Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dari Bioskop hingga TikTok, Kenapa Hiburan Indonesia Lagi Terbatak-Batak?

8 min read
Dari Bioskop hingga TikTok, Kenapa Hiburan Indonesia Lagi Terbatak-Batak?
cuplikan film Ngeri-Ngeri Sedap (dok. Imajinari/Ngeri-Ngeri Sedap)
  • Representasi Batak di hiburan Indonesia kembali menonjol lewat film sukses seperti Ngeri-Ngeri Sedap dan Agak Laen, yang membawa budaya serta konflik keluarga lokal ke audiens luas.

  • Lagu Batak ramai di media sosial dan festival nasional, didukung kekuatan melodi lintas bahasa serta eksperimen musisi yang memadukan unsur tradisional dengan genre modern.

  • Peneliti menilai visibilitas Batak dipengaruhi tradisi merantau ke Jakarta, karakter yang ikonik, dan cerita urban yang dekat dengan pengalaman umum; keberlanjutan bergantung pada performer.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Belakangan ini, identitas Batak semakin sering ditemukan dalam berbagai produk hiburan Indonesia. Dari film yang menembus jutaan penonton, lagu berbahasa daerah yang ramai digunakan sebagai sound TikTok, sampai komedian dan kreator yang menjadikan logat serta karakter Batak sebagai ciri khas konten mereka.

Dari layar bioskop, misalnya. Ngeri-Ngeri Sedap dan Agak Laen merupakan beberapa contoh film dengan tema Batak yang berhasil menyedot jutaan penonton. Terbaru, Imajinari juga akan merilis Pulang Kampung, sebuah film musikal yang juga berlatar budaya Batak. Sementara itu, di panggung musik ada banyak lagu Batak yang kembali viral hingga ruang khusus Terbatak-batak pada Pestapora 2026 yang gak kalah mencuri perhatian. Mengapa Batak menguasai latar cerita dan panggung hiburan?

  1. 1. Film Batak dari niche jadi mainstream

    Bulan di Atas Kuburan (dok. MAV Production / Bulan di Atas Kuburan)
    Bulan di Atas Kuburan (dok. MAV Production / Bulan di Atas Kuburan)

    Peneliti budaya Hikmat Darmawan mengungkapkan, representasi Batak dalam budaya populer Indonesia sebenarnya bukan fenomena baru.

    “Kata kuncinya 'lagi' ya, maksudnya kan ini bukan peristiwa baru,” ujar Hikmat saat diwawancarai IDN Times pada Jumat (16/10/2026).

    Sebelum Ngeri-Ngeri Sedap dan Agak Laen menjadi fenomena, cerita tentang masyarakat Batak sebenarnya sudah sering hadir dalam perfilman Indonesia. Salah satunya adalah Bulan di Atas Kuburan karya Asrul Sani yang dirilis pada 1973. Film ini mengikuti kehidupan tiga orang yang merantau dari Samosir ke Jakarta untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Namun, harapan mereka berbenturan dengan kerasnya kehidupan ibu kota. Film tersebut kemudian dibuat ulang pada 2015 dengan dibintangi Rio Dewanto, Atiqah Hasiholan, hingga Donny Alamsyah dengan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi zaman.

    Contoh lainnya adalah Secangkir Kopi Pahit karya Teguh Karya yang dirilis pada 1980-an. Film ini mengikuti perjalanan Togar, seorang perantau dari Sumatera Utara yang berusaha membangun kehidupan di Jakarta. Identitas Batak hadir melalui pengalaman tokohnya sebagai perantau, sementara ceritanya juga membahas persoalan kelas sosial, pekerjaan, hubungan keluarga, dan kehidupan masyarakat urban.

    Hikmat menyoroti bagaimana film lama dan modern menampilkan identitas Batak dengan cara yang berbeda. Jika film lama seperti Bulan di Atas Kuburan lebih bergulat dengan kehidupan Batak di dunia modern, Ngeri-Ngeri Sedap justru menggunakan budaya Batak sebagai pintu masuk untuk menyambungkan konflik setiap karakternya dan memperkenalkan budaya ini pada penonton lebih luas. Adat dalam film tersebut mendorong para tokoh dalam mengambil keputusan.

    “Kenapa, saya bisa bilang begitu? Karena Ngeri-Ngeri Sedap itu untuk menegaskan ke-Batak-annya itu harus bersandar pada ritus-ritus eksotik gitu, sementara dari film tadi Bulan di Atas Kuburan sampai ke Secangkir Kopi Pahit, itu memang benar-benar bergulat dengan sosiologi dan antropologi Batak di dunia modern gitu, lho,” katamua.

    Dalam kesempatan terpisah, Bene Dion, personel Agak Laen yang merupakan penulis serta sutradara Ngeri-Ngeri Sedap dan akan membuat musikal Batak Pulang Kampung, menanggapi tren ini. Ia bersyukur semakin banyak film Batak yang diproduksi. Menurutnya, fenomena ini diharapkan bisa mendorong sineas dari daerah lain untuk turut mengangkat cerita dan budaya lokal melalui film.

