Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Benarkah Hollywood Tak Lagi Laku di Bioskop Indonesia?
Spider-Man: Brand New Day dan Avengers: Doomsday (Instagram.com/spidermanmovie | Instagram.com/marvel)
  • Film Indonesia memimpin jumlah penonton pada lima dari sembilan tahun para periode 2017–2025, termasuk dominasi empat tahun beruntun sejak 2022

  • Pengamat Daniel Irawan menilai perubahan pasar dipengaruhi persepsi stagnasi kreativitas Hollywood dan selera penonton yang makin mencari cerita lokal dekat dengan isu keluarga, ekonomi, serta kehidupan sehari-hari.

  • Hollywood belum kehilangan daya tarik: Spider-Man: Brand New Day mencatat 6.956.761 tiket di Indonesia, tetapi nama franchise besar dinilai tidak otomatis menjamin keberhasilan film.

  • Persoalannya bukan sebatas siapa yang berasal dari Hollywood atau Indonesia, melainkan siapa yang mampu memberikan cerita dan pengalaman yang membuat penonton merasa perlu datang ke bioskop.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Sebelum pandemik COVID-19 mengubah industri perfilman, film Hollywood memiliki daya tarik kuat di bioskop Indonesia. Hal tersebut terlihat dari capaian sejumlah blockbuster dan franchise populer.

Pada 2017, misalnya, The Fate of the Furious menjadi film dengan admissions di Indonesia, yaitu 5.451.483 tiket terjual. Dominasi film Hollywood pun berlanjut pada 2018 melalui Avengers: Infinity War yang mencatat penjualan tiket sebanyak 8.220.812. Bahkan, setahun berselang, Avengers: Endgame kembali memimpin dengan capaian yang lebih tinggi, yakni 10.976.338.

Namun, setelah pandemik berdampak besar terhadap aktivitas bioskop, persaingan di pasar domestik mulai menunjukkan perubahan. Film Indonesia memperlihatkan daya saing yang semakin kuat.

Berdasarkan data Cinepoint, film Indonesia menjadi film dengan jumlah penonton tertinggi dengan lima dari sembilan tahun pada periode 2017–2025. Setelah Hollywood memimpin pada 2017–2019, Milea: Suara dari Dilan sukses mengambil posisi teratas pada 2020 dengan 3.157.817 penonton. Sementara itu, Hollywood sempat kembali memimpin pada 2021 melalui Spider-Man: No Way Home yang mengumpulkan 8.215.014 penjualan tiket.

Setelah itu, film Indonesia mendominasi posisi teratas selama empat tahun berturut-turut. KKN di Desa Penari meraih 10.061.033 penjualan tiket pada 2022, Sewu Dino 4.886.406 pada 2023, Agak Laen 9.127.602 pada 2024, Jumbo dan Agak Laen: Menyala Pantiku! masing-masing 10.076.973 dan 11.000.866 tiket terjual pada 2025. Menariknya lagi, capaian film Agak Laen: Menyala Pantiku! sukses melampaui Avengers: Endgame.

Lantas, apakah angka-angka ini menandakan bahwa era dominasi Hollywood di bioskop Indonesia mulai berakhir? Yuk, mari kita bahas!

1. Film Indonesia kuasai pasar, Hollywood mulai tergeser?

Spider-Man: Brand New Day (Instagram.com/spidermanmovie)

Jika dilihat dari perjalanannya, peningkatan capaian film Indonesia berlangsung di tengah perubahan lanskap perfilman global setelah pandemik. Sejumlah rilisan Hollywood yang sempat diprediksi menjadi magnet penonton justru tidak selalu mencapai hasil yang sesuai harapan.

Kritikus dan pengamat film Daniel Irawan melihat kondisi tersebut turut dipengaruhi oleh persoalan kreativitas. Menurutnya, muncul persepsi bahwa Hollywood mulai kehabisan gagasan segar sehingga beberapa film besar kurang mampu memenuhi ekspektasi penonton. Daniel pun mencontohkan Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022) sebagai salah satu judul yang menurutnya memperlihatkan kondisi tersebut.

“Memang benar ada persepsi film Hollywood sedang menurun. Banyak yang melihat ide-ide di dalamnya mulai stagnan. Setelah pandemi, kita sempat berpikir bahwa Hollywood akan mati. Bahkan Doctor Strange juga tidak berhasil seperti yang diharapkan,” kata Daniel dalam wawancara online bersama IDN Times.

Namun, ia menegaskan, perubahan itu tidak berarti Hollywood tergeser atau kehilangan kekuatannya. Salah satu persoalan yang kini terlihat adalah perbedaan respons penonton di setiap pasar. Film yang sukses besar di Amerika Serikat belum tentu mendapatkan hasil serupa di negara lain.

“Pandemi membuat kita mulai melihat kembali tren-tren yang ada. Sekarang, ketika sebuah film Amerika laku di pasar domestik, belum tentu otomatis laku di internasional. Begitu juga sebaliknya,” lanjutnya.

