Di Balik Layar Film Memburu Pemangsa, Gaungkan Kampanye #JagaAnakAnak

Jakarta, IDN Times - Umay Shahab kembali menghadirkan karya terbaru bersama Sinemaku Pictures lewat film Memburu Pemangsa (2026). Berbeda dari karya-karya sebelumnya, film ini mengusung genre horor, crime, dan action serta mengangkat isu kekerasan terhadap anak melalui kisah perburuan terhadap sosok predator yang digambarkan bekerja sama dengan iblis demi kepentingan pribadinya.
Tak hanya menghadirkan teror dan adegan aksi, Memburu Pemangsa juga membawa keresahan sosial yang dekat dengan kehidupan nyata. Bahkan, proses pengembangan ceritanya turut bersinggungan dengan pemberitaan mengenai Epstein Files yang sempat menjadi perhatian dunia pada akhir tahun 2025 sampai awal tahun 2026.
1. Terinspirasi dari keresahan masa kecil Umay Shahab

Umay Shahab setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Keresahan Umay Shahab terhadap isu kekerasan terhadap anak rupanya berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai mantan artis cilik. Ia menyadari bahwa anak-anak yang berada di lingkungan orang dewasa dapat mengalami berbagai situasi yang tidak nyaman.
"Mungkin karena aku kan dulu mantan artis cilik, di sini Prilly (Latuconsina) juga, Yasamin (Jasem) juga, ada Jordan (Omar) juga. Jadi maksudnya, kita pasti ketika masih kecil pernah mungkin merasakan hal-hal yang tidak nyaman yang terjadi," kata Umay dalam konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (21/9/2026).
Pengalaman tersebut kemudian menumbuhkan rasa marah Umay terhadap orang-orang yang melakukan kekerasan kepada anak. Ia pun merasa keresahan itu perlu disampaikan melalui medium film layar lebar.
"Kalau aku personal, ada momen-momen yang terjadi yang membuat aku jadi punya amarah yang begitu besar terhadap para pemangsa anak, yang aku rasa kayaknya perlu disampaikan dalam medium film bioskop," ujar mantan artis cilik itu.
2. Making kuat karena Epstein Files

Umay Shahab setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Dalam proses penulisan Memburu Pemangsa, Umay juga melihat perkembangan pemberitaan mengenai dokumen kasus Jeffrey Epstein. Kemunculan berbagai informasi mengenai kasus tersebut membuat isu kekerasan terhadap anak yang menjadi dasar film terasa semakin relevan dengan keresahan yang terjadi di berbagai negara.
Umay menyebut, berdasarkan data yang dikumpulkan timnya, terdapat sekitar 21 ribu kasus kekerasan terhadap anak dan 12 ribu kasus kekerasan seksual terhadap anak pada 2025. "Angkanya selalu bertambah setiap tahunnya," kata Umay.
Pemberitaan mengenai Epstein Files kemudian muncul ketika proses penulisan film sedang berlangsung. Situasi tersebut membuat Umay melihat bahwa keresahan mengenai eksploitasi dan kekerasan terhadap anak bukan hanya terjadi di Indonesia.
"Lalu dalam proses penulisan film ini ada Epstein Files yang tiba-tiba keluar semua datanya di akhir tahun lalu. Jadi kita ngerasa bahwa saat ini juga seluruh dunia juga lagi merasakan kegelisahan dan keresahan yang sama. Jadi lah akhirnya 115 menit nampolin para pemangsa anak. Itulah tadi filmnya," jelas Umay.
3. Gaungkan kampanye #JagaAnakAnak