    “Syukurnya iya, ada banyak film Batak bermunculan, walaupun tidak bisa bilang rutin, ya. Mungkin secara etnik lebih banyak film daerahnya dibandingkan suku-suku lain. Dan aku harap, jadi bukan maksudnya itu jadi kebanggaan gitu. Aku juga berharap ini bisa diikutin sama filmmaker-filmmaker dari daerah untuk memunculkan filmnya,” ujarnya saat ditemui IDN Times pada Rabu (7/10/2026).

    Ngeri-Ngeri Sedap (2022) meraih 2.886.121 penonton, menjadikannya sebagai salah satu film dengan naskah orisinal terlaris di Indonesia. Sementara untuk Agak Laen (2024) yang dibintangi Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga meraih sekitar 9,1 juta penonton. Sekuelnya, Agak Laen: Menyala Pantiku! (2026) kemudian mencatat lebih dari 11 juta lebih penonton dan menempatkannya sebagai film terlaris di Indonesia.

  2. 2. Lagu Batak juga kembali viral

    lagu Mardua Holong yang viral di medsos (tiktok.com)
    lagu Mardua Holong yang viral di medsos (tiktok.com)

    Budaya Batak tidak cuma menjamur di layar bioskop. Jauh sebelum itu, lagu-lagu Batak juga familier di kalangan pendengar umum. Pada era 1950-an dan 1960-an, ada sosok Gordon Tobing yang dikenal lewat lagu-lagu Batak-nya dan memperkenalkan musik Indonesia lewat berbagai misi kebudayaan di luar negeri.

    Kini, lagu-lagu Batak kembali menemukan ruang di kalangan generasi muda. Salah satu contoh yang kembali ramai adalah “Mardua Holong”, lagu yang dipopulerkan Omega Trio. Lagu bertema pengkhianatan dalam hubungan tersebut kerap digunakan untuk konten galau dan kisah percintaan di media sosial. Pada 2026, “Songon Bulan” juga menjadi sound untuk tren video parodi di TikTok. Pengguna membuat konten seolah-olah sedang menjalani proses syuting video musik ala penyanyi Batak.

    Bukan cuma ramai di media sosial. Area Terbatak-Batak di Pestapora 2026 juga menandai bahwa musik berbasis identitas daerah ini memiliki ruang dalam festival musik nasional. Festival tersebut juga menghadirkan nama-nama seperti trio Ucok Bongax, band punk Batak Punxgoaran, hingga Agak Laen untuk memimpin penonton menikmati lagu-lagu dari tanah Sumatra Utara tersebut.

    Menurut Hikmat, lagu-lagu berbahasa daerah, termasuk Batak, disukai pendengar luas, karena kekuatan musik itu sendiri yang bisa menghubungkan setiap manusia tanpa batasan bahasa. Melodi dan emosi yang dihasilkan dari lagu tersebut membuat semua orang bisa menikmatinya walau tidak mengerti bahasanya.

    “Saya gak perlu ngerti bahasanya sebagaimana dulu, waktu kecil saya gak ngerti bahasa Inggris, tapi kan ada hal yang sifatnya musikal gitu, ada hal yang sifatnya indrawi gitu ya, yang menyebabkan ada koneksi gitu dari berbagai etnik,” ujarnya.

    Menriknya, musik Batak yang berkembang saat ini tidak hanya bergantung pada lagu-lagu lama yang kembali viral. Sejumlah musisi berusaha memadukan bahasa dan unsur musik Batak dengan genre modern agar tetap relevan bagi pendengar muda. Salah satunya Siantar Rap Foundation (SRF), grup hip-hop asal Pematangsiantar yang menggabungkan rap dengan identitas Batak.

    Eksplorasi serupa dilakukan BATARA melalui single debut “Horas Ma Ito” yang dirilis pada September 2026. Grup ini menggabungkan unsur musik Batak dengan hipdut, termasuk penggunaan instrumen taganing, alat musik tradisional perkusi membranofon asal Sumatra Utara dari suku Batak Toba. Liriknya juga memadukan bahasa Indonesia, Batak, dan Inggris, dan mengangkat sinamot atau mahar dalam tradisi pernikahan Batak.

    Hikmat melihat, ada rasa kepercayaan diri yang meningkat pada musisi dalam menggunakan bahasa daerah sebagai bagian dari perkembangan budaya pop Indonesia.

    “Ada semacam rasa percaya diri yang lebih untuk membawa, membawakan lagu dengan syair bahasa daerah, dengan musik yang sangat modern gitu kan. Jadi gak hanya campur sari Jawa, gak hanya itu doang. Sudah muncul yang lain-lain. Padang ada, Aceh ada, Makassar ada, Papua ada, ya kan, malah ngetop gitu kan," ucap peneliti budaya yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua/Wakil Direktur di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2021–2023 ini.