Daniel mencontohkan Moana yang mendapat sambutan cukup baik di Indonesia, film keduanya (2026) menjual 3.187.999 tiket. Secara global, film ini meraup 1,059 miliar dolar AS, masih di bawah Toy Story 5 (2026) yang mengumpulkan 1,14 miliar dolar AS, karena secara brand, menurut Daniel, Toy Story lebih dulu dikenal luas. Meski begitu, Woody dan gengnya ketinggalan dari Moana di Indonesia, dengan mencatatkan 2.393.403 penjualan tiket di Indonesia.

Contoh lain, Lilo & Stitch (2025). Meski performanya tidak sama di setiap negara, film yang meraup 913 ribu penjualan tiket di Indonesia ini mencatatkan box office global lebih dari 1 miliar dolar AS.

2. Bukan Hollywood tak laku, melainkan selera penonton Indonesia berubah

potret Daniel Irawan (Instagram.com/danieldokter)

Perubahan posisi atas box office Indonesia ini pun tak terlepas dari pergeseran selera penonton. Daniel melihat, penonton kini semakin mempertimbangkan kedekatan cerita dengan kehidupan mereka ketika memilih film di bioskop. Menurutnya, perubahan tersebut juga berkaitan dengan karakter penonton yang datang ke bioskop saat ini. Meski belum ada survei resmi terkait demografi penonton bioskop di Indonesia, terdapat anggapan di kalangan industri bahwa penonton saat ini banyak berasal dari Gen Z, terutama kelompok menengah ke bawah.

“Jadi, kita mulai melihat adanya pergeseran selera. Walaupun tidak ada survei resmi mengenai demografi penonton di Indonesia, berdasarkan pembicaraan di industri film, ada anggapan bahwa penonton bioskop sekarang didominasi Gen Z, terutama dari kalangan menengah ke bawah. Hal itu membuat penonton Indonesia cenderung memilih film yang lebih relate dengan kehidupan mereka,” lanjutnya.

Kecenderungan itu juga terlihat dari semakin banyaknya film yang mengangkat persoalan keluarga dan kondisi ekonomi masyarakat kelas menengah, termasuk cerita tentang sandwich generation hingga konflik antaranggota keluarga yang terasa lebih dekat dengan kehidupan penonton.

“Produser dari waktu ke waktu juga melakukan survei mengenai film apa yang sebaiknya diproduksi. Pada akhirnya, mereka cenderung mengikuti tren yang ada. Di Indonesia sekarang, salah satu yang sedang naik adalah drama keluarga kelas menengah (middle class) yang mengangkat persoalan ekonomi dan sosial yang dekat dengan penontonnya.”

Ia melanjutkan, “Itulah mengapa film keluarga sekarang sedang naik.”

Menurut Daniel, kedekatan tersebut menjadi salah satu keunggulan film lokal di pasar domestik. Penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga bisa menemukan pengalaman, persoalan, atau karakter yang terasa familier.

Pada akhirnya, perubahan selera inilah yang membuat persaingan di box office Indonesia semakin terbuka. Film Hollywood tetap memiliki pasar, tetapi film lokal mampu menawarkan sesuatu yang lebih dekat dengan keseharian penonton. Jadi, persoalannya bukan sebatas siapa yang berasal dari Hollywood atau Indonesia, melainkan siapa yang mampu memberikan cerita dan pengalaman yang membuat penonton merasa perlu datang ke bioskop.

3. Hollywood belum mati, tapi nama besar tak lagi cukup

Avengers: Doomsday (Instagram.com/marvel)

Meski film Indonesia semakin kuat di box office, Daniel menilai terlalu dini untuk menyebut dominasi Hollywood telah berakhir. Menurutnya, masih ada film-film besar yang berpotensi menarik perhatian penonton dan mengubah persaingan di bioskop.

Hal tersebut salah satunya terlihat dari Spider-Man: Brand New Day. Berdasarkan data Cinepoint, film tersebut telah mencatat 6.956.761 penjualan tiket di Indonesia, bahkan menjadi film dengan admissions tertinggi tahun ini. Capaian tersebut juga menunjukkan bahwa franchise besar Hollywood masih memiliki daya tarik yang kuat di pasar Indonesia.

“Menurut saya, terlalu dini kalau mengatakan dominasi Hollywood sudah mati,” kata Daniel.

Daniel menambahkan, setelah Spider-Man: Brand New Day, Avengers: Doomsday juga menjadi salah satu film yang menurutnya patut diperhatikan. Namun, ia kembali mengingatkan bahwa besarnya nama sebuah franchise tidak otomatis menjamin bahwa film tersebut akan berhasil.

“Apakah Avengers: Doomsday pasti berhasil? Belum tentu. Kita masih harus melihat respons penonton,” ujarnya.

Dengan kata lain, Hollywood masih memiliki kekuatan untuk menarik penonton Indonesia, terutama lewat franchise besar yang sudah memiliki basis penggemar. Meski begitu, capaian Spider-Man: Brand New Day saja belum cukup untuk mengembalikan dominasi Hollywood seperti sebelum pandemik.

Persaingan di bioskop Indonesia kini semakin terbuka. Film lokal punya kekuatan lewat cerita yang dekat dengan keseharian, sementara Hollywood masih mengandalkan franchise besar dan pengalaman menonton di layar lebar. Pada akhirnya, bukan lagi soal Hollywood atau film Indonesia, tetapi film mana yang berhasil membuat penonton merasa perlu datang ke bioskop.

Curated For You

Editorial Team

Related Article