4 Fakta Kontroversial Wuthering Heights, Film Baru Margot Robbie

- Karakter Heathcliff mengalami whitewashing
- Para penggemar sastra klasik menganggap trailer Wuthering Heights terlalu berbau seksual dan vulgar
- Adaptasi Wuthering Heights dianggap akan berbeda dari buku aslinya, mengingat rumitnya buku tersebut
Adaptasi buku bukanlah hal baru di Hollywood, terutama yang berkaitan dengan sastra klasik. Film-film seperti Pride & Prejudice (2005) bahkan menjadi tontonan wajib bagi banyak generasi. Wuthering Heights, buku karya Emily Brontë, rupanya juga banyak diadaptasi. Nah, adaptasi film terbarunya yang dibintangi Margot Robbie sudah tayang sebelum Hari Valentine pada tahun 2026 ini.
Penulis dan sutradara Emerald Fennell adalah otak di balik adaptasi film terbaru ini, yang dikenal berkat film Promising Young Woman (2020) dan Saltburn (2023). Adapun, Margot Robbie dan Jacob Elordi bergabung dalam film ini dengan memerankan karakter utamanya, yakni Catherine dan Heathcliff. Sejak awal adaptasinya, kritikus punya kekhawatiran tentang apa yang akan disajikan dari film ini. Di sisi lain, pemilihan pemerannya dianggap kurang memuaskan, dan trailer yang sudah beredar membuat adaptasi ini jadi bahan pembicaraan.
Yap, seperti yang sudah kamu duga, pastinya ada perubahan dari halaman buku ke layar lebarnya. Meskipun demikian, kisah Wuthering Heights sendiri sangatlah terkenal. Jadi Emerald Fennell punya tantangan besar jika ingin ngasih sentuhan khasnya sendiri sembari tetap setia pada materi sumbernya. Nah, berikut ini kita akan membahas fakta-fakta kontroversial tentang adaptasi Wuthering Heights yang dibintangi Margot Robbie. Apa saja, ya?
1. Karakter Heathcliff mengalami whitewashing

Beberapa kritikus khawatir tentang adaptasi film Wuthering Heights terbaru ketika aktor Jacob Elordi akan berperan sebagai Heathcliff. Adapun, aktor tersebut sebelumnya pernah bekerja sama dengan Emerald Fennell dalam Saltburn (salah satu peran film terbaik Elordi hingga saat ini). Terus, apa sih masalahnya?
Nah, Heathcliff sendiri adalah karakter dengan kulit berwarna. Dalam bukunya, ia digambarkan sebagai laki-laki berkulit lebih gelap. Yap, kemungkinan sih dia orang Romani. Meskipun warna kulitnya memang gak disebutkan secara eksplisit, penggunaan kata-kata "berkulit lebih gelap" oleh Emily Brontë rupanya membuat banyak orang menyimpulkan kalau Heathcliff bukanlah orang kulit putih.
Meskipun ini bukan pertama kalinya seorang aktor kulit putih memerankan Heathcliff di abad ke-21 (Tom Hardy juga terkenal memerankan Heathcliff dalam miniseri tahun 2009 yang mendapat pujian kritis), tapi hal ini menghilangkan ambiguitas karakter tersebut, yang pada akhirnya mengubah konteks dan status sosial dari karakter Heathcliff sendiri. Namun, Emerald Fennell mengomentari reaksi negatif terhadap pemilihan pemeran tersebut saat berbicara kepada Deadline pada September 2025. Sutradara tersebut bilang kalau Elordi mirip seperti Heathcliff dari buku yang ia baca saat remaja.
2. Para penggemar sastra klasik menganggap trailer Wuthering Heights terlalu berbau seksual dan vulgar

Setelah trailer Wuthering Heights dirilis, penggemar sastra klasik berspekulasi kalau Emerald Fennell menerapkan unsur-unsur seksual dari film Saltburn ke Wuthering Heights, dan ternyata banyak yang gak suka dengan hal itu. Trailer tersebut memperjelas bahwa film ini lebih bermuatan seksual daripada adaptasi sebelumnya. Di trailernya, ada sekilas adegan ketika Heathcliff menghisap jari Catherine, dan merangkak di lantai dengan lidah menjulur.
Penggemar bukunya khawatir kalau adaptasi Emerald Fennell ini hanya mengandalkan nuansa seksual untuk menarik penonton, yang memang populer di komunitas seperti BookTok di TikTok. Pengguna Reddit u/A_b_b_o bahkan memposting tentang trailer tersebut di subreddit sastra klasik, dan menyebut trailer Wuthering Heights ini cabul, dan banyak yang setuju dengan pendapat tersebut di kolom komentar.
Namun, gak semuanya menanggapi dengan reaksi negatif, nih. Meskipun begitu, mayoritas penggemar novel Emily Brontë masih gak suka dengan adaptasi Emerald Fennell ini. "Saya merasa citra dan tema seksualnya terkesan seperti remaja yang mencoba membuktikan kesadaran seksual mereka dengan bersikap terlalu provokatif," tulis u/followmyback. "Membuat saya pusing."
3. Adaptasi Wuthering Heights dianggap akan berbeda dari buku aslinya, mengingat rumitnya buku tersebut

