Miles Tak Menutup Peluang Regenerasi Remake Film Usai Rangga & Cinta

- Miles Films tidak menutup kemungkinan untuk regenerasi remake film lain setelah kesuksesan Rangga & Cinta.
- Miles Films masih memiliki banyak mimpi dan ingin mengeksplorasi lebih banyak genre dalam karya-karya mereka.
- Miles Films berusaha tetap relevan dengan perkembangan zaman melalui eksplorasi kreatif yang terus berkembang, termasuk kolaborasi dengan para musisi dan kreator.
Jakarta, IDN Times - Setelah Rangga & Cinta (2025) menerima sambutan yang positif sebagai karya regenerasi remake film Ada Apa dengan Cinta? (2002), mulai banyak penggemar yang bertanya-tanya tentang apakah Miles Films akan menerapkan pendekatan serupa lagi pada film-film ikonik mereka yang lain.
Menanggapi hal tersebut, Riri Riza dan Mira Lesmana pun angkat bicara dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times, Senin (26/1/2026). Riri Riza selaku Creative Director sekaligus sutradara yang mengarahkan berbagai proyek di Miles Films menyebut bahwa mereka tidak menutup kemungkinan untuk kembali menerapkan pendekatan serupa pada film-film terdahulunya.
Table of Content
1. Miles Films tak menutup kemungkinan untuk regenerasi remake film yang lain setelah kesuksesan Rangga & Cinta

Riri Riza menjelaskan regenerasi remake bukan sesuatu yang mereka rancang sejak awal. Menurutnya, setiap keputusan kreatif di Miles Films lahir sebagai respons terhadap situasi dan konteks yang berkembang, bukan dari rencana jangka panjang untuk mengulang karya lama.
“Itu kadang-kadang sebuah proses yang akan sangat unik. Kita gak pernah tahu, kadang-kadang kami tidak membayangkan sebelumnya, tetapi ada kayak sebuah letupan yang terjadi karena interaksi, karena reaksi terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di Indonesia atau di dunia film,” kata Riri Riza saat wawancara eksklusif bersama IDN Times di Lokananta Surakarta.
Karena hal tersebut, Miles Films tidak menutup kemungkinan untuk menerapkan kembali pendekatan regenerasi remake di masa depan, namun tetap akan selalu bergantung pada relevansi dan kebutuhan cerita di zamannya “Itu sesuatu yang mungkin saja terjadi,” lanjut Riri Riza.
Meski begitu, Mira Lesmana menekankan bahwa sampai saat ini belum ada rancangan khusus terkait langkah regenerasi tersebut. Menurutnya, Miles Films lebih memilih untuk membiarkan proses kreatif berkembang secara alami, sambil menunggu kegelisahan-kegelisahan baru yang muncul seiring perubahan zaman dan dinamika perfilman.
2. Masih punya banyak mimpi dan ingin mengeksplor lebih banyak genre

Dalam kesempatan yang sama, Mira Lesmana mengungkapkan bahwa Miles Films masih memiliki banyak gagasan dan cerita yang ingin diwujudkan ke depannya. Ia menceritakan bahwa semangat mereka untuk terus berkarya tidak pernah surut.
“Terlalu banyak mimpi. Kamu kalau bikin film waktunya memang cukup panjang, tapi pasti masih banyak yang ingin diceritakan, masih banyak yang ingin kita ciptakan, dan masih banyak musisi juga yang ingin kami ajak untuk bisa bekerja sama di dalam film-film kami ke depannya,” kata Mira Lesmana dengan nada antusias.
Meski begitu, Miles Films tidak semata-mata memandang film sebagai ruang untuk mewujudkan mimpi besar, melainkan sebagai medium refleksi atas situasi yang sedang berlangsung.
“Jadi bukan berarti setelah membuat film yang sebesar ini kemudian kami ingin membuat film yang lebih besar lagi. Tidak. Dia adalah sebuah reaksi, respons,” tambah Riri Riza.
Riri selanjutnya menjelaskan, meski Miles Films sudah berkiprah selama tiga dekade, mereka masih memiliki keinginan yang besar untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan cerita, termasuk menjajal beragam genre dalam karya-karya mereka.
3. Berusaha relevan dan perkembangan zaman

Mira Lesmana, pendiri Miles Films menegaskan bahwa mereka selalu berupaya untuk tetap relevan dengan perkembangan zaman melalui eksplorasi kreatif yang terus berkembang. Menurutnya, eksplorasi tersebut tidak hanya terbatas pada cerita, tetapi juga merambah ke berbagai kemungkinan dan genre musik yang dihadirkan dalam film-film mereka, mulai dari pop, musik anak-anak, indie, jazz, hingga rock.
Ia juga menyoroti pentingnya proses kolaborasi jangka panjang dengan para musisi dan kreator sebagai bagian dari perjalanan tersebut. Mira kemudian mencontohkan kolaborasi dengan Sherina Munaf yang terus berkembang sejak usia kanak-kanak hingga kini, termasuk keterlibatannya dalam menciptakan dan menggarap musik film Petualangan Sherina 2. Begitu pula dengan kembalinya kolaborasi dalam Rangga & Cinta, di mana lagu-lagu dari Ada Apa dengan Cinta? dikemas ulang dengan pendekatan baru.
“Di Rangga & Cinta kami kembali bekerja setelah Ada Apa dengan Cinta? yang pertama di 2002, lagu-lagunya, itu kami lihat kembali dan kami kemas dalam bentuk yang berbeda setelah sekian tahun.”
Mira pun memandang proses tersebut bukan sekadar kerja kreatif, melainkan juga perjalanan persahabatan yang tumbuh seiring waktu dan perubahan zaman.


















