Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Film dengan CGI Paling Buruk, Malah Jadi Bahan Olokan

5 Film dengan CGI Paling Buruk, Malah Jadi Bahan Olokan
Taylor Swift dalam film Cats (dok. Universal Pictures/Cats)
Intinya Sih
  • Artikel membahas lima film populer yang gagal memanfaatkan CGI dengan baik, membuat visualnya terasa aneh dan mengganggu pengalaman menonton.
  • Contoh film seperti Cats, Green Lantern, hingga The Flash menunjukkan bagaimana efek visual buruk bisa merusak potensi cerita dan karakter.
  • Kesimpulannya, teknologi CGI tanpa perencanaan matang justru dapat menjatuhkan kualitas film dan meninggalkan kesan negatif bagi penonton.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di era film modern, Computer Generated Imagery (CGI) jadi salah satu elemen penting yang bisa bikin film terasa spektakuler. Banyak film besar mengandalkan efek visual untuk menciptakan dunia fantasi, adegan aksi, sampai karakter yang mustahil diwujudkan secara nyata. Namun, masalahnya, kalau CGI-nya gagal, bukan cuma visual yang rusak, karena seluruh pengalaman nonton juga bisa ikut hancur.

Beberapa film bahkan jadi terkenal bukan karena ceritanya, tapi karena efek visualnya yang aneh atau terasa murahan. Alih-alih kagum, penonton malah jadi terganggu dan sulit menikmati cerita. Berikut ini lima film yang sering jadi contoh bagaimana CGI yang buruk bisa merusak segalanya. Filmnya malah jadi bahan olok-olokan, lho!

1. Cats (2019)

Cats
Cats (dok. Universal Pictures/Cats)

Cats langsung jadi bahan meme sejak pertama kali trailernya rilis. Cats mencoba mengadaptasi musikal terkenal dengan mengubah para aktornya menjadi kucing humanoid menggunakan CGI. Secara cerita, film ini mengikuti karakter Victoria yang bergabung dengan kelompok Jellicle Cats dan menyaksikan perjalanan hidup mereka.

Kedengarannya menarik, tapi eksekusinya justru bikin banyak orang merasa tidak nyaman. Masalah utamanya ada pada visual yang masuk kategori uncanny valley alias terlalu realistis, tapi juga aneh. Wajah manusia dengan tubuh kucing membuat penonton sulit fokus pada cerita atau musiknya.

Padahal, film ini punya jajaran cast yang kuat dan materi asli yang sudah terbukti sukses di panggung teater. Sayangnya, CGI yang dipaksakan justru jadi penghalang utama, sampai banyak orang lebih ingat tampilannya daripada isi filmnya.

2. The Adventures of Sharkboy and Lavagirl (2005)

The Adventures of Sharkboy and Lavagirl
The Adventures of Sharkboy and Lavagirl (dok. Columbia Pictures/The Adventures of Sharkboy and Lavagirl)

Saat pertama kali rilis, film ini cukup disukai anak-anak karena konsepnya yang imajinatif dan penuh warna. Cerita The Adventures of Sharkboy and Lavagirl mengikuti Max, seorang anak yang menciptakan dunia fantasi dan bertemu dengan pahlawannya, Sharkboy dan Lavagirl. Ide ceritanya sebenarnya seru dan punya potensi besar untuk jadi petualangan yang memorable.

Namun, kalau dilihat sekarang, CGI-nya terasa sangat kasar dan tidak natural. Hampir semua elemen terlihat seperti dibuat di green screen tanpa penyempurnaan yang matang. Tekstur, latar, hingga karakter terasa kaku dan terlalu digital. Akibatnya, alih-alih larut dalam dunia fantasi, penonton justru sadar bahwa semuanya terlihat palsu dan itu cukup mengganggu pengalaman menonton.

3. Green Lantern (2011)

Green Lantern
Green Lantern (dok. Warner Bros/Green Lantern)

Sebagai film superhero, Green Lantern sebenarnya punya potensi besar. Kisah Hal Jordan yang mendapatkan kekuatan dari cincin luar angkasa dan bergabung dengan Green Lantern Corps terdengar sangat menjanjikan. Apalagi dengan skala cerita kosmik yang luas dan penuh aksi.

Sayangnya, CGI dalam film ini terasa aneh dan tidak meyakinkan, terutama pada kostum Hal Jordan yang sepenuhnya digital. Alih-alih terlihat keren, kostum tersebut justru tampak seperti lapisan plastik tanpa tekstur nyata.

Ditambah lagi, visual luar angkasa yang generik dan villain yang kurang impactful membuat film ini terasa seperti proyek yang belum selesai. Hasil akhirnya, film ini gagal meninggalkan kesan kuat di genre superhero.

4. The Mummy Returns (2001)

The Mummy Returns
The Mummy Returns (dok. Universal Pictures/The Mummy Returns)

Sebagai sekuel dari film petualangan yang sukses, The Mummy Returns sebenarnya punya banyak hal yang menyenangkan. Ceritanya masih mengikuti Rick dan Evelyn dalam menghadapi ancaman kuno yang kembali bangkit. Film ini penuh aksi, humor, dan nuansa petualangan klasik yang seru.

Namun, semuanya sedikit runtuh di bagian akhir saat karakter Scorpion King muncul. CGI yang digunakan untuk Dwayne Johnson versi monster terlihat sangat kaku dan tidak realistis, bahkan untuk standar awal 2000-an. Bukannya terlihat menyeramkan, justru terasa seperti karakter video game jadul. Momen klimaks yang seharusnya epik malah berubah jadi salah satu contoh CGI paling terkenal karena buruknya.

5. The Flash (2023)

Ezra Miller di The Flash
Ezra Miller di The Flash (dok. Warner Bros/The Flash)

Sebagai film yang mengangkat konsep multiverse dan perjalanan waktu, The Flash sangat bergantung pada CGI. Ceritanya mengikuti Barry Allen yang mencoba mengubah masa lalu, tetapi justru menciptakan kekacauan di berbagai timeline. Secara konsep, ini adalah ide besar yang seharusnya jadi tontonan spektakuler.

Namun, sayangnya, banyak adegan justru terlihat seperti cutscene video game. Efek visual yang tidak halus membuat momen penting kehilangan dampaknya. Bahkan ketika film mencoba tampil megah, hasilnya tetap terasa aneh dan kurang realistis. Penjelasan bahwa gaya visual tersebut adalah pilihan artistik pun tidak cukup meyakinkan penonton. Akhirnya, CGI yang tidak maksimal ini jadi salah satu alasan kenapa filmnya sulit dianggap serius.

Film-film di atas jadi bukti bahwa teknologi saja tidak cukup tanpa perencanaan dan pengerjaan yang matang. Dari semua film tadi, mana yang menurut kamu paling parah CGI-nya dan benar-benar bikin pengalaman nonton jadi rusak?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Latest in Hype

See More