Film Secrets Bawa Isu Sensitif, Sutradara Tak Ingin Dikte soal Nilai Moral

- Sutradara Ravi Bharwani menggarap Secrets dari pengalaman dan perasaan manusia, tanpa menetapkan pesan moral tunggal; penonton bebas memaknai perjuangan Parni, ibu tunggal yang menghadapi masa lalu kelam.
- Penulis Rayya Makarim menekankan riset mendalam dan empati untuk menggambarkan isu sensitif secara akurat, termasuk melalui wawancara dengan orang-orang yang mengalami situasi serupa.
- Ravi mengandalkan bahasa visual, gestur, dan ekspresi sesuai kebutuhan cerita, tanpa menolak dialog; Secrets yang dibintangi Sha Ine Febriyanti dan Abimana Aryasatya tayang di Netflix pada 3 Desember 2026.
Jakarta, IDN Times - Sutradara Ravi Bharwani punya pendekatan tersendiri dalam menggarap film, termasuk ketika mengangkat isu sensitif. Ia mengaku tidak memulai proses kreatifnya dari nilai moral tertentu, melainkan dari pengalaman dan perasaan manusia yang ingin ia ceritakan.
Menurutnya, setiap film memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan cerita dan penonton pun bebas memaknainya berdasarkan pengalaman serta perspektif masing-masing. Pandangan tersebut dibahas saat sang sutradara berbicara mengenai film terbarunya bersama Netflix berjudul Secrets.
Dibintangi oleh Sha Ine Febriyanti dan Abimana Aryasatya, film ini mengikuti kisah ibu tunggal bernama Parni yang berusaha membangun kehidupan yang lebih baik bersama sang putri. Namun, masa lalu kelamnya yang penuh kekerasan kembali mengancam kehidupan yang telah ia perjuangkan.
Dalam sesi JFW Talks bertajuk What Goes Unspoken? di Jakarta Film Week 2026, Ravi bersama penulis skenario Rayya Makarim membagikan proses kreatif di balik Secrets. Diskusi yang berlangsung di CGV Grand Indonesia pada Jumat (23/10/2026) tersebut juga menyinggung soal pendekatan Ravi dalam berkarya, serta pentingnya riset dan empati bagi Rayya Makarim ketika mengangkat karakter dengan pengalaman hidup yang sensitif.
1. Bahas isu sensitif film Secrets, Ravi Bharwani tak ingin dikte penonton soal nilai moral

sesi JFW Talks bertajuk What Goes Unspoken? di Jakarta Film Week 2026 (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Sutradara Ravi Bharwani kerap mengeksplorasi kompleksitas manusia dalam karya-karyanya. Baginya, sebuah cerita tidak selalu harus memberikan jawaban tegas tentang benar dan salah. Ada pengalaman manusia yang perlu dipahami lebih dalam, tanpa harus terburu-buru menghakimi atau menarik kesimpulan.
Pendekatan tersebut juga ia gunakan ketika menggarap film Secrets. Dalam sesi JFW Talks bertajuk What Goes Unspoken? yang berlangsung sekitar 60 menit, salah satu peserta sempat bertanya kepada sang sutradara tentang nilai moral apa yang ingin ia bagikan ke penonton. Sebagai respons, Ravi pun menegaskan, ia tidak pernah memulai proses kreatif dengan menetapkan pesan moral yang harus dibawa sebuah film. Ia justru berangkat dari pengalaman dan perasaan yang ingin disampaikan secara jujur melalui cerita.
“Begini, saya gak pernah berangkat dari nilai moralnya. Yang ada adalah saya punya pengalaman, saya punya rasa, dan saya mau jujur dengan rasa itu,” kata Ravi, Jumat (23/10/2026).
Ravi kemudian melanjutkan, melalui Secrets, ia ingin menawarkan pengalaman tentang seorang ibu yang berusaha memperbaiki diri sekaligus melindungi anaknya. Namun, Ravi tidak ingin pengalaman tersebut berhenti pada satu kesimpulan atau berubah menjadi pesan yang mengarahkan penonton untuk menilai karakter dengan cara tertentu. Ia ingin penonton terlebih dahulu menyelami perjalanan Parni dan memahami pergulatan yang dihadapinya.
“Seorang ibu yang berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya dan berusaha melindungi anaknya. Lalu apa yang didapatkan oleh penonton? Apakah ini sebuah moral tertentu? Saya pikir baiknya penonton yang menginterpretasikan untuk mendapatkan bagiannya masing-masing sesuai dengan personal experience, sesuai dengan lingkungannya dia,” lanjut sang sutradara.
Oleh karena itu, Ravi membebaskan penonton untuk memaknai ceritanya sendiri. Ia percaya bahwa tanpa satu pesan moral yang mengikat, sebuah film bisa dipahami dengan cara berbeda sesuai pengalaman hidup masing-masing penonton.
2. Penulis Rayya Makarim tekankan tentang pentingnya riset dan empati

