Harry Potter: Quidditch Champions (dok. Unbroken Studios/Harry Potter: Quidditch Champions)
Berbeda dengan dua sahabatnya, Hermione Granger kembali ke Hogwarts untuk menyelesaikan tahun ketujuhnya secara resmi. Dia mengikuti Nastily Exhausting Wizarding Test (NEWT) dan lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Hermione memilih untuk kembali ke sekolah di tengah euforia kemenangan perang. Saat Harry dan Ron merayakannya dengan kebebasan, Hermione merayakannya dengan cara yang paling Hermione: belajar.
Setelah lulus, Hermione memulai kariernya di Ministry of Magic. Dia bergabung dengan Department for the Regulation and Control of Magical Creatures. Hermione langsung tancap gas memperjuangkan hak-hak peri rumah, agenda yang sudah dibawanya sejak nekat mendirikan SPEW pada tahun keempatnya di Hogwarts.
Hermione percaya, memenangkan perang tidak berarti apa-apa jika ketidakadilan struktural di dunia sihir tidak ikut dibenahi. Baginya, perdamaian sejati bukan hanya soal tidak adanya Voldemort, melainkan juga soal sistem yang benar-benar setara untuk semua. Tidak heran karier Hermione menanjak hingga berpindah ke Department of Magical Law Enforcement.
Perjalanan luar biasa itu kemudian membawa Hermione Granger–si muggle-born yang pernah dilecehkan sebagai mudblood oleh kaum pureblood–menjadi Minister for Magic. Jabatan itu adalah puncak pemerintahan sihir Britania Raya. Dia menerimanya setelah Kingsley Shacklebolt turun.
Sekitar 19 tahun setelah Battle of Hogwarts, Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger berdiri bersama di Platform 9¾. Saat itu, mereka hadir sebagai orangtua yang mengantarkan anak-anak mereka memulai petualangan di Hogwarts. Usia ketiganya mungkin lebih tua, tetapi ikatan persahabatan mereka sama kuatnya.
Kisah Harry, Ron, dan Hermione sendiri bukan semata-mata tentang mengalahkan Voldemort, melainkan juga bab-bab yang panjang yang patut dinikmati lintas generasi. Perjalanan mereka yang sesungguhnya adalah tentang saling memilih, bahkan ketika perang sudah lama usai dan dunia sudah tidak lagi membutuhkan pahlawan. Mungkin pula itulah yang membuat kita, generasi yang tumbuh bersama karya J.K. Rowling, tidak pernah benar-benar bisa melepaskan buku-buku tentang mereka dan apa yang datang setelahnya.