  3. 3. Persona kedaerahan sudah disukai masyarakat Indonesia sejak dulu

    film indonesia 2025
    cuplikan Agak Laen: Menyala Pantiku! (dok. imajinari/ Agak Laen: Menyala Pantiku!)

    Popularitas film dan musik Batak ini juga gak lepas dari persona aktor, musisi, hingga kreator kontennya. Gak hya geng Agak Laen, banyak kreator dengan persona Batak di media sosial yang diterima masyarakat Indonesia.

    “Bukan cuma film sih menurut gue, ya. Musik, content creator juga. Banyak sekali content creator-content creator yang based-nya Batak, tapi bisa punya audiens se-Indonesia,” ujar Ernest saat diwawancarai bersama Bene.

    Hikmat Darmawan menambahkan, penggunaan identitas etnik sebagai bagian dari persona hiburan memang sudah sejak dulu digunakan dan diterima banyak orang. Ia mencontohkan grup lawak Warkop DKI yang sering berganti-ganti identitas etnik dalam setiap filmnya. Ada juga grup Srimulat yang sangat lekat dengan identitas Jawa-nya.

    “Warkop sebagai anak mahasiswa yang kritis dan sebagainya itu, mereka bisa tuh mengambil, mengapropriasi atau mengambil lah, meminjam identitas dalam persona lawak mereka. Misalnya Batak, Madura, Betawi gitu. Tapi kalau grup lawak tuh kayak identitasnya tuh, Srimulat kan Jawa. Di dalam Srimulat sendiri ada tuh tokoh yang Madura, misalnya Kadir gitu kan. Lalu ada tokoh yang parodi orang Sunda gitu. Tapi kebanyakan kan kita tau itu Jawa. Lalu Us Us (D'Bodors) ya waktu itu sama grupnya, sama De'Kabayan. De'Kabayan tuh Sunda, itu Mang Ibing,” jelas Hikmat.

  4. 4. Kenapa Batak cukup menonjol di industri hiburan?

    Cuplikan trailer Ngeri-Ngeri Sedap. (Youtube/Imajinari)
    Cuplikan trailer Ngeri-Ngeri Sedap. (Youtube/Imajinari)

    Salah satu alasan yang menjelaskan mengapa representasi Batak cukup menonjol di industri hiburan Indonesia tak lepas dari budaya merantau mereka ke ibu kota.

    “Banyak produksi hiburan itu diproduksi di kita, diproduksi di Jakarta. Dan populasi orang Batak di Jakarta pada tahun 70-an itu signifikan bukan hanya dari segi jumlah, tetapi dari segi kelas sosial gitu ya,” kata Hikmat.

    Ia juga menjelaskan, orang Batak dikenal punya ciri khas tersendiri yang sangat ikonik. Mulai dari logat, nada bicara, hingga profesi-profesi tertentu. Pengalaman hidup di kota, perjumpaan dengan berbagai kelompok masyarakat, dan persoalan yang muncul selama merantau juga bisa menjadi sumber cerita yang dekat dengan kehidupan banyak orang.

    Audiens umum mungkin tidak memiliki pengalaman budaya yang sama dengan para kreator, tetapi mereka tetap bisa merasakan hal serupa, seperti tekanan ekonomi, ekspektasi keluarga, atau memahami keinginan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

    Bene Dion pun mengamini. Menurut Bene, ia tidak selalu secara sadar menjadikan identitas Batak sebagai sumber kelucuan pada naskahnya. Justru, potensi komedi sering muncul secara spontan dengan sendirinya.

    “Karena mungkin aku komedian, orang Batak, kadang-kadang tidak memikirkannya secara detail. Jadi saat melihat situasi, nah sepertinya bisa nih situasinya dikomediin. Jadi kayak insting muncul aja, gak spesifik diniatkan film komedi, titik tawanya di sini-di sini. Jadi aku nulis aja, kalau insting berkata bisa dikomedikan, ya dikomedikan, kalau tidak ya gak bisa dipaksa,” ujarnya.

  5. 5. Apakah tren Batak ini musiman?

    Ngeri-Ngeri Sedap (dok. Imajinari/Ngeri-Ngeri Sedap)
    Ngeri-Ngeri Sedap (dok. Imajinari/Ngeri-Ngeri Sedap)

    Apakah fenomena 'terbatak-batak' ini hanya musiman? Menurut Hikmat Darmawan, tren hiburan, apa pun itu, lebih cenderung bergantung pada si performer itu sendiri.

    “Jadi dia mungkin life cycle-nya biasanya lima tahunan gitu ya, life cycle sebagai penghibur, sebagai sosok performer gitu. Kalau bisa melampaui itu kan memang berarti ada sesuatu yang intrinsiknya memang kuat gitu ya,” jelas Hikmat.

    Yang pasti, menurutnya, orang Batak akan selalu ada di industri ini.

    “Film sama musik, saya kira trennya tetap tidak diukur dari etniknya. Yang jelas, sih orang Batak akan selalu ada di dalam dunia hiburan,” tegas Hikmat.

    Apakah kamu termasuk yang suka menikmati konten bernuansa Batak?

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More