Film Laut Bercerita (instagram.com/filmlautbercerita)
Salah satu bagian paling menyentuh dari Laut Bercerita adalah gambaran mengenai keluarga yang ditinggalkan. Cerita ini bukan hanya berfokus pada aktivis yang mengalami penculikan, tapi memperlihatkan bagaimana kehilangan tersebut mengubah kehidupan orang-orang terdekat mereka. Dalam cerita, pengalaman itu antara lain diwakili oleh Asmara Jati, adik Biru Laut, serta orang tua mereka.
Ketika seseorang dinyatakan hilang tanpa kepastian mengenai nasibnya, keluarga menghadapi situasi yang sangat berbeda dari kehilangan yang telah memperoleh kejelasan. Tragis, mereka gak tahu secara pasti apakah orang yang dicintai masih hidup, di mana keberadaannya, atau apa yang sebenarnya terjadi. Ketidakpastian tersebut membuat proses berduka menjadi rumit. Harapan untuk bertemu kembali dapat terus bertahan, sementara rasa takut dan kesedihan hadir bersamaan.
Dalam Laut Bercerita, suasana rumah, hubungan keluarga, dan penantian menjadi bagian penting dalam menyampaikan dampak tragedi tersebut. Kehilangan tak digambarkan hanya sebagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu, melainman sebagai sesuatu yang terus memengaruhi kehidupan mereka yang ditinggalkan. Dan, gambaran ini memiliki relevansi dengan pengalaman keluarga korban penghilangan paksa di Indonesia.
Bagi keluarga korban, perjuangan tak selalu berakhir ketika peristiwa penculikan berlalu. Mereka masih harus mencari informasi, menuntut pertanggungjawaban, serta mempertahankan ingatan tentang anggota keluarga yang belum kembali.
Di sinilah cerita Laut Bercerita memperlihatkan bahwa dampak pelanggaran hak asasi manusia dapat berlangsung jauh melampaui waktu terjadinya peristiwa. Korban bukan hanya mereka yang mengalami penangkapan dan penyekapan. Keluarga yang kehilangan orang terdekat juga menghadapi penderitaan yang panjang, terutama ketika kebenaran dan keadilan belum sepenuhnya terwujud.