Review All Wishes Come True!, Kisah Dewa dan Aksi Kocak dalam Satu Paket

Bagaimana jadinya jika kisah asal-usul Delapan Dewa Tiongkok dibalut dalam plot perampokan ala Ocean's Eleven (2001)? Pertanyaan tersebut dijawab dengan cara yang cukup liar oleh All Wishes Come True! (Bāxiān!), film animasi terbaru garapan Mu Zhengyang yang memadukan mitologi Tiongkok, komedi, aksi kung fu, dan plot heist dalam satu paket.
Alih-alih menghadirkan para dewa sebagai sosok sakral, film ini justru menempatkan delapan rakyat jelata yang harus mengandalkan kecerdikan mereka untuk menyusup ke alam para dewa. Hasilnya? Film yang tak hanya menawarkan tontonan spektakuler, tetapi juga punya cukup banyak kejutan emosional di balik kekonyolan karakter-karakternya. Berikut ulasan All Wishes Come True!
Sinopsis All Wishes Come True! (2026)
Kisah bermula ketika Lü Dongbin dan Zhongli Quan, dua saudara perguruan, merencanakan penyusupan ke brankas surgawi di Penglai (pulau tempat tinggal para dewa). Target mereka adalah Lentera Yu-Xu, sebuah benda ajaib yang dipercaya memiliki kekuatan untuk melindungi umat manusia, sekaligus harta karun yang tersimpan di brankas milik Dewa Fu Lu Shou.
Untuk menjalankan misi tersebut, mereka merekrut enam orang lainnya yang sama-sama dianggap sebagai kaum tersisih atau "orang buangan". Delapan manusia ini kemudian membentuk kelompok yang tidak biasa dan berusaha mengelabui sistem keamanan alam para dewa.
Namun, perampokan yang awalnya terlihat seperti aksi nekat berubah menjadi petualangan besar. Mereka menemukan adanya konspirasi yang jauh lebih berbahaya dan harus menghadapi para dewa sekaligus mempertanyakan tujuan mereka sendiri.
Di tengah pertarungan, aksi konyol, dan berbagai rencana yang sering kali berjalan di luar kendali, kedelapan karakter tersebut perlahan menemukan keberanian untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar mencuri harta karun. Mampukah mereka melakukannya?
All Wishes Come True!20264/5Directed by Mu ZhengyangProducer Cao Linlin
Writer Mu Zhengyang
Age Rating R13
Genre Animation, comedy
Duration 144 Minutes
Release Date 2 September
Theme Adventure, fantasy, heist, kung fu
Production House CMC Pictures, Pearl Studio
Where to Watch Cinema XXI, CGV, Cinépolis Indonesia
Cast Hao Chen, Yuze Han, Yunqi Zhang
Trailer All Wishes Come True! (2026)
Cuplikan film All Wishes Come True! (2026)
1. Mitologi Tiongkok bertemu heist-comedy
Hal paling menarik dari All Wishes Come True! adalah keberaniannya mengawinkan sesuatu yang sangat tradisional dengan formula film heist modern. Seperti diketahui, film ini mengambil inspirasi dari legenda Delapan Dewa (The Eight Immortals). Namun alih-alih serius, para karakter justru diceritakan sebagai kelompok manusia biasa dengan latar belakang dan kepentingannya masing-masing.
Struktur ceritanya kemudian terasa seperti Ocean's Eleven yang dilempar ke alam mitologi Tiongkok. Ada misi besar, perekrutan anggota tim, strategi penyusupan, berbagai rencana yang tidak berjalan sesuai harapan, hingga plot twist yang membuat kita sebagai penonton harus mengatur ulang pemahaman terhadap kedelapan karakternya.
Lalu, yang membuat All Wishes Come True! semakin menyenangkan adalah keberanian untuk tidak hanya bergantung pada humor receh. Di balik kelompok manusia yang terlihat konyol ini, masing-masing memiliki persoalan dan latar belakang yang perlahan dibuka. Zhongli Quan misalnya, diperkenalkan sebagai pencuri sekaligus penipu, tetapi memiliki kisah masa lalu yang memberikan dimensi baru terhadap karakternya.
Menuju pertengahan cerita, film kemudian mulai berbicara mengenai niat baik, pengorbanan, kompromi, serta konsekuensi dari pilihan yang kita ambil. Menariknya, semua momen itu tidak terasa "patah" seolah disengaja untuk berkhotbah. Elemen emosional tersebut justru mengalir di antara aksi dan komedi yang sudah kental sejak menit pertama film.
