Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Feminis-Sosialis yang Akan Mengusik Kenyamananmu
Housekeeping (dok. Columbia Pictures/Housekeeping)
  • Artikel menjelaskan feminisme-sosialis sebagai pandangan bahwa patriarki dan kapitalisme saling berkorelasi, menciptakan opresi ganda bagi perempuan dengan pengalaman berbeda menurut kelas, ras, dan orientasi seksual.
  • Part-Time Work of Domestic Slave, Poor Cow, dan Loving Couples menyoroti perempuan yang menghadapi tekanan ekonomi, kerja domestik, ketergantungan pada laki-laki, serta opresi kelas dan gender.
  • Born in Flames dan Housekeeping menggambarkan ketimpangan gender, ras, homofobia, monopoli media, serta tuntutan sosial terhadap peran domestik perempuan, bahkan dalam kondisi yang tampak lebih bebas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau patriarki identik dengan kapitalisme, seharusnya tidak mengherankan kalau feminisme punya irisan besar dengan sosialisme. Dalam perjalanannya, kamu mungkin menemukan istilah feminisme-sosialis. Secara umum, ia berargumen kebebasan perempuan mustahil terwujud dalam sistem kapitalisme. Menurut penganutnya, patriarki dan kapitalisme adalah dua sistem terpisah yang saling berkorelasi, sehingga menciptakan opresi ganda bagi perempuan.

Ada faktor ketimpangan kelas dan interseksionalitas yang harus jadi bahan pertimbangan sebelum bicara kebebasan memilih bagi perempuan. Dengan pisau analisa ini, kamu jadi bisa menjelaskan pengalaman perempuan kelas pekerja dan kelas menengah atas bakal sangat berbeda. Begitu pula perempuan dari ras dan orientasi seksual berbeda. Masih susah buat memahaminya? Coba pelajari bersama lewat lima film feminis-sosialis berikut:

1. Part-Time Work of Domestic Slave (1973)

Part-Time Work of a Domestic Slave (dok. Kairos-Film/Part-Time Work of a Domestic Slave)

Mulai dengan nonton sinema Jerman klasik berlakon perempuan ulet ini, deh. Roswitha Bronski namanya, ibu rumah tangga yang geregetan melihat suaminya gagal memberi nafkah layak dan akhirnya terdorong untuk membuka jasa aborsi ilegal. Selama beberapa waktu, bisnisnya berjalan lancar sampai polisi mencium gelagatnya dan menutup paksa klinik tak resminya itu.

Menolak pasrah, Roswitha yang harus menghidup 3 anak pun membuka bisnis lain, kali ini ia menjual makanan di pinggir jalan. Perjuangan Roswitha bisa dilihat sebagai fenomena feminisme sosialis, yakni ketika perempuan memberdayakan dirinya dengan keluar dari kekangan domestik. Di sisi lain, ia melakukannya karena kebutuhan bertahan hidup serta kegagalan sistem kapitalisme memberikan kesetaraan akses bagi masyarakat kelas bawah sepertinya.

  • Genre: drama

  • Pemain: Alexandra Kluge, Bion Steinborn

  • Sutradara: Alexander Kluge

2. Born in Flames (1983)

Born in Flames (dok. Criterion/Born in Flames)

Dalam Born in Flames, Amerika Serikat diceritakan sudah 10 tahun jadi negara sosialis-demokratik, tetapi ternyata opresi dan ketimpangan gender serta rasial masih eksis. Kondisi ini mendorong sekelompok aktivis perempuan kulit hitam menginisiasi pemberontakan. Berlatar tahun 1980-an, mereka memulainya lewat pembajakan siaran radio dan televisi, mengisinya dengan slogan propaganda dan agitasi yang tujuannya menyadarkan pentingnya perubahan struktural tambahan, terutama di sektor-sektor yang masih terabaikan. Misalnya monopoli media, diskriminasi rasial, homofobia, akses pekerjaan yang tidak merata untuk perempuan, dan lain sebagainya.

