7 Film Pemenang Queer Palm Cannes Terbaik, Kisahnya Menggugah!

- Festival Film Cannes 2026 menobatkan film horor 'Teenage Sex and Death at Camp Miasma' karya Jane Schoenbrun sebagai pemenang Queer Palm, penghargaan bergengsi untuk sinema bertema LGBTQ+.
- Sejak 2010, Queer Palm konsisten memberi ruang apresiasi bagi film yang mengangkat isu keberagaman gender dan inklusivitas dengan kualitas sinematografi serta penyutradaraan tinggi.
- Tujuh film pemenang Queer Palm seperti 'Carol', 'BPM', hingga 'Joyland' menampilkan kisah menggugah tentang cinta, perjuangan identitas, dan refleksi sosial dalam berbagai budaya dunia.
Gegap gempita Cannes Film Festival 2026 baru saja usai dengan deretan pemenang yang sukses mencuri perhatian dunia. Namun, selain piala utama Palme d'Or, ada satu penghargaan independen yang gak kalah bergengsi dan selalu dinantikan tiap tahunnya, yaitu Queer Palm. Penghargaan ini menjadi sorotan setelah film horor Teenage Sex and Death at Camp Miasma garapan Jane Schoenbrun sukses membawa pulang piala utama Queer Palm tahun ini.
Sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2010, Queer Palm secara konsisten memberikan ruang apresiasi bagi film-film bertema LGBTQ+, inklusivitas, dan keberagaman gender yang berkompetisi di Cannes. Gak sekadar jualan isu sosial, film-film yang berhasil memboyong piala ini terbukti memiliki kualitas sinematografi, naskah, dan penyutradaraan yang jempolan.
Nah, buat kamu yang penasaran dengan kualitas film pilihan festival bergengsi ini, berikut adalah tujuh rekomendasi film pemenang Queer Palm Cannes terbaik yang punya cerita super menggugah. Siap-siap dibuat terhanyut!
1. Stranger by the Lake (2013)

Jika kamu suka film thriller berlatar satu lokasi, Stranger by the Lake wajib masuk watchlist. Film Prancis garapan Alain Guiraudie ini mengambil latar danau terpencil yang dikenal sebagai tempat berkumpul komunitas gay, lalu mengubah suasana tenang tersebut jadi arena penuh ketegangan psikologis. Dirilis pada 2013, film ini sukses memenangkan Queer Palm berkat keberaniannya membedah sisi paling gelap dari hasrat dan obsesi.
Ceritanya mengikuti Franck (Pierre Deladonchamps), pria muda yang rutin datang ke danau tersebut untuk bersantai sekaligus mencari hubungan singkat. Suatu malam, ia tanpa sengaja melihat Michel (Christophe Paou), pria misterius yang membuatnya jatuh hati, melakukan pembunuhan di tengah danau. Bukannya menjauh, Franck justru semakin terobsesi dan terlibat hubungan berbahaya dengan Michel, meski sadar nyawanya sendiri bisa jadi taruhannya.
2. Carol (2015)

Film tentang pasangan lesbian satu ini kerap dipuji sebagai salah satu karya queer terbaik sepanjang dekade 2010-an. Dibintangi oleh Cate Blanchett dan Rooney Mara, Carol mengikuti romansa antara fotografer muda yang ambisius dan wanita anggun yang terjebak dalam pernikahan tanpa cinta di New York era 1950-an. Pertemuan mereka saat Natal berkembang jadi hubungan yang hangat, tapi sayangnya harus menghadapi aturan konservatif yang mengekang kehidupan queer di masa itu.
Disutradarai oleh Todd Haynes, film ini tampil anggun lewat visual vintage yang lembut sekaligus atmosfer melankolis. Chemistry antara Blanchett dan Mara juga jadi kekuatan utama yang bikin setiap tatapan maupun percakapan mereka terasa emosional tanpa perlu drama berlebihan. Gak heran kalau selain Queer Palm, Carol juga berhasil meraih Best Actress di Cannes untuk Mara sekaligus mengantongi enam nominasi Oscar.
3. BPM (Beats per Minute) (2017)

Gak melulu romansa, pemenang Queer Palm Cannes juga datang dari kisah inspiratif yang penuh semangat perjuangan seperti BPM (Beats per Minute). Film Prancis garapan Robin Campillo ini mengangkat kerasnya perlawanan para aktivis queer terhadap ketidakpedulian pemerintah dan perusahaan farmasi saat krisis AIDS memakan banyak korban di Paris pada awal 90-an. Menariknya, BPM dirajut berdasarkan pengalaman pribadi sang sutradara yang merupakan mantan anggota ACT UP (AIDS Coalition to Unleash Power), sehingga pendekatannya terasa autentik, jujur, dan jauh dari kesan mendikte.
4. Girl (2018)