2. Visual tingkat dewa yang memanjakan mata
Selain konsepnya yang unik, aspek visual juga menjadi alasan lain mengapa All Wishes Come True! terasa begitu ambisius. Film ini memadukan estetika tradisional Tiongkok dengan gaya animasi modern yang dinamis. Alam Penglai, istana para dewa, desain karakter, hingga adegan pertarungannya memiliki skala visual yang terasa besar.
Adegan aksinya juga bukan sekadar tempelan. Koreografi kung fu menjadi bagian penting dari identitas film, sementara pergerakan kamera dan animasinya memberikan energi yang membuat pertarungan terasa hidup. Ada perpaduan antara mitologi Timur dan konvensi blockbuster Hollywood yang cukup menarik. Hasilnya memang kadang terasa "lebay", tetapi justru itulah sisi uniknya.
Bahkan ketika ceritanya mulai konyol, film tetap memiliki kemampuan untuk memberikan visual yang serius. Kontras tersebut membuat All Wishes Come True! punya identitas tersendiri. Ia bisa membuat penonton tertawa dalam satu adegan, kemudian memberikan pertarungan kolosal beberapa menit setelahnya. Sebagai film animasi, jelas kalau kualitas visual film ini menjadi salah satu senjata terbesarnya.
3. Durasi cukup panjang, tetapi diselamatkan banyak plot twist
Dengan durasi sekitar 144 menit atau 2,5 jam, All Wishes Come True! jelas bukan film animasi pendek. Panjangnya durasi pun cukup terasa. Di beberapa bagian, temponya sedikit terlalu cepat (atau lambat). Ada pula plot yang rasanya bisa dipadatkan.
Namun, film ini cukup pintar menahan perhatian penonton melalui berbagai pengungkapan di pertengahan sampai akhir film. Formula heist memungkinkan cerita terus memberikan informasi baru. Ketika kita merasa sudah memahami siapa karakter tertentu dan apa motivasinya, film kembali membuka lapisan lain.
Plot twist menjadi salah satu elemen yang membuat perjalanan panjang ini terasa lebih berharga. Menariknya, twist tersebut tak cuma digunakan sebagai kejutan kosong. Beberapa di antaranya justru memperkaya pemahaman terhadap karakter dan konflik yang sudah dibangun sejak awal. Paruh terakhir film juga terasa lebih kuat karena aksi semakin intens dan konflik mulai memiliki konsekuensi emosional yang lebih besar.
Meskipun durasi All Wishes Come True! sedikit terasa kepanjangan, ia setidaknya memiliki cukup banyak amunisi untuk menjaga penonton tetap berada di dalam ceritanya. Jangan lupakan mid-credit scene yang bakal membuatmu bertanya-tanya setelah keluar bioskop.
4. Apakah All Wishes Come True! Recommended untuk Ditonton?
Sangat direkomendasikan. All Wishes Come True! paham kalau mitologi tidak harus selalu diperlakukan secara sakral dan kaku. Delapan Dewa Keberuntungan justru diolah menjadi kelompok marjinal yang lucu, berantakan, tetapi perlahan berkembang menjadi karakter-karakter yang memiliki kedalaman.
Memang, film ini tidak sempurna. Durasi panjang dan beberapa bagian dengan tempo yang kurang rata masih menjadi catatan. Namun, plot twist, chemistry antarkarakter, adegan aksi, dan kualitas animasinya yang memanjakan mata berhasil membuat film ini tetap menghibur selama 2,5 jam.
Namun kalau boleh jujur, satu hal yang paling saya sukai justru keberanian film memasukkan tema serius ke dalam cerita yang sekilas terlihat konyol. Ada pembahasan mengenai niat baik, integritas, konsekuensi, pengorbanan, dan bagaimana orang-orang yang diremehkan justru bisa melakukan hal-hal yang luar biasa.
Ya, All Wishes Come True! bukan sekadar film tentang delapan orang yang ingin mencuri harta dari para dewa. Ini adalah kisah tentang orang-orang yang dianggap tidak penting, kemudian membuktikan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh bagaimana dunia melihat mereka.
Jika kamu menyukai film animasi dengan kombinasi fantasi, komedi, mitologi, dan aksi yang penuh plot twist, film ini jelas layak masuk daftar tontonan. Apalagi kalau penasaran dengan Ocean's Eleven atau "Avengers" versi dewa Tiongkok. Dan mungkin setelah menontonnya, kamu malah tertarik untuk memelajari lebih lanjut tentang mitologi dan cerita rakyat dari Tiongkok.


