Laura Basuki, Prilly Latuconsina, dan Taskya Namya setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Upaya membawa isu perlindungan anak juga dilakukan Sinemaku Pictures di luar film. Menjelang perilisan, rumah produksi tersebut meluncurkan situs khusus Memburu Pemangsa yang memuat berbagai informasi mengenai dunia cerita film. Situs tersebut berisi informasi karakter, teori demonologi yang digunakan dalam cerita, hingga materi kampanye mengenai perlindungan anak.
Kampanye tersebut menggunakan tagar #JagaAnakAnak dan menyediakan informasi terkait penanganan kasus penculikan anak. Sinemaku Pictures juga memperkenalkan "Kartu Pemburu", sebuah identitas digital yang dapat dibagikan melalui media sosial.
"Apapun itu yang paling penting adalah isu tentang kekerasan seksual terhadap anak ini bisa menjadi awareness yang lebih lagi di Indonesia dan tagar kita di film Memburu Pemangsa yaitu #JagaAnakAnak bisa menjadi sesuatu yang digaungkan," ujar Umay.
Prilly Latuconsina, yang memerankan jurnalis bernama Cia, juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli dan berani bersuara ketika mengetahui adanya kasus kekerasan seksual terhadap anak. Menurutnya, isu tersebut masih kerap dianggap tabu sehingga masyarakat bisa memilih untuk diam.
"Aku melihat isu ini perlu bantuan kita semua gitu untuk bersuara, memberikan respons yang tepat daripada hanya diam atau membiarkan beritanya tenggelam begitu saja gitu. Dan aku rasa semoga film ini bisa menjadi medium ya untuk bisa menyebarkan informasinya ke target yang lebih tepat dengan cara juga yang lebih tepat gitu," tambah Prilly.
4. Peran Agnes yang jatuh ke tangan Laura Basuki

Laura Basuki setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Salah satu perubahan dalam proses produksi Memburu Pemangsa terjadi pada pemeran Agnes. Luna Maya sebelumnya sempat terlibat dalam proyek film Umay yang kala itu masih menggunakan judul Siksa Sampai Mati. Namun, Luna kemudian tidak melanjutkan keterlibatannya dan peran tersebut akhirnya diberikan kepada Laura Basuki. Umay mengungkap bahwa bergabungnya Laura terjadi dalam waktu singkat.
"H-17 pada saat itu, kayak nyebut nama Kak Laura tuh asbun aja, gitu. Jadi kayak ketika akhirnya bisa terealisasi, ya sangat alhamdulillah," ucap Umay.
Laura sendiri mengaku langsung tertarik ketika mengetahui premis dan isu yang diangkat Memburu Pemangsa. Pemeran Susi Susanti itu juga mengapresiasi proses riset yang dilakukan tim Sinemaku untuk mengangkat isu tersebut.
"Aku ngelihat isunya penting, ya. Emang realitanya terjadi di sekitar kita. Kemudian mereka juga melakukan riset dengan serius. Jadi tidak hanya ingin terlihat eksploitatif, tapi mereka bener-bener menjaga supaya gimana film ini bisa disampaikan dengan benar tapi juga tetap memberikan hiburan yang imersif," jelas Laura.
5. Gunakan soundtrack dari .Feast dan Efek Rumah Kaca

Umay Shahab setelah konferensi pers "Memburu Pemangsa" di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (21/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana) Selain cerita dan jajaran pemain, Memburu Pemangsa turut diperkuat sejumlah lagu dari .Feast dan Efek Rumah Kaca. Film ini menggunakan lagu "o, Tuan" dan "Berita Kehilangan" dari .Feast serta "Seperti Rahim Ibu" dari Efek Rumah Kaca. Umay mengatakan pemilihan lagu tersebut tidak terlepas dari hubungan baiknya dengan para musisi yang terlibat.
"Emang secara kebetulan, alhamdulillah berteman cukup baik sama teman-teman dari Efek Rumah Kaca, sama Mas Cholil, Airil, sama .Feast, Baskara dan lain-lainnya."
Umay kemudian menyampaikan konsep film tersebut kepada para musisi dan mendapat sambutan positif. Menurutnya, musik yang relevan menjadi bagian dari upaya membangun pengalaman menonton yang tetap menghibur sekaligus memperkuat isu utama cerita.
"Jadi ya akhirnya aku nyamperin mereka untuk menyampaikan bahwa film ini dengan isu bla bla bla, dan alhamdulillah disambut dengan sangat baik oleh teman-teman dari .Feast dan Efek Rumah Kaca," pungkas Umay.
Memburu Pemangsa mengikuti sekelompok jurnalis yang melakukan investigasi terhadap kasus kekerasan terhadap anak. Penyelidikan tersebut kemudian membawa mereka berhadapan dengan sosok pemangsa yang memiliki sisi mengerikan, bahkan ketika dibandingkan dengan makhluk gaib. Film ini dibintangi oleh Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, Yasamin Jasem, Andri Mashadi, Jordan Omar, dan Teuku Rifnu Wikana
Memburu Pemangsa dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai Kamis, 24 September 2026.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















