Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film Dunia Kerja yang Mengubah Cara Pandang terhadap Kesuksesan

4 min read
5 Film Dunia Kerja yang Mengubah Cara Pandang terhadap Kesuksesan
The Assistant (dok. 3311 Productions/The Assistant)
  • Lima film dunia kerja menyoroti bahwa ambisi, jabatan, dan penghasilan dapat membuka peluang, tetapi juga berisiko mengorbankan hubungan personal, waktu istirahat, serta keseimbangan hidup.
  • The Devil Wears Prada, Up in the Air, dan The Intern menggambarkan pentingnya menimbang pencapaian profesional dengan relasi bermakna, empati, pengalaman, dan prioritas pribadi.
  • Sorry to Bother You dan The Assistant mengangkat sisi gelap budaya kerja, termasuk eksploitasi, ketimpangan, serta lingkungan tidak sehat yang menguji moral, martabat, dan rasa aman pekerja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kesuksesan dalam dunia kerja sering kali diukur melalui jabatan, penghasilan, prestasi, dan seberapa cepat seseorang menaiki tangga karier. Tidak sedikit orang yang rela mengorbankan waktu istirahat, hubungan personal, hingga kebahagiaan demi mencapai target karier profesional. Namun, apakah kesuksesan benar-benar hanya tentang seberapa tinggi posisi yang berhasil diraih?

Karena tema ini menarik, banyak film Barat mengangkat sisi lain dari kehidupan profesional yang jarang dibicarakan. Melalui perjalanan karakter yang menghadapi ambisi dan kegagalan, film-film ini mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali arti keberhasilan.

Nah, berikut lima rekomendasi film Barat tentang dunia kerja yang bisa mengubah cara pandangmu terhadap kesuksesan. Segera masukkan ke dalam watchlist-mu, ya!

  1. 1. The Devil Wears Prada (2006)

    The Devil Wears Prada
    The Devil Wears Prada (dok. Fox 2000 Pictures/The Devil Wears Prada)

    The Devil Wears Prada mengikuti Andrea Sachs (Anne Hathaway), lulusan perguruan tinggi yang mendapatkan pekerjaan sebagai asisten junior Miranda Priestly (Meryl Streep), pemimpin redaksi majalah mode bergengsi Runway. Andrea awalnya tidak memiliki ketertarikan besar terhadap dunia mode, tetapi ia berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja yang penuh tuntutan. Seiring berjalannya waktu, ia mulai memahami industri tersebut sekaligus merasakan tekanan untuk memenuhi ekspektasi atasannya.

    Film ini memperlihatkan bagaimana ambisi profesional dapat membuka banyak kesempatan, tetapi juga berpotensi mengorbankan hubungan dengan orang-orang terdekat. Andrea harus mempertimbangkan apakah keberhasilan dalam karier sepadan dengan perubahan nilai dan prioritas yang dialaminya. Kisahnya mengingatkan bahwa mengejar impian bukanlah hal yang salah, tetapi penting untuk memahami batas yang tidak ingin kita korbankan demi sebuah pencapaian.

  2. 2. Up in the Air (2009)

    Up in the Air
    Up in the Air (dok. Montecito Picture/Up in the Air)

    Selanjutnya, ada Up in the Air yang dibintangi George Clooney sebagai Ryan Bingham, konsultan yang bertugas melakukan pemutusan hubungan kerja bagi karyawan perusahaan lain. Pekerjaannya mengharuskannya bepergian hampir sepanjang waktu, sehingga ia terbiasa hidup dengan sedikit keterikatan dan menganggap kebebasan pribadi sebagai sebuah pencapaian. Ia bahkan menjadikan jumlah mil penerbangan sebagai simbol keberhasilan yang membanggakan.

    Namun, pandangannya mulai berubah ketika ia bertemu Natalie Keener (Anna Kendrick), seorang rekan kerja muda yang membawa pendekatan baru dalam pekerjaannya. Ryan juga mulai mempertanyakan gaya hidupnya sendiri ketika hubungan personal dan kesepian menjadi semakin sulit untuk diabaikan. Film ini menunjukkan bahwa kesuksesan profesional tidak selalu menjamin kehidupan yang terasa penuh, terutama jika seseorang tidak memiliki hubungan bermakna di luar pekerjaan.

