potret Nadin Amizah (dok. Sorai)
Nadin Amizah menyebut bahwa ia merupakan tipe musisi yang memilih produser berdasarkan karakter suara yang ingin ia sampaikan lewat setiap lagu. Ia merasa warna musik tersebut tidak selalu bisa dihadirkan oleh satu produser saja.
Menurut Nadin, meski ada beberapa produser yang versatil, seperti Lafa Pratomo dan Baskara Putra (Hindia), setiap produser tetap memiliki kekuatan dan pendekatannya masing-masing. Karena hal tersebut, ia pun mantap melibatkan 10 produser sekaligus dalam Laika, yang Ditinggalkan.
“Aku tipe orang yang mencari produser sesuai sama suara apa yang ingin aku sampaikan di lagunya. Nah, kebetulan suara-suara tersebut menurut aku tidak bisa dilakukan oleh satu produser. Walaupun kita kenal gak banyak produser yang versatil, kayak ada salah satunya lafa, Baskara, tapi aku merasa mereka punya kekuatan masing-masing. Makanya aku berani untuk pilih si 10 produser itu.”
Selain beberapa nama seperti Feby Putri, Lafa Pratomo, Baskara Putra (Hindia), Enrico Octaviano, dan Otta Tarego, album Laika, yang Ditinggalkan juga melibatkan seorang produser asal Amerika Serikat, Jay Ragsdale lewat lagu “Reservasi untuk Dua.”
Bagi Nadin, pengalaman diproduseri Ragsdale tersebut menjadi salah satu yang berkesan baginya. Bukan karena proses produksinya, tetapi karena Nadin harus menjelaskan konteks budaya Indonesia yang begitu kuat di dalam lagu tersebut. Salah satunya soal kata ‘durhaka’ hingga ia harus menjelaskan kepada sang produser tentang seberapa berat makna kata tersebut bagi masyarakat Indonesia.
“Itu susah banget karena aku harus ngejelasin durhaka itu apa. Sedangkan aku baru sadar ternyata durhaka tuh cultural banget. Karena bahkan sama orang muslim, mungkin kalau kamu tinggal di Amerika, durhaka itu sebenarnya gak ada direct translation-nya.”
Nadin melanjutkan, “Untuk mengerti lagunya seberat apa kan harus mengerti dulu durhaka itu bagi orang Indonesia, seberat apa? Rasanya kalau seorang anak udah dibilang, ‘Durhaka kamu. Nah, itu rasanya dunia udah hancur bagi dia. Bayangin itu baru satu kata, gue harus ngejelasinnya berapa puluh kata, berapa ratus kata sepenuh lirik itu.”
Meski gak mudah, Nadin tak menampik bahwa proses tersebut juga menjadi pengalaman yang menarik baginya. Saat menjelaskan makna di balik setiap bagian lagu, ia merasa menemukan kembali kedalaman cerita yang sebelumnya mungkin belum ia sadari.
“Rasanya aku sendiri saat proses menjelaskan, aku jadi lebih berkaca lagi terhadap lagunya.”