sesi JFW Talks bertajuk What Goes Unspoken? di Jakarta Film Week 2026 (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Sementara itu, saat membahas isu sensitif yang diangkat ke dalam film Secrets, penulis skenario Rayya Makarim menekankan tentang pentingnya riset dan empati dalam proses penulisan. Menurutnya, penulis perlu benar-benar memahami pengalaman karakter, termasuk cara mereka berpikir, merasakan sesuatu, dan merespons situasi yang dihadapi agar karakter yang ditulis terasa nyata dan dapat dipercaya oleh penonton.
“Isu-isu yang diangkat juga sangat sensitif. Jadi perlu riset yang banyak banget. Saya selalu bilang, dulu ketika mengajar penulisan, untuk menjadi penulis, kita harus benar-benar memiliki empati yang sangat tinggi. Kita harus selalu memosisikan diri kita di dalam karakter itu karena kalau tidak, karakternya tidak akan believable,” kata Rayya.
Dalam proses penggarapan film Secrets, Rayya dan sutradara Ravi Bharwani pun berbincang dengan orang-orang yang pernah mengalami situasi serupa dengan yang diangkat ke dalam cerita film. Melalui proses tersebut, mereka berusaha memastikan penggambaran karakter dan peristiwa dalam film tetap akurat.
“Jadi, saya dan Ravi sangat bersyukur karena selalu diberi kesempatan untuk membaca, mewawancarai, dan berbicara dengan orang-orang yang pernah mengalami hal-hal tertentu. Tujuannya supaya apa yang saya tuliskan, apa yang kami tuliskan, menjadi sesuatu yang akurat, believable, dan membuat orang-orang bisa merasa, ‘Itu pernah gue alami. Gue pernah mengalami itu.’”
Rayya juga menilai bahwa empati tidak hanya diperlukan saat menulis karakter perempuan, tetapi juga laki-laki. Setiap karakter perlu dipahami dari sudut pandangnya sendiri agar penulis dapat menggambarkan tindakan dan pergulatan mereka secara utuh, tanpa terjebak pada asumsi pribadi.
3. Ravi Bharwani jelaskan soal gaya berceritanya yang minim dialog

sesi JFW Talks bertajuk What Goes Unspoken? di Jakarta Film Week 2026 (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Ravi Bharwani selama ini juga dikenal sebagai sutradara yang kerap mengandalkan bahasa visual, gestur, dan ekspresi karakter untuk menyampaikan emosi tanpa banyak dialog. Meski begitu, ia menegaskan bahwa setiap film memiliki bahasa penceritaan tersendiri dan tidak ada satu pendekatan yang berlaku untuk semua karya.
Sang sutradara juga menekankan bahwa ia tidak anti terhadap film dengan banyak dialog. Menurutnya, dialog tetap bisa menjadi pilihan yang tepat apabila memang menjadi cara terbaik untuk menyampaikan cerita. Ravi juga mengaku tidak ingin menggeneralisasi penonton atau menentukan bagaimana mereka seharusnya menikmati sebuah film. Baginya, dunia sinema memiliki begitu banyak kemungkinan dan kompleksitas yang tidak perlu dibatasi oleh aturan tertentu.
“Saya gak bisa menggeneralisasi penonton, dan juga saya gak mau bilang, “Oh, ini penonton harus begini. There’s no one strict language. Ada film yang dengan banyak dialog, tapi memang itu yang dia bisa sampaikan, which is brilliant juga. Saya bukan anti-film dialog, tapi hanya ini yang saya bisa bikin, hanya ini cara saya bisa bekerja.”
Oleh karena itu, ia memilih membiarkan setiap film menemukan penontonnya sendiri. Ravi percaya bahwa setiap karya memiliki bahasa dan cara penyampaian yang berbeda, sehingga penonton pun dapat menemukan pengalaman serta makna yang beragam saat menyaksikannya. Film Secrets sendiri tayang di perdana di Netflix mulai 3 Desember 2026.
























