7 Film Kontroversial yang Dicintai, tetapi Juga Dibenci Penonton

- Tujuh film kontroversial membelah opini penonton karena tema sensitif, kekerasan, seksualitas, politik, serta penggambaran tokoh dan kelompok tertentu.
- A Clockwork Orange, Last Tango in Paris, A Serbian Film, dan Cannibal Holocaust dikritik atas kekerasan, adegan eksplisit, etika produksi, hingga penggunaan kematian hewan sungguhan.
- Fahrenheit 9/11, Blonde, dan The Birth of a Nation diperdebatkan karena keberpihakan politik, eksploitasi penderitaan Marilyn Monroe, serta stereotip rasial dan pemuliaan Ku Klux Klan.
Tidak semua film dibuat untuk menyenangkan semua orang. Ada beberapa karya yang justru memicu perdebatan sengit sejak pertama kali dirilis. Sebagian penonton menganggapnya sebagai mahakarya yang berani, sementara yang lain menilai film-film tersebut terlalu ekstrem, bermasalah, atau bahkan tidak layak ditonton.
Menariknya, kontroversi sering kali membuat sebuah film semakin dikenang. Baik karena tema yang sensitif, adegan yang mengejutkan, maupun pesan yang dianggap terlalu provokatif, film-film berikut terus menjadi bahan diskusi hingga bertahun-tahun setelah perilisannya.
Inilah tujuh film kontroversial yang berhasil membelah opini penonton sekaligus meninggalkan jejak besar dalam sejarah perfilman. Kamu tim yang menyukainya atau malah membencinya, nih?
1. A Clockwork Orange (1971)

A Clockwork Orange (dok. Warner Bros/A Clockwork Orange) Disutradarai oleh Stanley Kubrick dan diadaptasi dari novel karya Anthony Burgess, A Clockwork Orange mengikuti kisah Alex, seorang pemuda yang gemar melakukan tindakan kriminal dan kekerasan sebelum akhirnya dijadikan subjek eksperimen untuk menghilangkan naluri agresifnya. Film ini memadukan satir dan kritik sosial dalam balutan visual yang khas.
Meski dipuji karena kualitas penyutradaraan dan kedalaman temanya, film ini juga menuai kritik keras karena dianggap terlalu banyak menampilkan kekerasan yang bergaya dan berpotensi mengagungkannya. Stanley Kubrick bahkan menerima ancaman sehingga film ini sempat ditarik dari peredaran di Inggris selama bertahun-tahun atas permintaannya sendiri.
2. Last Tango in Paris (1972)

Last Tango in Paris (dok. MGM/Last Tango in Paris) Disutradarai oleh Bernardo Bertolucci, Last Tango in Paris berkisah tentang hubungan emosional dan seksual antara seorang pria paruh baya dengan wanita muda di Paris. Ketika dirilis, film ini langsung menghebohkan karena adegan-adegannya yang sangat berani untuk ukuran zamannya. Beberapa negara bahkan sempat melarang penayangannya karena dianggap terlalu eksplisit.
Kontroversi film ini semakin besar setelah bertahun-tahun kemudian, ketika aktris Maria Schneider mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang ia alami saat proses syuting salah satu adegan terkenal. Pengakuan tersebut memicu diskusi serius mengenai etika di lokasi syuting, persetujuan aktor, dan penyalahgunaan kekuasaan dalam industri film.
3. Fahrenheit 9/11 (2004)

Fahrenheit 9/11 (dok. IFC Films/Fahrenheit 9/11) Film dokumenter karya Michael Moore ini mengulas berbagai kebijakan Presiden George W. Bush setelah tragedi 11 September, terutama keputusan Amerika Serikat untuk menginvasi Irak. Tidak seperti dokumenter yang berusaha tampil netral, Fahrenheit 9/11 secara terbuka menunjukkan sudut pandang politik sang sutradara. Itulah yang membuat film ini langsung menjadi pusat perhatian saat dirilis.
Bagi para pendukungnya, dokumenter ini dianggap berani mengkritik pemerintah dan membuka diskusi tentang kebijakan luar negeri Amerika. Sebaliknya, banyak penonton yang menuduh film ini terlalu berpihak dan lebih menyerupai propaganda politik daripada dokumenter objektif.
4. Blonde (2022)