  • Genre: distopia, dokufiksi, queer

  • Pemain: Kathryn Bigelow, Jean Satterfield

  • Sutradara: Lizzie Borden

3. Housekeeping (1987)

Housekeeping (dok. Columbia Pictures/Housekeeping)

Lucille dan Ruth adalah dua kakak beradik yang kehilangan orangtua mereka dan akhirnya dititipkan di bawah pengasuhan Tante Sylvie. Masalahnya, Silvye bukan perempuan biasa. Ia cukup enigmatik dan ganjil. Ia sudah bercerai, tak punya pekerjaan jelas, dan tak pula menjalankan peran ibu yang seharusnya. Ia membiarkan dua keponakannya bolos sekolah dan kerap membiarkan rumahnya dalam keadaan berantakan.

Lucille memilih untuk meninggalkan rumah Sylvie dan mencari kehidupan normal di rumah tetangganya. Sementara itu, Ruth masih bimbang, ia tertarik dengan konsep kebebasan Sylvie, tetapi harus menghadapi otoritas yang hendak “menyelamatkannya” dari sang tante. Housekeeping memang dikemas dengan genre surealisme yang membuatmu seperti sedang menyaksikan sebuah adegan dalam mimpi. Namun, ada banyak elemen kritik sosial di sana, termasuk tekanan sosial yang membebankan tugas domestik dan ramah tamah kepada perempuan.

  • Genre: drama

  • Pemain: Christine Lahti, Andrea Burchill

  • Sutradara: Bill Forsyth

4. Poor Cow (1967)

Poor Cow (dok. BFI/Poor Cow)

Sebelum dikenal sebagai sutradara kawakan Inggris, Ken Loach memulai kariernya lewat film feminis-sosialis bertajuk Poor Cow. Untuk memahami konsep feminisme-sosialis, kita akan diajak melihat dunia lewat kacamata Joy, seorang perempuan yang menikahi penjahat kelas teri dan akhirnya harus bertahan hidup sendiri bersama bayinya saat sang suami dipenjara. Tanpa jejaring sosial dan bekal keterampilan yang cukup untuk masuk pasar kerja, Joy akhirnya jatuh ke tangan pria lain seperti suaminya.

Saat pacar barunya bernasib serupa dengan suaminya, Joy akhirnya masuk ke pasar kerja yang memberinya impresi kebebasan dan tentu uang cepat, tetapi sebenarnya sedang memakan jiwanya diam-diam. Tanpa menghakimi keputusan Joy, kita diajak menghadapi kenyataan bahwa perempuan nyatanya memang dididik untuk jadi male-centered . Ini lagi-lagi membuat perempuan jadi pihak paling dirugikan dalam sistem kapitalisme dan patriarki yang sadis ini.

  • Genre: kitchen-sink drama

  • Pemain: Carol White, Terrence Stamp

  • Sutradara: Ken Loach

5. Loving Couples (1964)

Loving Couples (dok. Criterion/Loving Couples)

Kehamilan dan proses melahirkan mungkin sebuah momen kemenangan buat sebagian orang, tetapi tidak untuk tiga perempuan bernama Agda, Adele, dan Angela. Selama menunggu proses melahirkan itu, kita diajak melihat kilas balik masa lalu mereka sebelum berakhir di bangsal yang sama. Datang dari latar belakang ekonomi dan sosial berbeda, mereka ternyata pernah mengalami berbagai opresi kelas dan gender. Tragis dan jelas film ini tidak bermaksud membuatmu merasa nyaman.

  • Genre: drama

  • Pemain: Harriet Andersson, Gunnel Lindblom

  • Sutradara: Mai Zetterling

Kamu bisa belajar banyak hal dari film, termasuk konsep sosial dan fenomena kultural yang terasa abstrak bisa dipelajari lewat buku teks. Nyatanya pengalaman memang bisa jadi media belajar ideal dan film bisa menyediakannya untukmu.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article