Bayu Skak dalam konferensi pers "Foufo" di XXI Epicentrum, Jakarta (3/7/2026) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
Jika melihat dari poster dan trailer-nya, karakter Foufo tampil dengan kepala dan mata berukuran besar yang dirancang agar terlihat menggemaskan bagi penonton anak-anak. Untuk mewujudkannya, Bayu Skak memilih menggunakan perpaduan teknologi CGI dan motion capture, alih-alih mengandalkan kecerdasan buatan (AI).
"Untuk menghidupkan karakternya Foufo, itu kita harus menggunakan teknologi CGI. Ini juga enggak kalah teman-teman kayak James Cameron punya. Karena ini pakai teknologi itu loh teman-teman, motion capture ya kan," ungkap sang sutradara.
Dalam proses produksinya, Skak Studios dan Sinemart menggandeng studio animasi lokal asal Surabaya, Hompimpa. Sekitar 120 animator dilibatkan untuk mengerjakan karakter Foufo hingga tampak hidup di layar lebar.
Bagi Bayu sendiri, penggunaan motion capture menjadi pengalaman baru sebagai sutradara. Ia mengaku harus beradaptasi dengan proses produksi yang berbeda dibanding film-film sebelumnya.
"Jadi, saya sebagai sutradara pun juga ini sesuatu yang baru bagi saya kan. Karena berkali-kali juga harus menyesuaikan karena sebelum kami syuting itu selalu kita capture sekeliling dulu teman-teman," ceritanya.
Ia juga menjelaskan, tim produksi memberi perhatian khusus pada detail visual, terutama pantulan cahaya di mata Foufo. Karena ukuran mata karakter sangat besar, lingkungan sekitar lokasi syuting harus direkam terlebih dahulu agar refleksi cahaya pada proses CGI terlihat alami.
"Karena Anda tahu kan bahwa matanya dari Foufo itu kan segede itu kan ya. Nah, itu harus ada refleksi teman-teman. Kalau Anda tadi itu lihat ya maksudnya kayak teliti oh iya itu ada refleksinya itu kami capture dulu sekeliling untuk matanya itu," tambahnya.