Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film buat Penyuka Laut Bercerita, Angkat Sisi Gelap Rezim

4 min read
5 Film buat Penyuka Laut Bercerita, Angkat Sisi Gelap Rezim
National Security (dok. Megabox/National Security)
  • Laut Bercerita mengisahkan Biru Laut, mahasiswa dan aktivis yang melawan kesewenang-wenangan rezim Orde Baru, sekaligus menyoroti dampak represi terhadap orang-orang yang bersuara.
  • National Security, I’m Still Here, dan Missing menampilkan penculikan, penyiksaan, serta penghilangan paksa aktivis atau jurnalis di Korea Selatan, Brasil, dan Chile.
  • A Foggy Tale dan The Seed of the Sacred Fig menggambarkan kekerasan rezim terhadap warga biasa melalui latar White Terror Taiwan dan demonstrasi di Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Laut Bercerita (2026) menjadi salah satu film Indonesia yang ramai diperbincangkan belakangan ini. Diadaptasi dari novel populer karya Leila S. Chudori, film ini mengikuti Biru Laut (Reza Rahadian), mahasiswa sekaligus aktivis yang berani melawan kesewenang-wenangan rezim pada masa Orde Baru. Lewat kisahnya, Laut Bercerita turut memperlihatkan bagaimana represi penguasa menghancurkan kehidupan orang-orang yang berani bersuara.

​Gak cuma Indonesia lewat film arahan Yosep Anggi Noen (Istirahatlah Kata-Kata) ini, sejumlah negara juga memiliki film yang berani membongkar sisi gelap rezim berkuasa. Mulai dari penculikan aktivis, penghilangan paksa, hingga pembungkaman suara rakyat, berikut rekomendasi film yang wajib kamu kulik setelah Laut Bercerita. Sudah menonton salah satunya?

  1. 1. National Security (2012)

    National Security
    National Security (dok. Megabox/National Security)

    Film asal negeri Ginseng ini mirip dengan Laut Bercerita karena sama-sama menggambarkan kekerasan terhadap para aktivis. Disutradarai oleh Chung Ji Young, National Security terinspirasi dari kisah nyata Kim Geun Tae, aktivis demokrasi Korea Selatan yang namanya diubah menjadi Kim Jong Tae (Park Won Sang) dalam film.

    Pada September 1985, saat Korea Selatan berada di bawah rezim militer Chun Doo Hwan, Jong Tae diculik oleh aparat di depan keluarganya. Ia dibawa ke fasilitas interogasi rahasia di Namyeong-dong, Seoul, dan ditahan selama 22 hari. Selama itu, ia mengalami berbagai bentuk penyiksaan fisik dan psikologis untuk memaksanya mengakui tuduhan bahwa ia adalah simpatisan komunis.

  2. 2. I'm Still Here (2024)

    I'm Still Here
    I'm Still Here (dok. Sony Pictures Releasing International/I'm Still Here)

    Berlatar di Rio de Janeiro pada 1971, I'm Still Here diadaptasi dari memoar Marcelo Rubens Paiva yang menceritakan pengalaman keluarganya selama kediktatoran militer Brasil. Ceritanya berpusat pada ibunya, Eunice Paiva (Fernanda Torres), yang harus menghadapi ketidakpastian setelah sang suami menjadi korban penghilangan paksa. Eunice kemudian berjuang mencari kebenaran selama bertahun-tahun sambil membesarkan kelima anaknya di tengah tekanan rezim.

    Karya sutradara Walter Salles ini berhasil memenangkan penghargaan Best International Feature Film di ajang Academy Awards ke-97. Banyak kritikus memuji pendekatannya yang subtil dan minim melodrama dalam menggambarkan dampak kejam dari rezim otoriter.

  3. 3. Missing (1982)

    Missing
    Missing (dok. Universal Pictures/Missing)

    Kalau kamu mencari film yang lebih klasik dan senada dengan Laut Bercerita, film garapan Costa-Gavras ini bisa jadi pilihan. Missing berhasil memenangkan Palme d'Or di Cannes Film Festival 1982 meski saat itu sempat dilarang tayang di Chile selama masa pemerintahan diktator Augusto Pinochet.

    Kisahnya berfokus pada Ed Horman (Jack Lemmon) yang terbang ke Chile demi mencari putranya, Charles (John Shea), seorang jurnalis muda berhaluan kiri yang mendadak hilang setelah kudeta militer pada 1973. Pencarian Ed menghadapi berbagai hambatan, mulai dari birokrasi hingga dugaan keterlibatan pemerintah Amerika Serikat dalam kasus tersebut. Ed yang awalnya percaya pada pemerintah negaranya pun mulai mempertanyakan keyakinan yang selama ini ia pegang.

  4. 4. A Foggy Tale (2025)

    A Foggy Tale
    A Foggy Tale (dok. TAICCA/A Foggy Tale)

    Selanjutnya, ada A Foggy Tale, film asal Taiwan yang berlatar pada periode White Terror pada 1950-an. Periode tersebut ditandai dengan penindasan politik dan kekerasan aparat terhadap orang-orang yang dianggap mengancam kekuasaan pemerintah Kuomintang. Di pusat cerita ada Yue (Caitlin Fang), gadis 15 tahun yang nekat pergi ke Taipei demi mengambil jasad kakak laki-lakinya yang dieksekusi oleh rezim.

    Berbeda dari film-film lain dalam daftar ini yang banyak menyoroti penculikan dan penghilangan paksa, A Foggy Tale dikemas sebagai road movie yang memadukan humor, ketegangan, dan kehangatan. Meski begitu, film arahan Chen Yu Hsun ini tetap menampilkan dampak kekerasan rezim terhadap masyarakat biasa melalui perjalanan sang protagonis.

  5. 5. The Seed of the Sacred Fig (2024)

    The Seed of the Sacred Fig
    The Seed of the Sacred Fig (dok. Arte France Cinéma/The Seed of the Sacred Fig)

    The Seed of the Sacred Fig menutup daftar ini dengan drama keluarga yang berpadu dengan thriller politik. Mengambil inspirasi dari gelombang demonstrasi besar di Iran setelah kematian Mahsa Amini pada 2022, film garapan Mohammad Rasoulof ini memiliki kemiripan tema dengan Laut Bercerita, terutama dalam menyoroti represi negara terhadap mereka yang berani bersuara.

    Ceritanya berfokus pada Iman (Missagh Zareh), penyidik yang baru diangkat sebagai hakim investigasi di Teheran. Ketika pistol dinasnya hilang, ia mulai mencurigai istri dan kedua putrinya, terlebih setelah mereka menunjukkan simpati terhadap demonstrasi yang tengah berlangsung. Kecurigaan tersebut perlahan memicu ketegangan dan merusak hubungan dalam keluarganya.

    Lewat deretan film di atas, kita bisa melihat bahwa perjuangan melawan pembungkaman dan pahitnya hidup di bawah rezim represif menjadi pengalaman yang turut dialami banyak bangsa. Dari lima judul yang berani menyuarakan luka sejarah tersebut, mana yang paling bikin kamu penasaran untuk ditonton duluan setelah Laut Bercerita?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More