Blonde (dok. Netflix/Blonde) Blonde menghadirkan kisah fiksi yang terinspirasi dari kehidupan ikon Hollywood Marilyn Monroe. Film yang dibintangi Ana de Armas ini tidak berusaha menjadi biografi yang sepenuhnya akurat. Sebaliknya, sutradara Andrew Dominik memilih menggambarkan Marilyn sebagai sosok yang terus-menerus dihantui trauma dan tekanan dari industri hiburan.
Pendekatan tersebut memicu reaksi yang sangat beragam. Ada yang menganggap Blonde sebagai kritik tajam terhadap cara Hollywood memperlakukan para bintangnya. Namun, tidak sedikit yang menilai film ini justru kembali mengeksploitasi Marilyn dengan terus menampilkan penderitaannya tanpa memberi ruang pada sisi lain kehidupannya.
5. A Serbian Film (2010)

A Serbian Film (dok. Unearthed Films/A Serbian Film) A Serbian Film menjadi salah satu film paling sering disebut ketika membahas batas ekstrem dalam dunia perfilman. Ceritanya mengikuti seorang mantan aktor film dewasa yang menerima tawaran proyek misterius demi memperbaiki kondisi keuangannya. Tanpa ia sadari, proyek tersebut menyeretnya ke dalam rangkaian kekerasan dan penyimpangan yang semakin mengerikan.
Sejak dirilis, film ini langsung menuai larangan tayang di berbagai negara karena menampilkan adegan yang dianggap sangat mengganggu dan melampaui batas. Sebagian orang berpendapat bahwa film ini merupakan metafora tentang korupsi politik, penyalahgunaan kekuasaan, dan eksploitasi masyarakat.
6. Cannibal Holocaust (1980)

Cannibal Holocaust (dok. United Artists/Cannibal Holocaust) Saat membahas film paling kontroversial sepanjang masa, Cannibal Holocaust hampir selalu masuk dalam daftar. Film garapan Ruggero Deodato ini mengikuti kisah tim dokumenter yang menghilang di hutan Amazon. Proses pencarian mereka dilakukan melalui rekaman yang berhasil ditemukan, sehingga film ini menjadi salah satu pelopor konsep found footage jauh sebelum genre tersebut populer.
Kontroversinya muncul karena adegan kekerasannya terlihat sangat nyata hingga sang sutradara sempat harus membuktikan di pengadilan bahwa para aktornya benar-benar masih hidup. Selain itu, produksi film ini juga menuai kecaman akibat penggunaan kematian hewan sungguhan selama proses syuting.
7. The Birth of a Nation (1915)

The Birth of a Nation (dok. Searchlight Pictures/The Birth of a Nation) Film bisu karya D.W. Griffith ini mengisahkan Perang Saudara Amerika dan masa Rekonstruksi dari sudut pandang keluarga kulit putih di wilayah Selatan. Dari sisi teknis, film ini dianggap sebagai salah satu tonggak penting dalam perkembangan sinema modern. Berbagai teknik seperti close-up dramatis, cross-cutting, hingga penyuntingan paralel dipopulerkan melalui film ini.
Namun, pencapaian teknis tersebut dibayangi oleh kontroversi besar. Film ini menggambarkan karakter kulit hitam secara stereotip dan bahkan memuliakan organisasi supremasi kulit putih Ku Klux Klan. Sebagian kritikus menganggap film ini penting untuk dipelajari sebagai sejarah perfilman, sementara yang lain menilai nilai artistiknya tidak bisa dipisahkan dari dampak negatif yang ditimbulkannya.
Film-film di atas membuktikan bahwa kontroversi tidak selalu berarti sebuah karya yang buruk. Dari daftar ini, film mana yang menurutmu paling layak disebut sebagai karya jenius, dan mana yang menurutmu sudah melewati batas?






















