Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Gak Biasa yang Harus Ditonton Sebelum Putuskan Punya Anak
We Need to Talk About Kevin (dok. Criterion/We Need to Talk About Kevin)
  • Lima film ini mengajak calon orang tua melihat pengasuhan sebagai komitmen jangka panjang yang menuntut kesiapan finansial, emosional, dan tanggung jawab nyata.
  • Nobody Knows, We Need to Talk About Kevin, dan Eden Lake menyoroti dampak pengabaian, beban pengasuhan tidak seimbang, serta pengaruh pola asuh dan lingkungan terhadap anak.
  • The Brood dan Eraserhead menggambarkan tekanan domestik serta beratnya merawat anak, menekankan bahwa tanggung jawab pengasuhan perlu dipertimbangkan oleh kedua orang tua.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Memutuskan punya anak bukan perkara sepele. Ada komitmen pengasuhan yang harus dijalani dan ini bukan hitungan bulan atau tahun. Prosesnya bisa dua dekade bahkan mungkin seumur hidup, tergantung pada bagaimana kita menjalankan pola asuh. Pertimbangannya pun tidak sebatas kemapanan finansial, tetapi juga kestabilan emosi.

Untuk itu, ada baiknya kamu mencari sebanyak-banyaknya referensi sebelum memutuskan punya anak. Termasuk mungkin dengan nonton 5 film gak biasa berikut. Kenapa tak biasa? Karena beberapa punya pesan moral yang mungkin di luar dugaanmu. Apa saja?

1. Nobody Knows (2004)

Nobody Knows (dok. MUBI/Nobody Knows)

Nobody Knows adalah cerita Akira, bocah 12 tahun yang lahir dari orangtua tak bertanggung jawab. Ia kerap ditinggal ibu tunggalnya dan diharapkan bisa jadi pengganti orangtua untuk ketiga adiknya. Parahnya, sang ibu tak pernah mendaftarkan Akira dan adik-adiknya ke sekolah formal, bahkan ketiga anak terakhir tak tercatat dalam data kependudukan Jepang. Keberadaan mereka baru diketahui ketika sang ibu tak kunjung pulang dan orang-orang mulai curiga melihat ada 4 anak kurang gizi yang tinggal di sebuah apartemen tanpa pengawasan orang dewasa. Terinspirasi kisah nyata, film ini mengingatkan kita betapa pentingnya kesadaran akan tanggung jawab jadi orangtua. Ini bukan hanya soal si ibu, tetapi juga ayah Akira yang meninggalkan keluarganya dan berkontribusi dalam masalah kesehatan mental pasangannya.

  • Genre: drama, kriminal

  • Pemain: Yuya Yagira, You

  • Sutradara: Hirokazu Koreeda

2. We Need to Talk About Kevin (2011)

We Need to Talk About Kevin (dok. Oscilloscope Pictures/We Need to Talk About Kevin)

Bukan Lynne Ramsay kalau tak menyelipkan isu gender dalam film garapannya. We Need to Talk About Kevin misalnya, berpusat pada Eva, seorang perempuan berjiwa bebas yang menemukan dirinya hamil di luar rencana. Ia terpaksa mempertahankan janin tersebut dan mirisnya tak dapat dukungan yang benar-benar dibutuhkan dari pasangannya, Franklin. Lahirlah Kevin, seorang bocah laki-laki yang menurut Eva membuatnya tak nyaman sejak dalam kandungan. Namun, lagi-lagi, perasaan kesal dan marahnya tak divalidasi orang terdekatnya. Eva justru dapat tekanan dan terus dibikin merasa bersalah ketika dirinya merasa terbebani oleh Kevin. Ramsay membicarakan beban reproduksi dan pengasuhan yang sering tak seimbang dalam pernikahan. Siapa lagi kalau bukan perempuan yang harus menanggungnya.

  • Genre: drama-psikologi

  • Pemain: Tilda Swinton, Ezra Miller

  • Sutradara: Lynne Ramsay

3. Eden Lake (2008)

Eden Lake (dok. Pathe/Eden Lake)

Eden Lake adalah salah satu film yang wajib kamu tonton sebelum memutuskan punya anak yang nantinya akan tumbuh besar. Film ini awalnya mengikuti liburan manis dua sejoli kelas menengah di sebuah pedesaan Inggris. Namun, bukannya menikmati waktu, mereka justru terjebak dalam konflik dengan sekelompok remaja lokal. Awalnya sepele, tetapi lama kelamaan jadi tak terkendali. Di sini, kita disuguhi bagaimana pola asuh dan lingkungan jadi akar dari segala kekacauan itu. Nyatanya, peran orangtua dan orang dewasa di sekitar anak-anak punya peran penting dalam membentuk kepribadian. Sudahkah kita menyediakan lingkungan kondusif dan bekal yang cukup?

  • Genre: thriller

  • Pemain: Kelly Reilly, Jack O’Connell

  • Sutradara: James Watkins

4. The Brood (1979)

The Brood (dok. Criterion/The Brood)

Bukan film tentang parenting, tetapi sumber konflik film ini adalah kasus perebutan hak asuh anak. Nola adalah seorang ibu satu anak yang sedang dalam proses perceraian dengan suaminya, Frank. Dianggap tak waras, Nola ditempatkan di sebuah rumah sakit jiwa dan terancam kehilangan hak asuh. Pada saat itulah, ia menemukan dirinya punya rahim yang tumbuh di luar tubuhnya dan melahirkan lima makhluk baru. Makhluk itu seperti kepanjangan dari dirinya, bisa melakukan apa yang Nola inginkan, tetapi tak bisa karena posisinya yang terkurung. Mereka pula yang kemudian melakukan teror terhadap orang-orang yang dianggap Nola sudah menyakiti dan menghalanginya. Dibuat David Cronenberg yang memang spesialis film body-horror, The Brood memang sebuah gambaran ekstrem dari dampak tekanan domestik yang umumnya dirasakan perempuan dalam pernikahan.

  • Genre: body-horror

  • Pemain: Samantha Eggar, Art Hindle

  • Sutradara: David Cronenberg

5. Eraserhead (1977)

Eraserhead (dok. Criterion/Eraserhead)

Wajar bila perempuan membuat banyak pertimbangan sebelum memutuskan punya anak. Mereka harus melalui proses perubahan biologis yang tak sebentar dan bahkan kerap dapat beban pengasuhan penuh atas anak. Ini yang sering terlewat dalam pertimbangan calon ayah yang kontribusinya kerap minim. Eraserhead berusaha membalik keadaan tersebut dengan menempatkan beban pengasuhan anak secara penuh terhadap seorang ayah bernama Henry Spencer. Anak ini diceritakan dalam film lahir dalam kondisi yang tak biasa dengan tingkat kesulitan merawat yang juga di luar rata-rata. Bisakah Henry melakoni tanggung jawabnya sebagai orangtua?

  • Genre: horor, sains-fiksi

  • Pemain: Jack Nance, Charlotte Stewart

  • Sutradara: David Lynch

Setelah nonton kelima film tadi, kamu bakal tobat dari kebiasaan meromantisasi peran orangtua. Nyatanya banyak anak yang tidak lahir dalam kondisi ideal dan faktornya bermacam-macam. Bisa karena ketidaksiapan finansial maupun mental orangtua. Yakin bisa memberikan yang terbaik buat anak? Sebelum melanjutkan rencana itu, pikirkan komitmen jangka panjang dan mitigasinya, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article