action’, tapi kayak ‘Ketika malam beranjak. Semua napi tertidur.’ Suasana jadi seram. Kayak storyteller,” cerita Aming sambil tersenyum.
Dengan berbagai gebrakan yang dihadirkan oleh Joko Anwar, Aming pun tak ragu menyebut film ini sebagai salah satu film terbaiknya. Catat tanggalnya, film Ghost in the Cell tayang di bioskop mulai 16 April 2026.



















