5 Film Adaptasi Karya Stephen King yang Dibenci sang Penulis Sendiri

- Stephen King secara terbuka mengkritik beberapa film adaptasi karyanya karena dianggap gagal menangkap jiwa dari cerita aslinya.
- Alasan kebenciannya beragam, mulai dari perubahan tema, pengembangan karakter, hingga eksekusi teknis film.
- Kasus ekstremnya terlihat pada The Lawnmower Man, tepatnya saat Stephen King sampai menggugat agar namanya dihapus dari pemasaran film.
Ada puluhan film, serial TV, dan karya turunan berdasarkan buku dan cerita pendek Stephen King. Uniknya, ternyata Stephen King menyebut banyak adaptasi favorit maupun yang paling dibencinya. Wajar saja, sih, Stephen King begitu. Itu karena ia adalah penulis asli dari karya-karya adaptasi tersebut. Apalagi, ia sangat blak-blakan soal film. Ia bahkan sering mengepos ulasan film di media sosial, termasuk film-film adaptasi bukunya.
Meski begitu, Stephen King pernah memuji beberapa karya berdasarkan ceritanya, seperti Misery (1990) yang disutradarai Rob Reiner atau The Shawshank Redemption (1994) karya Frank Darabont. Di sisi lain, ada beberapa film adaptasi yang menurutnya gak berhasil mencerna kisah buku dengan tepat. Ada juga alasan lain seperti ia gak suka dengan akting para pemeran dalam film-film tersebut. Nah, apa pun alasannya, Stephen King gak malu untuk ngasih tahu adaptasi mana yang dia benci. Kira-kira apa saja, ya?
1. The Shining (1980)

Dari semua adaptasinya, Stephen King sangat vokal terkait pendapatnya tentang film Stanley Kubrick berjudul The Shining. Film ini memang dianggap sebagai mahakaryanya genre horor. Sayangnya, Stephen King gak terlalu suka dengan film adaptasi dari novelnya ini.
Pada 2016, Deadline merangkum pendapat Stephen King terkait adaptasi The Shining. Menurut Stephen King, Stanley Kubrick gak mengambil beberapa tema yang terdapat dalam bukunya. Meski begitu, Stephen King tetap menganggap Stanley Kubrick sebagai sutradara hebat. "Saya kira The Shining adalah film yang indah dan terlihat luar biasa. Seperti yang saya katakan sebelumnya, itu seperti Cadillac [merek mobil mewah] besar dan indah tanpa mesin di dalamnya," kata penulis tersebut. "Saya diam saja saat itu, tetapi saya tidak terlalu menyukainya."
Stephen King juga memuji dengan menyebut Stanley Kubrick sebagai orang yang sangat cerdas. Namun, ia mengkritik tentang perkembangan karakter Jack Torrance, tokoh utama cerita The Shining. "Saat pertama kali kita melihat Jack Nicholson (berperan sebagai Jack Torrance), dia berada di kantor Tuan Ullman, manajer hotel. Saat itu, dia gila seperti tikus di rumah bordil. Dia hanya semakin gila," katanya. "Dalam buku, dia adalah seorang laki-laki yang berjuang dengan kewarasannya dan akhirnya kehilangan akal sehatnya. Bagi saya, itu adalah sebuah tragedi. Dalam film, tidak ada tragedi seperti itu."
Nah, rupanya, Stephen King membuat adaptasi miniseri The Shining (1997). Ia bahkan memilih sendiri salah satu aktor utamanya. Yap, meski begitu, miniseri ini justru dianggap lebih rendah dari segi kualitas.
2. Firestarter (1984)

Film Firestarter punya efek khusus yang sangat keren pada zamannya. Film ini juga menjadi salah satu proyek pertama dalam film Drew Barrymore. Namun, film ini merupakan salah satu adaptasi yang paling gak disukai Stephen King.
Hal ini mungkin mengejutkan para penggemar buku tersebut. Film ini sebenarnya merupakan salah satu adaptasi yang paling mirip dengan bukunya. Meski begitu, film ini gak selamat dari kesan negatif di mata sang penulis.
Saat diwawancarai dengan American Film pada 1986, Stephen King bilang kalau film Firestarter terasa hambar. Namun, ia mengaku menyukai sebagian besar pemerannya. "Firestarter adalah salah satu adaptasi terburuk di antara semuanya meski dari segi cerita sangat dekat dengan aslinya," kata Stephen King. "Ada efek khusus dalam film itu yang sama sekali tidak masuk akal bagi saya."
Selain itu, Stephen King merasa kalau para aktornya kurang mendapat arahan. Adapun, Dino De Laurentiis, pemilik rumah produksi di balik film tersebut, sering meminta masukan dari Stephen King. Hanya saja, masukan Stephen King gak dipakai, nih.
3. The Running Man (1987)

