3 Film Sci-Fi dengan Latar Tahun 2026, Prediksi Masa Depan?

- Tiga film sci-fi berlatar tahun 2026—Metropolis, Doom, dan Dawn of the Planet of the Apes—menawarkan pandangan unik tentang masa depan yang kini mulai terasa nyata di dunia modern.
- Metropolis menggambarkan kesenjangan sosial dan penggunaan AI untuk manipulasi, tema yang masih relevan dengan kondisi ekonomi serta perkembangan teknologi saat ini.
- Doom menyoroti eksplorasi manusia ke Mars, sementara Dawn of the Planet of the Apes mencerminkan konflik dan pandemi yang mengingatkan pada pengalaman global beberapa tahun terakhir.
Fiksi ilmiah atau sci-fi sering kali menceritakan tentang masa kini dalam latar berteknologi tinggi dan futuristik. Genre ini sudah ada sangat lama, lho. Jadi dunia nyata melewati zaman yang pernah dibayangkan oleh para penulis buku atau penulis skenario. Namun, gak semua penggambaran mereka akurat dalam memprediksi masa depan, karena invasi alien dan mobil terbang masih belum terjadi, tuh.
Sekarang adalah tahun 2026. Nah, yang tanpa kamu sadari, dunia sudah lebih dari setengah jalan di tahun 2020-an. Ada gejolak politik dan kecerdasan buatan, meskipun agak berbeda dari yang biasanya digambarkan dalam fiksi ilmiah. Percaya atau tidak, beberapa film sci-fi berlatar 2026, lho. Garis besarnya mungkin gak akurat banget, tapi jika mengulik lebih dalam film-film ini, kamu akan menemukan kemiripan dengan apa yang telah terjadi di dunia nyata.
1. Metropolis (1927)

Salah satu film sci-fi paling berpengaruh sepanjang masa kebetulan berlatar 2026, nih. Metropolis garapan Fritz Lang merupakan studi dari ekspresionisme Jerman. Fun fact, nih, rupanya film Metropolis sangat memengaruhi film Batman karya Tim Burton. Namun, di luar estetika, film ini punya banyak hal untuk disampaikan tentang tahun 1920-an yang masih relevan hingga saat ini.
Metropolis berlatar di distopia futuristik, tempat terjadinya kesenjangan ekonomi antara si kaya, yang tinggal di gedung pencakar langit, dan si miskin, yang bekerja keras dengan mengoperasikan mesin-mesin besar untuk menggerakkan kota. Kamu mungkin menyadari kesenjangan ekonomi di era modern ini. Jadi, Metropolis bisa dibilang berhasil memprediksi masa depan.
Kita ambil contoh negeri Paman Sam. Pada Januari 2026, Federal Reserve mengungkapkan bahwa pada 2025, 1 persen orang Amerika terkaya memiliki 31,7 persen dari seluruh kekayaan. Fakta ini sungguh miris, mengingat ekonomi Indonesia gak jauh lebih baik. Namun, itu hanya sebagian dari persamaan yang membuat Metropolis dikenang hingga hari ini.
Metropolis juga sangat penting dalam evolusi AI yang menakjubkan dalam film. Maria (diperankan Brigitte Helm) memberi harapan kepada para pekerja agar mereka bisa mendapat keadilan dari bos-bos mereka. Nah, karena kesal, salah satu orang yang sangat kaya, Joh Fredersen (diperankan Alfred Abel), membuat robot yang menyerupai Maria untuk mengontrol dan menghasut para pekerja untuk memberontak.
Dalam film ini terlihat jelas bagaimana robot AI diciptakan sangat mirip dengan manusia. Apalagi Metropolis mampu memprediksi penggunaan AI sebagai alat manipulasi. Pasalnya, banyak konten AI yang gak bermutu membanjiri media sosial kita saat ini. Jadi sulit banget bagi kita untuk membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu.
2. Doom (2005)

Film Doom yang didasarkan pada video game first-person shooter tahun 90-an yang kebetulan berlatar 2026 ini menceritakan tentang umat manusia yang menemukan lubang cacing untuk pergi ke Mars. Dari sana, film tersebut melompat maju ke tahun 2046, di mana kamu akan melihat makhluk-makhluk mirip iblis yang menyerang fasilitas penelitian.
Sayangnya, Doom menjadi salah satu dari banyak film gagal yang dibintangi Dwayne Johnson, yang saat itu masih dikenal sebagai The Rock. Pasalnya, Doom gagal dari segi action maupun horor. Bagian film yang berlatar tahun 2026 ini cenderung lebih fokus untuk menemukan portal Mars.
Di dunia nyata kita, umat manusia tertarik untuk pergi ke Mars. NASA bahkan punya rencana untuk misi berawak ke planet merah itu suatu saat nanti. Namun,misi tersebut paling cepat akan terjadi pada 2030-an. Tujuan dari eksplorasi Mars ini adalah untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana planet itu dapat mendukung kehidupan manusia suatu hari nanti. Mudah-mudahan, ketika tiba saatnya manusia mendarat di Mars, mereka gak bertemu dengan sekelompok iblis alien yang tinggal di sana seperti yang dikisahkan dalam film Doom.
3. Dawn of the Planet of the Apes (2014)

Rise of the Planet of the Apes dirilis pada 2011, tetapi berlatar tahun 2016. Kisahnya berakhir dengan Caesar (diperankan Andy Serkis) memimpin kera-kera lain yang menjadi korban eksperimen untuk hidup bebas. Ada juga wabah flu simian, yang menyebabkan pandemi yang akan memusnahkan sebagian besar umat manusia.
Nah, Dawn of the Planet of the Apes mengambil latar 10 tahun kemudian pada 2026. Kemampuan kognitif Caesar dan kera-kera lainnya telah meningkat pesat. Kera-kera ini berada di ambang perang dengan sisa-sisa terakhir umat manusia. Sementara itu, Caesar berharap agar tercipta perdamaian dan menjalin aliansi dengan manusia. Namun, Malcolm (diperankan Jason Clarke) dan Koba (diperankan Toby Kebbell) ingin menaklukkan manusia.
Waralaba Planet of the Apes memang sangat fantastis. Meskipun di dunia nyata kita gak berperang dengan kera, dunia pernah bertarung dengan pandemi yang menggegerkan umat manusia. Yap, meskipun COVID-19 gak memusnahkan manusia sebanyak flu kera, penyakit ini justru punya titik-titik kritis dalam masyarakat kita.
Dalam Dawn of the Planet of the Apes, Koba memanfaatkan ketakutan para kera untuk memprovokasi mereka melakukan kekerasan. Mirip seperti bagaimana COVID-19 membuat huru-hara di masyarakat. Yap, membuat kita semua ketakutan.
Film sci-fi yang berlatar 2026 memang gak sepenuhnya akurat dalam memprediksi tahun ini. Namun, ada cerita yang sekiranya hampir mirip. Nah, tertarik buat menontonnya?


















