Di Balik Layar Film Rangga & Cinta: El Gigit Pensil Biar Jadi Rangga

- El latihan artikulasi sambil gigit pensil untuk hilangkan logat Papua
- Gestur gerakan El dibatasi agar lebih bermakna, termasuk tatapan mata
- Karakter Rangga sulit dipahami karena banyak yang disembunyikan
Surabaya, IDN Times - Buat kamu yang gak sempat nonton film Rangga & Cinta (2025) di bioskop, gak perlu khawatir. Pasalnya, film arahan Riri Riza ini sudah tersedia di Vidio sejak Jumat (13/2/2026) dan kembali menjadi perbincangan hangat.
Tiga bulan yang lalu, tepatnya pada Rabu, 22 Oktober 2025, saya sempat berbincang dengan Stephanus Tjieproet, acting coach untuk film Rangga & Cinta. Kala itu, Tjieproet berbagi soal proses El Putra Sarira mendalami karakter Rangga.
Agar gaya berbicaranya seperti Rangga, El latihan artikulasi sambil menggigit pensil, lho. Gak cuma itu, gestur yang ia sajikan harus seminim mungkin, agar lebih bermakna. Simak selengkapnya #COD (Cerita Orang Dalam) bersama Stephanus Tjieproet, acting coach film Rangga & Cinta (2025) berikut ini.
1. Teknik untuk berbicara ala Rangga, El latihan artikulasi sambil gigit pensil

Kamu sadar gak sih kalau El Putra Sarira berhasil menghilangkan logat Papua saat berakting sebagai Rangga? Stephanus Tjieproet berkata, salah satu tekniknya adalah mencari range tone dari Rangga, agar bisa El pelajari.
"Kita coba cari tone El itu di mana? Lalu coba kita range tone-nya Rangga di mana? Jadi pendekatannya agak teknis sedikit. Jadi memang kita sadar, dia (El) sadar pas memulai reading itu, dia akan set up tone-nya. Oh, tone Rangga segini," ungkapnya.
Gak cuma itu, El juga latihan artikulasi sambil menggigit pensil, lho. Hal ini bertujuan agar vokal El yang biasanya tertahan di rahang bawah, bisa keluar lebih jelas saat berdialog.
"Kemudian latihan artikulasi. Kebetulan karena background-nya El dari daerah sana (Manokwari). Jadi seperti vokal itu di sini, gak keluar. (Maka dari itu, El) latihan artikulasi dengan teknik-teknik kami, coba gigit pensil dengan mengucapkan dialog sampai terdengar jelas," ujar Tjieproet sembari menunjuk rahang bawahnya.
2. Gestur gerakan El itu cuma secukupnya aja agar lebih bermakna

Saat berakting sebagai Rangga, El berusaha bergerak seminim mungkin. Ternyata hal itu memang sengaja dilatih bersama dengan acting coach, lho. Selain itu, gestur yang dimaksud bukan hanya gerak tubuh, tapi juga tatapan mata.
"Dia sangat benar-benar membatasi geraknya, membatasi bahasa tubuhnya, bukan cuma pandangan mata sebenarnya. Kalau dilihat El itu bergeraknya memang secukupnya, karena memang karakter Rangga bukan orang yang banyak gerak," jelas Tjieproet ketika ditanya soal gerakan minim Rangga di film.
Maka dari itu, meningkatkan "kesadaran" menjadi aspek utama dari latihan akting yang El lakukan. Kesadaran dalam hal ini berarti hanya bergerak saat diperlukan. Jika tidak, lebih baik ditahan saja, agar gerakan yang dihasilkan lebih bermakna
"Itu yang menjadikan gerakannya sekecil apapun berarti," lanjut acting coach yang memerankan Cahyo di film Surat Untuk Masa Mudaku (2026) ini.
3. Karakter paling sulit dipahami adalah Rangga, karena banyak yang disembunyikan
Di antara karakter penting di Rangga & Cinta (2026), ternyata paling sulit memahami Rangga, lho. Tidak seperti Cinta (Leya Princy) yang terbuka, Rangga terlalu banyak menyembunyikan sisi dirinya.
"Perasaan hidden feeling (di Rangga) memang kita gali dengan menyatukan pengalaman-pengalaman El dan background Rangga. Itu memang sedikit effort, makanya kenapa kita mulai lebih awal dengan El," tutur Tjieproet.
Sementara itu, menurutnya setiap karakter punya concern dan kesulitan masing-masing dalam mendalami karakter, seperti Alya. Tjieproet berusaha membedah dan menggali pelan-pelan apa yang karakter tersebut rasakan. Gak heran penonton ngerasa relate, karena para cast berusaha memahami perasaan karakter mereka bersama acting coach sebelum syuting dimulai.


