Sebelum adanya versi adaptasi The Running Man yang dibintangi Glen Powell dan dirilis pada 2025, ternyata ada, lho, versi The Running Man yang dibintangi Arnold Schwarzenegger pada 1987. Namun, film ini bukan film terbaik dalam filmografi Arnold Schwarzenegger atau dalam koleksi adaptasi Stephen King. Kendati begitu, penonton cukup menyukainya dan memberi rating 61 persen di Rotten Tomatoes.
Seperti adaptasi lain yang termasuk dalam daftar ini, The Running Man versi Arnold Schwarzenegger dianggap berbeda dari buku Stephen King. Adapun, permasalahan utamanya terletak pada karakter utamanya, Ben Richards. Ben hanya digambarkan sebagai laki-laki biasa, berbanding terbalik dengan postur tubuhnya yang atletis. "Arnold tidak terlihat seperti seseorang yang sering melewatkan makan. Dia berotot," kata Stephen King kepada USA Today pada 2025. "Dia tidak terlihat seperti orang biasa. Dia terlihat seperti Arnold."
Itulah kenapa The Running Man menjadi film adaptasi yang gak punya kedalaman yang dimaksud oleh sang penulis. Namun, Stephen King bilang kalau adaptasi The Running Man yang kedua justru lebih berhasil menangkap esensi dari karya aslinya. "Film ini memiliki sedikit suasana yang tidak kamu temukan dalam banyak film Jason Statham atau film Arnold Schwarzenegger," lanjutnya dalam wawancara tersebut, merujuk pada adaptasi baru The Running Man (2025).
4. Graveyard Shift (1990)

Berdasarkan cerita pendek Stephen King dengan judul yang sama, film Graveyard Shift mengisahkan tentang wabah tikus di sebuah pabrik tekstil. Namun, film ini berubah menjadi film horor tentang makhluk mengerikan yang bersembunyi di ruang bawah tanah pabrik. David Andrews, yang dikenal karena perannya dalam Terminator 3: Rise of the Machines (2003), berperan sebagai John Hall, seorang pekerja yang tergabung dalam kelompok yang bertugas membersihkan ruang bawah tanah agar pabriknya gak ditutup. Film ini dapat kritik pedas karena dikasih rating 0 persen dari kritikus dan 24 persen dari penonton di Rotten Tomatoes. Kejam banget, ya, cuma 0 persen!
Yap, apa boleh dikata, Stephen King malah setuju dengan penilaian tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Deadline pada 2016, ketika ditanya tentang adaptasi karyanya yang paling tidak disukainya, penulis tersebut menyebut Graveyard Shift paling dulu. "Haruskah saya mengatakan itu? Saya rasa ada sejumlah film, yang menurut saya, sedikit menjijikkan," ungkap Stephen King. "Ada satu: Graveyard Shift."
5. The Lawnmower Man (1992)

The Lawnmower Man merupakan sebuah adaptasi dari cerita pendek Stephen King pada 1975 dengan judul yang sama. Film adaptasi ini dibintangi oleh Jeff Fahey dan Pierce Brosnan. Namun, sang penulis novelnya gak suka dengan adaptasi ini. Saking gak sukanya, Stephen King menggugat agar namanya dihapus dari pemasaran film tersebut.
Hal ini mungkin agak berlebihan, ya. Namun, Stephen King punya alasan yang tepat, nih, kenapa ia sebenci itu dengan adaptasi The Lawnmower Man. Pasalnya, penulis naskah film itu, Brett Leonard dan Gimel Everett, punya inovasi sendiri dalam penulisan cerita. Alhasil, film ini jadi jauh berbeda dengan cerita aslinya.
Dalam cerita pendeknya, kisahnya berfokus pada seorang tukang kebun yang kejam. Sementara, filmnya berakar pada cerita yang sepenuhnya baru. Jadi, pada Mei 1992, Stephen King menggugat untuk menghapus namanya dari pemasaran karena film tersebut dianggapnya gak punya kemiripan dengan karya aslinya.
Nah, gugatan tersebut memaksa rumah produksi Allied Vision dan distributor New Line Cinema untuk menghapus nama Stephen King dari judul film. Yap, soalnya film ini awalnya berjudul Stephen King's The Lawnmower Man. Setelah putusan awal dan banding selanjutnya oleh Allied Vision, pengadilan memutuskan bahwa rumah produksi tersebut harus menghapus nama Stephen King dari pemasaran, tapi namanya masih diperbolehkan dalam kredit film.
Lantas, Stephen King tahu kalau namanya masih digunakan dalam beberapa pemasaran saat ia meminta bantuan penyelidik swasta (khususnya pada rilis rumahan VHS). Akibatnya, mereka kembali ke pengadilan pada 1994. Di samping itu, distributor New Line Cinema dinyatakan menghina pengadilan dan berutang pendapatan kepada Stephen King dari penjualan VHS, sebagaimana yang dikutip Los Angeles Times.
Ternyata gak semua film adaptasi disukai sang penulis buku asli. Yap, contohnya seperti yang dialami Stephen King. Setiap karyanya pasti punya jiwa yang gak semudah itu diadaptasi ke layar lebar, apalagi jika ada banyak perubahan yang terjadi.


