Nah, karena Wuthering Heights punya rekam jejak adaptasi yang beragam, hal ini tentu saja menarik banyak perhatian penggemar bukunya, terutama jika ada adaptasi lain yang sedang dibuat. Sebab, novel ini sulit diadaptasi, karena dinamika ceritanya yang rumit.
Pada 2023, Isis Magazine melakukan studi tentang kenapa buku Wuthering Heights selalu gagal jika diadaptasi ke layar lebar. Studi tersebut mengungkap bahwa tantangan pertama adalah narasi keluarganya yang rumit, karena dianggap berbau inses. Terus juga ada tiga nama yang sama dan diulang-ulang di seluruh novelnya. Hal ini dianggap membingungkan.
Studi tersebut kemudian menemukan bahwa tantangan keduanya adalah tentang bagian kedua buku, apakah perlu diadaptasi atau enggak. Pasalnya, hanya sedikit adaptasi yang melakukannya, atau kebanyakan adaptasi memilih untuk fokus pada bagian pertama kisah Catherine dan Heathcliff, bagian yang dianggap lebih menarik dan penuh nuansa romantis.
Di bagian kedua buku Wuthering Heights yang kurang dikenal ini, Heathcliff adalah seorang tiran yang kejam dan cintanya bersama Catherine berubah menjadi toxic relationship. Nah, kira-kira apakah adaptasi versi Emerald Fennell merujuk pada bagian kedua novelnya, ya? Tapi banyak yang berspekulasi kalau film ini akan sangat berbeda dari buku aslinya.
4. Kostum dalam film Wuthering Heights dianggap gak sesuai dengan zamannya

Apa kesamaan film-film bertema sejarah terbaik yang pernah dibuat? Yap, kostumnya yang bagus dan tentunya akurat. Seperti halnya adaptasi film bertema sejarah lainnya, penggemar novel Emily Brontë tahun 1847 mulai menganalisis pilihan kostum ketika trailer film Wuthering Heights tahun 2026 dirilis. Pengguna Instagram ladysapientia (yang merupakan perancang kostum) membagikan sebuah unggahan yang membahas kesan mereka tentang kostum dalam trailer tersebut. Nah, menurut mereka, kostum tersebut sama sekali gak sesuai dengan periode waktu dari materi sumbernya. "Kostum Robbie tampak lebih bergaya Victoria, terutama tahun 1860-an. Salah satu kostumnya terlihat sangat mirip dengan pinggang kostum Swiss yang sangat populer pada tahun 1860-an," tulis unggahan mereka dalam keterangan foto.
Kalau kamu belum tahu, buku Wuthering Heights berlatar akhir abad ke-18, dan berlanjut hingga awal abad ke-19, jadi jauh lebih awal dari tahun 1860-an. Banyak kritikus yang juga memperhatikan adegan ketika seseorang menarik pita korset Catherine hingga kencang, tapi gak dilapisi apa pun. Biasanya, dipakaikan dalaman kemeja atau pakaian lain di balik korset. Sebab, korset gak mungkin langsung dikenakan pada kulit telanjang.
Kemungkinan sih, ini disesuaikan dengan nuansa seksual dalam trailer Wuthering Heights sendiri. Namun, hal ini gak akurat secara historis dan tentu saja terlihat gak nyaman. Meskipun penggemar film klasik sudah sering melihat kostum yang gak akurat, tapi hal ini tetap bikin kecewa.
Para penggemar buku klasik, terutama Wuthering Heights, dibuat ketar-ketir dengan adaptasi film terbarunya. Mereka curiga, meskipun film ini berjudul Wuthering Heights, tapi apa yang akan disuguhkan penonton bukanlah adaptasi klasiknya. Intinya gak akurat-akurat banget, deh. Semoga saja kekhawatiran mereka ini gak beralasan dan film baru yang dibintangi Margot Robbie ini bisa memukau penggemar novel klasik Wuthering Heights, ya. Termasuk kamu. Film ini sendiri dirilis pada 11 Februari 2026.


















