Jakarta, IDN Times - Sebelum pandemik COVID-19 mengubah industri perfilman, film Hollywood memiliki daya tarik kuat di bioskop Indonesia. Hal tersebut terlihat dari capaian sejumlah blockbuster dan franchise populer.
Pada 2017, misalnya, The Fate of the Furious menjadi film dengan admissions di Indonesia, yaitu 5.451.483 tiket terjual. Dominasi film Hollywood pun berlanjut pada 2018 melalui Avengers: Infinity War yang mencatat penjualan tiket sebanyak 8.220.812. Bahkan, setahun berselang, Avengers: Endgame kembali memimpin dengan capaian yang lebih tinggi, yakni 10.976.338.
Namun, setelah pandemik berdampak besar terhadap aktivitas bioskop, persaingan di pasar domestik mulai menunjukkan perubahan. Film Indonesia memperlihatkan daya saing yang semakin kuat.
Berdasarkan data Cinepoint, film Indonesia menjadi film dengan jumlah penonton tertinggi dengan lima dari sembilan tahun pada periode 2017–2025. Setelah Hollywood memimpin pada 2017–2019, Milea: Suara dari Dilan sukses mengambil posisi teratas pada 2020 dengan 3.157.817 penonton. Sementara itu, Hollywood sempat kembali memimpin pada 2021 melalui Spider-Man: No Way Home yang mengumpulkan 8.215.014 penjualan tiket.
Setelah itu, film Indonesia mendominasi posisi teratas selama empat tahun berturut-turut. KKN di Desa Penari meraih 10.061.033 penjualan tiket pada 2022, Sewu Dino 4.886.406 pada 2023, Agak Laen 9.127.602 pada 2024, Jumbo dan Agak Laen: Menyala Pantiku! masing-masing 10.076.973 dan 11.000.866 tiket terjual pada 2025. Menariknya lagi, capaian film Agak Laen: Menyala Pantiku! sukses melampaui Avengers: Endgame.
Lantas, apakah angka-angka ini menandakan bahwa era dominasi Hollywood di bioskop Indonesia mulai berakhir? Yuk, mari kita bahas!
