Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

4 Film Indonesia tentang Aktivisme yang Penuh Perjuangan

4 Film Indonesia tentang Aktivisme yang Penuh Perjuangan
Laut Bercerita (dok. Pal 8 Pictures/Laut Bercerita)
  • Artikel merekomendasikan empat film Indonesia bertema aktivisme yang menyoroti perjuangan, idealisme, tekanan personal, serta konsekuensi dari keberanian menyuarakan kritik.
  • Gie menampilkan idealisme kritis Soe Hok Gie dalam gerakan mahasiswa, sementara Istirahatlah Kata-Kata mengikuti Wiji Thukul yang tetap melawan lewat puisi saat bersembunyi.
  • Surat dari Praha mengangkat dampak panjang pergolakan politik bagi diaspora, sedangkan Laut Bercerita menggambarkan aktivisme mahasiswa menjelang Reformasi 1998 dan kehilangan orang-orang terdekat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Film tentang aktivis Indonesia membawa penonton menyelami kisah perjuangan, idealisme, dan keberanian untuk menyuarakan sesuatu yang diyakini benar. Tidak hanya menghadirkan demonstrasi atau konflik politik, film-film bertema aktivisme juga memperlihatkan sisi personal orang-orang yang harus berhadapan dengan tekanan, kehilangan, hingga konsekuensi dari pilihan mereka.

Menariknya, kisah tentang aktivis di perfilman Indonesia hadir dalam berbagai bentuk. Nah, khusus untuk kamu, berikut rekomendasi empat film Indonesia bertema aktivisme yang penuh perjuangan. Coba tonton untuk membuka perspektifmu!

  1. 1. Gie (2005)

    Gie
    Gie (dok. Miles Film/Gie)

    Gie merupakan film biografi yang disutradarai oleh Riri Riza dan dibintangi Nicholas Saputra sebagai Soe Hok Gie. Film ini mengisahkan kehidupan Gie sebagai mahasiswa yang kritis terhadap berbagai persoalan politik dan sosial di Indonesia. Ceritanya diadaptasi dari buku Catatan Seorang Demonstran dan memperlihatkan perjalanan Gie sejak masa sekolah hingga keterlibatannya dalam berbagai gerakan mahasiswa.

    Soe Hok Gie dikenal sebagai sosok yang memiliki idealisme kuat dan tidak takut menyampaikan kritik terhadap penguasa. Ia bahkan tetap mempertahankan sikap kritisnya ketika orang-orang di sekitarnya mulai mengambil posisi yang berbeda. Film ini menarik karena tidak hanya memperlihatkan Gie sebagai aktivis, tetapi juga sebagai anak muda yang berusaha mempertahankan prinsip di tengah perubahan politik Indonesia.

  2. 2. Istirahatlah Kata-Kata (2016)

    Istirahatlah Kata-Kata
    Istirahatlah Kata-Kata (dok. Kawankawan Film/Istirahatlah Kata-Kata)

    Istirahatlah Kata-Kata merupakan film biografi karya Yosep Anggi Noen yang mengangkat kisah penyair sekaligus aktivis Wiji Thukul. Film ini berfokus pada periode ketika Wiji Thukul (Gunawan Maryanto) harus hidup dalam persembunyian setelah situasi politik yang semakin represif terhadap kelompok-kelompok yang dianggap berseberangan dengan pemerintah. Kehidupan dalam persembunyian membuatnya harus berjauhan dari keluarga dan orang-orang yang dicintainya.

    Wiji Thukul tetap menulis puisi meskipun berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Kata-kata menjadi salah satu bentuk perlawanan yang ia miliki ketika kebebasan untuk berbicara semakin terbatas. Film ini menawarkan gambaran aktivisme yang lebih sunyi dan personal, sekaligus menunjukkan bahwa perjuangan tidak selalu dilakukan melalui aksi demonstrasi, tetapi juga dapat melalui karya dan keberanian untuk terus bersuara.

  3. 3. Surat dari Praha (2016)

    Surat dari Praha
    Surat dari Praha (dok. Visinema Pictures/Surat dari Praha)

    Surat dari Praha garapan Angga Dwimas Sasongko membawa kisah pergolakan politik Indonesia ke dalam cerita yang lebih personal. Film ini menghadirkan Jaya (Tio Pakusadewo), seorang pria Indonesia yang hidup di Praha setelah masa pergolakan politik di tanah air. Kehidupannya di luar negeri ternyata berkaitan erat dengan keputusan politik dan sejarah Indonesia pada masa lalu.

    Cerita bermula ketika Larasati (Julie Estelle) pergi ke Praha untuk memenuhi permintaan ibunya sekaligus menyelesaikan urusan mengenai warisan. Pertemuannya dengan Jaya kemudian membuka berbagai rahasia masa lalu keluarga dan kehidupan orang-orang Indonesia yang terpaksa tinggal jauh dari tanah air. Film ini menarik karena memperlihatkan bahwa dampak pergolakan politik tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Indonesia, tetapi dapat mengikutinya selama puluhan tahun.

  4. 4. Laut Bercerita (2026)

    Laut Bercerita
    Laut Bercerita (dok. Yayasan Dian Sastrowardoyo/Laut Bercerita)

    Laut Bercerita merupakan film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori dan disutradarai oleh Yosep Anggi Noen. Film ini mengikuti kisah Biru Laut (Reza Rahadian), seorang mahasiswa yang aktif dalam kelompok diskusi dan gerakan politik menjelang Reformasi 1998. Bersama teman-temannya, ia berusaha menyuarakan kritik terhadap pemerintahan Orde Baru yang saat itu membatasi kebebasan berpendapat.

    Kisah Biru Laut kemudian membawa penonton pada salah satu tragedi yang berkaitan dengan aktivis mahasiswa pada masa tersebut. Selain memperlihatkan keberanian anak muda dalam memperjuangkan perubahan, film ini juga menggambarkan persahabatan, hubungan keluarga, serta rasa kehilangan yang dialami orang-orang yang ditinggalkan. Laut Bercerita menjadi tontonan yang menarik karena mengingatkan bahwa di balik sejarah Reformasi terdapat kisah personal para aktivis yang mempertaruhkan kebebasan, bahkan nyawa mereka.

    Keempat film di atas menawarkan cara yang berbeda dalam menggambarkan aktivisme dan pergolakan sosial-politik di Indonesia. Gie membawa penonton pada idealisme mahasiswa era 1960-an, sedangkan Istirahatlah Kata-Kata dan Surat dari Praha memperlihatkan dampak represifnya politik terhadap kehidupan seseorang. Sementara itu, Laut Bercerita menghadirkan perspektif tragedi dan luka yang berkaitan dengan pergolakan Indonesia menjelang Reformasi 1998. Masukkan dalam watchlist, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More