Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film Pasifis Garapan Sutradara Perempuan, Stop Romantisasi Perang

5 Film Pasifis Garapan Sutradara Perempuan, Stop Romantisasi Perang
The Ascent (dok. Criterion/The Ascent)
  • Film pasifis menyoroti dampak perang terhadap warga sipil dan kelompok rentan.

  • Lima film berikut menghadirkan sudut pandang perempuan tentang trauma, konflik, dan perdamaian.

  • Film-film ini mengajak penonton berhenti meromantisasi perang dan melihat dampak buruknya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

“Tidak ada rakyat yang diuntungkan dalam perang” sepertinya masih jadi pendapat yang tidak populer (unpopular opinion) dibandingkan dengan jargon-jargon bela negara yang digaungkan berabad-abad. Padahal, kalau dipikir-pikir, pada akhirnya rakyat pula yang menanggung kerugian paling besar. Pajak dipakai untuk membiayai pengeluaran perang, ruang hidup makin terbatas, dan kita pun berpotensi jadi korban langsung.

Sayang, pesan pasifis atau antiperang pun tidak banyak ditemukan dalam budaya pop yang berkembang. Kebanyakan film tentang perang masih didominasi elemen romantisasi ketimbang kritik murni. Di sinilah, sineas perempuan memperkenalkan sudut pandang alternatif yang membuka mata. Kerap dianggap tak berkontribusi, padahal nasibnya sama-sama terancam, perempuan punya banyak opini yang patut didengar. Penasaran? Ini lima film pasifis terbaik garapan sutradara perempuan.

  1. 1. The Ascent (1971)

    The Ascent
    The Ascent (dok. Criterion/The Ascent)

    The Ascent adalah film hitam putih karya Larisa Shepitko yang berlatarkan musim dingin 1942 di sebuah desa di Belarusia. Penduduk desa dikejutkan dengan kedatangan dua tentara partisan Soviet yang meminta suplai pangan untuk satuan mereka. Tanpa mereka sadari, aktivitas mereka terbaca tentara Nazi dan mereka pun dijadikan tawanan bersama penduduk desa lain. Di sinilah, iman dan moral keduanya diuji di tengah cuaca ekstrem, kelaparan, dan siksaan fisik serta mental yang tak main-main. Lewat film terakhirnya ini, Shepitko berhasil menggambarkan suram dan gelapnya perang dari sudut pandang warga sipil dan tentara berpangkat rendah. Ini membuat kita bertanya siapa yang sebenarnya untung dan bersukacita dalam konflik bersenjata.

    • Genre: drama, antiperang
    • Pemain: Boris Plotnikov, Vladimir Gostyukhin
    • Sutradara: Larisa Shepitko

  2. 2. Quo Vadis, Aida? (2020)

    Quo Vadis, Aida? (dok. Palace Films/Quo Vadis, Aida?)
    Quo Vadis, Aida? (dok. Palace Films/Quo Vadis, Aida?)

    Quo Vadis, Aida? adalah reka ulang tragedi genosida di Sebrenica pada 1995 lewat sudut pandang perempuan yang juga seorang ibu dan istri. Aida namanya. Ia adalah penerjemah yang bekerja untuk markas penjaga perdamaian PBB di Bosnia saat itu. Satu hari, markas mereka dibanjiri pengungsi Bosnia yang terusir dari rumah mereka. Sayang, PBB tak punya cukup ruang dan logistik untuk menampung mereka hingga akhirnya pimpinan militer Serbia Ratko Mladic menawarkan “solusi” yang ternyata berujung pada genosida terencana. Memakai perspektif Aida merupakan pilihan tepat karena kita bisa merasakan keputusasaan dan penyesalannya saat gagal menyelamatkan keluarganya.

    • Genre: drama, sejarah
    • Pemain: Jasna Duricic, Boris Isakovic
    • Sutradara: Jasmila Žbanić

  3. 3. Where Do We Go Now? (2011)

    Where Do We Go Now?
    Where Do We Go Now? (dok. Les Films des Tournelles/Where Do We Go Now?)

    Sebelum Capernaum, Nadine Labaki pernah merilis film pasifis berjudul Where Do We Go Now? Latarnya masih Lebanon, tepatnya sebuah desa fiktif yang selama ini jadi tempat bernaung warga muslim dan Kristen. Selama ini, mereka hidup rukun sampai konflik pecah di beberapa kota besar di Lebanon dan mengancam kerukunan tersebut. Menariknya, para perempuan yang sudah membaca gelagat tersebut langsung turun tangan. Mereka sepakat melakukan berbagai cara nonkonvensional untuk mencegah konflik antaragama meluas ke desa mereka. Bagaimana caranya?

    • Genre: drama, komedi
    • Pemain: Nadine Labaki, Leyla Hakim
    • Sutradara: Nadine Labaki

  4. 4. Buddha Collapsed Out of Shame (2007)

    Buddha Collapses Out of Shame
    Buddha Collapses Out of Shame (dok. Unifrance/Buddha Collapses Out of Shame)

    Film ini dibuat Hana Makhmalbaf untuk membuka mata kita tentang kehidupan rakyat jelata di Afghanistan setelah perang sipil. Trauma pascaperang bukan isapan jempol belaka menurut sang sineas, terutama bagi kelompok rentan. Cerita berorbit pada Baktay, bocah perempuan 6 tahun yang cerdas dan aktif. Namun, ia harus menerima kenyataan bahwa dunia tidak berpihak padanya. Hidup dalam kemiskinan dan stagnasi, Baktay belum mengenyam pendidikan pada usia itu. Tiap hari, ia hanya bisa menanti cerita dari teman-teman laki-lakinya yang bersekolah sambil mendambakan akses yang sama. Ketika pada akhirnya Baktay mulai bersekolah, pembatasan-pembatasan lain mulai menghantui. Di sisi lain, teman-teman laki-lakinya terekspos doktrin-doktrin maskulinitas toksik yang mengglorifikasi perang dan patriarki.

    • Genre: drama
    • Pemain: Nikbakht Noruz, Abdolali Hoseinali
    • Sutradara: Hana Makhmalbaf

  5. 5. Pray the Devil Back to Hell (2008)

    Pray the Devil Back to Hell
    Pray the Devil Back to Hell (dok. International Documentary Film Festival Amsterdam/Pray the Devil Back to Hell)

    Pada 2003, sekelompok perempuan dari berbagai latar belakang, usia, dan agama berkumpul di sebuah lokasi strategis di Liberia untuk mendorong dihentikannya perang sipil yang sudah bergulir sejak 1977. Awalnya, aksi ini tampak seperti angin lalu, tetapi ternyata berhasil bikin presiden dan para pemimpin militan berunding untuk berdamai. Aksi mereka cukup unik. Mereka membuat barikade manusia, mengurangi distraksi, dan memaksa pihak berkonflik untuk segera mencari solusi.

    • Genre: dokumenter
    • Pemain: Leymah Gbowee, Etweda Cooper
    • Sutradara: Gini Reticker

    Kecuali pencetus dan penyuplai senjata, perang terbukti tak pernah menguntungkan siapa pun. Sayang, military–industrial complex (MIC) sudah terbentuk sebagai struktur yang sulit dibedah dan dilawan. Film-film pasifis karya perempuan tadi harapannya bikin kita tak lagi meromantisasi perang walau mirisnya kita tak punya kontrol penuh untuk mencegahnya selaku rakyat biasa.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More