  3. 3. The Intern (2015)

    The Intern
    The Intern (dok. Warner Bros/The Intern)

    Film ini menceritakan tentang Ben Whittaker (Robert De Niro), pensiunan berusia 70 tahun yang memutuskan untuk mengikuti program magang senior di sebuah start-up fashion online. Ia kemudian bekerja bersama Jules Ostin (Anne Hathaway), pendiri sekaligus CEO perusahaan tersebut yang harus menghadapi tekanan besar dalam mengembangkan bisnisnya. Meskipun berasal dari generasi yang berbeda, keduanya belajar banyak melalui interaksi dan pengalaman kerja sehari-hari.

    Kehadiran Ben memperlihatkan bahwa pengalaman, empati, dan kemampuan mendengarkan tetap memiliki nilai penting di lingkungan kerja modern. Sementara itu, Jules menghadapi pertanyaan sulit tentang bagaimana mempertahankan pertumbuhan bisnis tanpa kehilangan keseimbangan dalam kehidupan pribadinya. Film ini mengajak penonton melihat kesuksesan dari perspektif yang lebih luas, bukan hanya melalui pertumbuhan perusahaan atau pencapaian jabatan.

  4. 4. Sorry to Bother You (2018)

    Sorry to Bother You
    Sorry to Bother You (dok. Significant Productions/Sorry to Bother You)

    Sorry to Bother You mengikuti Cassius Green (Lakeith Stanfield), seorang pemuda yang mendapatkan pekerjaan sebagai telemarketer. Pada awalnya, ia kesulitan mencapai target penjualan hingga seorang rekan kerja mengajarinya menggunakan suara yang terdengar seperti orang kulit putih agar lebih mudah meyakinkan calon pelanggan. Strategi tersebut membuat karier Cassius melesat, tetapi ia menemukan sisi gelap perusahaan tempatnya bekerja.

    Film garapan Boots Riley ini menggunakan komedi satir dan unsur surealis untuk mengkritik eksploitasi pekerja, ketimpangan kelas, serta budaya perusahaan yang menuntut keuntungan tanpa batas. Perjalanan Cassius memperlihatkan bagaimana kesuksesan yang datang dengan cepat dapat membuat seseorang berhadapan dengan persoalan moral. Film ini mengajak penonton mempertanyakan apakah pencapaian karier masih layak dibanggakan ketika diperoleh melalui sistem yang merugikan orang lain.

  5. 5. The Assistant (2019)

    The Assistant
    The Assistant (dok. 3311 Productions/The Assistant)

    Terakhir, ada The Assistant yang menceritakan Jane (Julia Garner), asisten junior di sebuah perusahaan produksi film yang menjalani rutinitas kerja yang melelahkan setiap hari. Ia mengerjakan berbagai tugas administratif, menghadapi tuntutan atasan, dan menyaksikan perilaku tidak pantas yang tampaknya telah menjadi bagian dari budaya kantor. Meskipun pekerjaannya terlihat sederhana, Jane mulai menyadari bahwa lingkungan profesionalnya menyimpan persoalan yang lebih serius daripada sekadar beban kerja.

    Berbeda dari film tentang kesuksesan yang dipenuhi pencapaian besar, The Assistant menyoroti bagaimana hierarki dan budaya kerja yang tidak sehat dapat membuat seseorang merasa tidak berdaya. Jane harus mempertimbangkan risiko ketika memutuskan apakah akan bersuara atau tetap bertahan demi pekerjaannya. Film ini mengingatkan bahwa keberhasilan profesional seharusnya tidak menuntut seseorang mengabaikan martabat, rasa aman, dan nilai-nilai yang diyakininya.

    Film-film di atas menunjukkan bahwa dunia kerja tak hanya menjadi tempat untuk mengejar penghasilan atau membangun karier, tetapi juga ruang untuk menguji nilai dan prinsip. Ada kalanya ambisi membantu kita berkembang, tetapi ada pula saatnya kita perlu berhenti sejenak untuk mengevaluasi apa yang sebenarnya ingin dicapai. Kesuksesan bukan sekadar seberapa tinggi posisi yang diraih, melainkan juga tentang bagaimana kita menjalani prosesnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More