5 Film Pemenang Best Picture Oscar yang Kini Terasa Overrated

- Beberapa film pemenang Best Picture Oscar kini dianggap overrated karena tema dan penyampaiannya terasa kurang relevan bagi penonton modern meski tetap memiliki kualitas teknis dan akting yang kuat.
- Contoh film seperti American Beauty, Green Book, Around the World in 80 Days, Crash, dan Gigi dikritik karena isu moral, representasi budaya, serta pendekatan cerita yang dinilai ketinggalan zaman.
- Artikel menyoroti bahwa penghargaan Oscar bukan jaminan keabadian kualitas; perubahan selera dan kesadaran sosial membuat sebagian karya klasik terasa problematik di era sekarang.
Setiap tahun, ajang Academy Awards memilih satu film sebagai Best Picture, gelar paling bergengsi di dunia perfilman. Namun, waktu sering kali menjadi hakim yang lebih jujur. Film yang dulu dielu-elukan sebagai mahakarya, bisa saja terasa ketinggalan zaman, problematik, atau bahkan salah arah ketika ditonton ulang bertahun-tahun kemudian.
Bukan berarti film-film ini sepenuhnya buruk. Banyak di antaranya tetap punya kualitas teknis dan akting yang kuat. Tapi jika dilihat dari sudut pandang penonton modern, tema atau cara penyampaiannya terasa kurang relevan. Berikut lima film pemenang Best Picture yang kini sering dianggap overrated dan tak lagi sekuat reputasinya.
1. American Beauty (1999)

Saat dirilis, American Beauty dipuji sebagai sindiran tajam tentang kehampaan hidup kelas menengah Amerika. Film ini mengikuti seorang pria paruh baya yang mengalami krisis identitas dan obsesi tak sehat terhadap teman remaja putrinya. Di akhir 1990-an, tema pemberontakan terhadap kehidupan suburban dianggap berani dan menggugah.
Namun sekarang, banyak penonton merasa film ini terlalu pretensius dan berpusat pada sudut pandang yang sempit. Karakternya kerap terlihat seperti karikatur, bukan representasi manusia yang kompleks. Ditambah lagi, kontroversi pribadi pemeran utamanya membuat pengalaman menonton jadi terasa janggal.
Di tahun yang sama ketika film-film seperti Fight Club dan The Matrix hadir dengan ide yang lebih visioner, kemenangan American Beauty terasa makin sulit dipertahankan.
2. Green Book (2018)

Green Book awalnya disambut sebagai drama persahabatan yang hangat dan menyentuh. Film ini mengisahkan tur pianis kulit hitam Dr. Don Shirley di Amerika Selatan tahun 1960-an bersama sopirnya yang berwatak keras. Akting Mahershala Ali dan Viggo Mortensen memang menuai pujian. Sayangnya, banyak kritik muncul karena film ini dianggap menyederhanakan isu rasisme.
Alih-alih menggali akar sistemik diskriminasi, ceritanya justru terasa terlalu nyaman dan aman untuk standar film yang membahas topik sensitif. Kemenangannya atas Roma dan film kuat lain membuatnya jadi simbol keputusan Oscar yang dinilai terlalu konservatif. Kini, reputasinya jauh lebih kontroversial dibanding saat malam kemenangan itu.
3. Around the World in 80 Days (1956)

Di masanya, film petualangan ini dianggap pencapaian teknis luar biasa. Durasi hampir tiga jam, lokasi internasional, serta skala produksi besar membuatnya terasa epik pada era 1950-an. Tak heran film ini membawa pulang Best Picture dan beberapa Oscar lainnya.
Namun jika ditonton sekarang, ritmenya terasa lambat dan penuh adegan yang seperti hanya pajangan. Penggambaran budaya asing juga sangat stereotip dan kurang sensitif. Bahkan praktik casting-nya mencerminkan standar lama yang kini dianggap problematik. Film ini lebih terasa sebagai kapsul waktu era 1950-an ketimbang tontonan yang masih relevan di 2026.
4. Crash (2004)

Crash hadir di tengah suasana Amerika pasca 9/11, ketika isu ras dan ketegangan sosial sangat sensitif. Film ini menyajikan kisah saling terhubung tentang prasangka dan konflik antar ras di Los Angeles. Saat itu, pendekatan multi-karakter dan pesan moralnya terasa kuat dan penting. Akan tetapi, seiring waktu banyak penonton menganggap film ini terlalu menggurui dan menyederhanakan persoalan rasisme.
Konflik struktural direduksi menjadi masalah pribadi yang bisa selesai lewat momen emosional singkat. Kemenangan kontroversialnya atas Brokeback Mountain masih sering disebut sebagai salah satu keputusan paling dipertanyakan dalam sejarah Oscar. Kini, Crash sering dijadikan contoh film Oscar-bait yang tak benar-benar mendalam.
5. Gigi (1958)

Sebagai musikal glamor produksi Warner Bros, Gigi dulu dipuja karena visual mewah dan lagu-lagunya yang ceria. Film ini bahkan menyabet sembilan Oscar, termasuk Best Picture. Di masanya, kisah romansa antara pria dewasa dan gadis muda ini dianggap manis dan romantis. Namun dari sudut pandang modern, premisnya terasa tidak nyaman.
Relasi antara karakter utama yang masih remaja dengan pria jauh lebih tua kini dipandang problematik. Lagu-lagu seperti “Thank Heaven for Little Girls” pun terdengar janggal bagi penonton masa kini. Meski nilai produksinya tetap impresif, Gigi lebih sering dilihat sebagai peninggalan era yang sudah sangat berbeda secara moral dan sosial.
Pada akhirnya, gelar Best Picture bukan jaminan bahwa sebuah film akan selalu dianggap hebat sepanjang masa. Selera penonton berubah, kesadaran sosial berkembang, dan standar bercerita pun ikut bergeser. Dari lima film ini, mana yang menurutmu paling terasa overrated dan tak lagi relevan saat ditonton ulang hari ini?


