Jauh sebelum terkenal lewat Close atau Coward yang tayang di Cannes tahun ini, Lukas Dhont telah lebih dulu mencuri perhatian lewat film debutnya yang bertajuk Girl. Film ini sempat menuai kontroversi sebab keputusan sang sutradara menunjuk aktor cisgender pria untuk memerankan protagonisnya yang seorang trans. Terlepas dari itu, Girl tetap dianggap sebagai salah satu pemenang Queer Palm terpenting karena membuka diskusi luas tentang representasi transgender di perfilman modern.
Di pusat cerita ada Lara (Victor Polster), remaja 15 tahun yang mengejar mimpinya menjadi balerina profesional di sebuah akademi bergengsi. Di tengah tuntutan latihan yang super berat, ia juga harus berjuang melewati fase transisi gender yang menguras emosi dan fisiknya. Alih-alih jualan drama klise soal penolakan keluarga atau lingkungan sosial yang toksik, konflik utama film Belgia ini murni datang dari ketidaksabaran Lara yang terjebak dalam disforia tubuhnya sendiri.
5. Portrait of a Lady on Fire (2019)

Selain Carol, romansa lesbian yang sukses memboyong Queer Palm juga bisa kamu tengok dalam Portrait of a Lady on Fire. Disutradarai oleh Céline Sciamma, film Prancis ini menghadirkan kisah cinta yang lembut sekaligus intens antara Marianne (Noémie Merlant), seorang pelukis muda, dan Héloïse (Adèle Haenel), wanita bangsawan yang jadi objek lukisannya. Selain romantisme dalam sudut pandang perempuan yang diusungnya, hal paling menarik dari Portrait of a Lady on Fire adalah visual artistiknya yang membuat banyak adegan dalam film ini terasa seperti lukisan hidup.
6. Joyland (2022)

Pakistan juga punya film pemenang Queer Palm Cannes yang wajib kamu lirik, yakni Joyland. Ceritanya menyoroti Haider (Ali Junejo), pria pengangguran yang hidup bersama keluarga patriarkal konservatif. Saat istrinya, Mumtaz (Rasti Farooq), menjadi tulang punggung keluarga, Haider diam-diam bekerja sebagai penari latar di sebuah teater erotis dan bertemu dengan Biba (Alina Khan), bintang transgender yang karismatik sekaligus penuh ambisi.
Hubungan rahasia ini otomatis menjungkirbalikkan moralitas seksual dan norma gender tradisional yang selama ini diagungkan oleh keluarga besar Haider. Kamu akan diajak melihat bagaimana sistem patriarki gak hanya mengekang kelompok marjinal, tapi juga menindas istri Haider yang terpaksa mengubur mimpinya. Konflik batin dan benturan budaya dalam Joyland tersebut dijamin bakal mengaduk-aduk emosimu!
7. Monster (2023)

Terakhir, tapi gak kalah menyentuh, yakni Monster, film Jepang garapan Hirokazu Kore-eda yang sukses mengguncang panggung Cannes pada 2023 silam. Ceritanya dimulai ketika Saori (Sakura Andō), seorang ibu tunggal, mulai curiga dengan perubahan perilaku putranya, Minato (Sōya Kurokawa). Sang anak mendadak jadi pendiam, bertingkah aneh, sampai mengaku mendapat perlakuan buruk dari gurunya di sekolah. Namun, benarkah demikian?
Segala misteri dalam Monster dibalut dengan efek Rashomon yang membagi cerita ke dalam tiga perspektif berbeda, yakni dari sisi ibu, guru, serta Minato dan Yori (Hinata Hiiragi), teman sekelasnya. Setiap POV membuka fakta baru yang bikin penonton terus mempertanyakan siapa sebenarnya “monster” dalam kisah ini. Bukan sekadar gaya-gayaan, lewat pendekatan tersebut, Koreeda memperlihatkan betapa mudahnya orang dewasa melabeli "aneh" kepada anak-anak yang dianggap "berbeda" alih-alih mencoba memahami mereka.
Deretan film di atas membuktikan kalau sinema queer gak melulu soal romansa klise, melainkan ruang refleksi yang berani mendobrak batas dan merayakan keberagaman lewat visual yang magis. Jadi, tunggu apa lagi? Yuk, langsung masukin judul-judul di atas ke watchlist akhir pekanmu!

















