band Good Morning Everyone (GME) pada Rabu (19/8/2026) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
Nama Good Morning Everyone berawal dari kebiasaan guru Bahasa Inggris Yuli saat mengajar di SMA. Setiap masuk kelas, sang guru selalu menyapa murid-muridnya dengan ucapan “Good Morning Everyone”. Sapaan sederhana tersebut kemudian melekat di ingatan Yuli dan akhirnya menjadi nama band yang pertama kali ia bentuk pada 2008 saat masih duduk di bangku SMA.
Seiring berjalannya waktu, Yuli bertemu dengan sejumlah musisi lain di skena musik Semarang. Formasi band pun beberapa kali mengalami pergantian personel hingga akhirnya terbentuk susunan yang bertahan hingga sekarang pada 2018.
“Yang dari awal saya terus ketemu sama teman-teman ini di skena musik Semarang. Terus pergantian personel, ganti satu-satu. Jadi masuknya kayak langsung bareng. Ada Daniel dulu, terus Ari (Dhani), terus Sani. Akhirnya terbentuklah formasi yang sekarang itu di tahun 2018,” ujar Yuli.
Nama Good Morning Everyone sendiri kemudian disingkat menjadi GME agar lebih praktis digunakan. Meski sempat terpikir untuk mengganti nama band, mereka akhirnya memilih mempertahankan nama yang sudah telanjur melekat tersebut.
“Sama yang lainnya akhirnya sekarang dipersingkat, disingkatin GME doang, tapi tetap Good Morning Everyone. Iya, cuma akronim aja sekarang. Sempat mau ganti nama, tapi kayaknya udah terlanjur. Udah itu aja, disingkat aja deh biar lebih gampang. Kadang Good Morning Everyone tuh,” jelas sang gitaris.
Kini, GME pun sudah mulai merasakan kesuksesan dengan manggung di beberapa negara, seperti Singapura, Vietnam, hingga Korea Selatan. Mereka juga pernah menajdi opening untuk Tunggu Aku di... Tur milik Sheila on 7.