Pria Solo yang Berbahaya, Siapa Prakasa Kitabuming di Ghost in the Cell?

- Film Ghost in the Cell (2026) menghadirkan karakter Prakasa Kitabuming, tahanan elite misterius yang menjadi simbol korupsi dan kekuasaan busuk di balik tembok penjara Labuhan Angsana.
- Latar belakang Prakasa menggambarkan transformasi tragis dari aktivis idealis menjadi oligark rakus yang terjerat kasus mega korupsi Rp20 triliun namun tetap hidup mewah di penjara.
- Aktor Arswendy Bening Swara menuai pujian atas totalitasnya memerankan Prakasa dengan gaya tenang dan lembut namun berbahaya, menambah kedalaman psikologis karakter ciptaan Joko Anwar.
Film Ghost in the Cell (2026) bukan cuma menawarkan teror psikologis khas Joko Anwar, tetapi juga menyelipkan kritik sosial-politik yang terasa menampar. Salah satu pusat perhatian di film ini adalah sosok Prakasa Kitabuming, karakter misterius yang rupanya menjadi "hantu" paling menyeramkan di balik tembok penjara fiktif Labuhan Angsana.
Diperankan dengan intens oleh aktor kawakan Arswendy Bening Swara, karakter Prakasa langsung memantik diskusi di media sosial sejak materi promosi film dirilis oleh Joko Anwar. Banyak penonton menyebutnya sebagai representasi korupsi, kekuasaan, dan trauma kolektif yang masih menghantui masyarakat Indonesia hingga hari ini.
1. Siapa Prakasa Kitabuming?

Prakasa Kitabuming merupakan salah satu karakter sentral dalam Ghost in the Cell. Ia digambarkan sebagai tahanan elite yang mendekam di sel mewah (Blok K). Meski berada di balik jeruji, pengaruhnya tetap terasa besar. Bahkan sang kepala sipir takut padanya. Karakter ini diperankan oleh Arswendy Bening Swara, sementara versi mudanya dimainkan oleh Dewa Dayana.
Dalam materi karakter yang diunggah Instagram Joko Anwar, Prakasa disebut sebagai "Pria Solo," yang langsung mengundang banyak spekulasi dari penonton soal nuansa satitre politik yang dibawa film ini. Secara naratif, Prakasa bukan sekadar napi biasa. Ia menjadi simbol relasi kuasa yang membusuk. Sosok yang dulu dikenal sebagai aktivis idealis malah berubah menjadi koruptor yang memanfaatkan sistem demi kepentingannya sendiri.
Tak heran, banyak penonton menyebut Prakasa sebagai "hantu" sebenarnya dalam film ini. Bukan karena ia makhluk supernatural yang meneror para tahanan, melainkan karena karakter seperti dirinya terasa begitu dekat dengan realita di negara Indonesia.
2. Background Prakasa Kitabuming

Dalam character sheet, latar belakang Prakasa Kitabuming dibuat sangat detail dan tragis. Ia lahir di Solo pada 3 Maret 1965, mirip tanggal lahir seorang tokoh ternama. Kedua orangtuanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga keluarga bangsawan Keraton Surakarta. Sejak kecil, Prakasa dibesarkan dengan nilai kehormatan yang sangat kuat.
Prakasa muda kemudian tumbuh menjadi mahasiswa idealis di Universitas Indonesia Utama jurusan Ilmu Sosial dan Politik. Ia dikenal sebagai orator ulung yang aktif menentang rezim Orde Baru dan turun langsung dalam berbagai gerakan mahasiswa. Namun hidupnya perlahan berubah setelah masuk dunia politik. Idealismenya mulai luntur ketika ia melihat korupsi sebagai sesuatu yang "normal." Dari politik, ia masuk bisnis tambang batu bara, menjalin kolusi dengan pejabat, aparat, hingga elite kekuasaan demi memperluas pengaruh dan kekayaannya.
Transformasi Prakasa terasa tragis, karena ia berubah dari sosok aktivis menjadi simbol oligarki yang rakus. Ia memiliki vila di luar negeri, apartemen rahasia, koleksi properti mewah, hingga kehidupan pribadi yang dipenuhi skandal perempuan dan korupsi. Puncaknya terjadi ketika ia terseret kasus mega korupsi Rp20 triliun terkait proyek tambang di Kalimantan. Meski divonis 5 tahun penjara di Labuhan Angsana, hukuman itu terasa ringan di mata publik. Bahkan, Prakasa tetap hidup nyaman dalam sel mewah.
Namun di balik seluruh kekuasaan dan keserakahannya, Prakasa masih menyimpan foto ibunya. Ada sisi rapuh yang sesekali muncul ketika malam tiba dan ia harus berhadapan dengan dirinya sendiri. Lapisan inilah yang membuat karakter Prakasa terasa begitu manusiawi sekaligus mengerikan.
3. Totalitas Arswendy Bening Swara dalam memerankan Prakasa
Penampilan Arswendy Bening Swara sebagai Prakasa mendapat banyak pujian karena terasa sangat hidup. Dalam acara Tribute to Audience Ghost in the Cell, sang aktor bahkan sempat bercanda soal asal-usul karakter tersebut.
"Prakasa Rakabuming ini dilahirkan di Solo," yang langsung memicu gelak tawa penonton dan para cast yang hadir di acara tersebut.
Namun di balik candaan itu, Arswendy mengaku melakukan pendekatan serius demi memahami karakter Prakasa.
"Mencoba menjiwai, saya ini orang Sumatera ya. Jadi mencobai 'oh karakter orang Solo begini begini. Lemah lembut, segala macam.' Maka lemah lembutnya itu yang saya pegang ya. Lemah lembut, tapi berbahaya," lanjutnya.
Pendekatan tersebut membuat Prakasa tampil tenang, halus, bahkan nyaris kalem. Tetapi justru di situlah letak ancamannya. Joko Anwar juga menyoroti totalitas Arswendy lewat detail kecil seperti tawa khas Prakasa yang terasa ganjil dan dingin.
"Nah ini ketawa dari Solo juga. Ini dilatih terus-menerut Pak Joko. Jadi ketawanya seperti, 'Hm hm hm hm'," katanya.



















