Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gina S. Noer: Alih-alih Diskriminasi, Sineas Perempuan Dihadapkan Ekspektasi

7 min read
Gina S. Noer: Alih-alih Diskriminasi, Sineas Perempuan Dihadapkan Ekspektasi
Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)
  • Gina S. Noer menekuni perfilman sejak SMA dan menjalani karier penulis naskah secara mengalir, dengan karya seperti Ayat-Ayat Cinta, Keluarga Cemara, hingga Dua Garis Biru.
  • Gina mengaku dukungan suami serta produser perempuan membuatnya tidak banyak merasakan diskriminasi gender, meski pernah menghadapi gap terkait latar belakang sekolah film dan pertanyaan domestik.
  • Menurut Gina, sineas perempuan lebih kerap dibebani ekspektasi kepemimpinan yang lembut; industri film juga belum sepenuhnya aman dan perlu memperkuat tindak lanjut laporan kekerasan seksual serta perundungan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Surabaya, IDN Times - "Kak, aku sudah ada di room Zoom, ya," begitulah isi pesan singkat saya kepada manajer Gina S. Noer menjelang interview yang kami lakukan pada Selasa (27/10/2026) lalu. Saat jam sudah menunjukkan pukul 09.35 WIB, wajah ramah Gina S. Noer dengan rambut bergelombang yang diurai pun muncul di depan layar laptop berukuran 16:9 inci milik saya.

Selama 30 menit, saya berbicang dengan Gina tentang perjalanan dan pengalamannya sehingga bisa menjadi salah satu sutradara, penulis naskah, dan produser perempuan yang diperhitungkan di Indonesia. Dukungan orang terdekat dan para senior yang sudah lebih dulu terjun ke industri perfilman menjadi penguat Gina untuk terus berkarier.

Menurut Gina, alih-alih diskriminasi, para sineas perempuan justru lebih sering dihadapkan dengan ekspektasi yang berbeda. Namun, apa yang Gina rasakan mungkin saja berbeda dengan sineas perempuan lain yang berada di koridor below the line, selain sutradara, penulis naskah, produser, hingga head of department lainnya.

Perbincangan saya dengan Gina akan segera dimulai. Siapkah popcorn-mu! Simak wawancara khusus IDN Times bersama Gina S. Noer, sutradara, penulis naskah, dan produser film Indonesia di program #COD (Cerita Orang Dalam)!

  1. 1. Menekuni bidang perfilman sejak SMA, Gina S. Noer tidak merencanakan menjadi penulis naskah

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Ketika Gina S. Noer menceritakan perjalanan awalnya di dunia perfilmanan, saya mendengar satu nama yang tidak asing, yaitu Angga Dwimas Sasongko, sutradara, sekaligus Founder dan CEO Visinema. Ternyata film pertama yang ditulis dan diproduseri Gina S. Noer berjudul Ladies Room (2004), juga disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko, lho.

    "Jadi aku mulai bikin film itu SMA kelas 2. Saya sama teman-teman saya, salah satunya Angga Dwimas Sasongko yang punya Visinema dan sutradara juga," ungkap Gina S. Noer.

    Perjalanan Gina terus berlanjut sampai berkuliah di Broadcasting Universitas Indonesia atau yang sekarang dikenal dengan Vokasi Penyiaran UI. Barulah pada tahun 2004, ia dipercaya menjadi penulis di beberapa episode sinetron Fairish yang disutradarai Hanung Bramantyo. Di sinilah ia bertemu dengan sang suami, Salman Aristo yang dulu bertanggung jawab sebagai script editor.

    Selama lebih dari 20 tahun, Gina menulis mayoritas film yang ia lahirkan, termasuk Ayat-Ayat Cinta (2008), Habibie & Ainun (2012), Posesif (2017), Keluarga Cemara (2019), Ali & Ratu Ratu Queens (2021), Dua Garis Biru (2019), hingga Like & Share (2022). Gina mengaku profesi sebagai penulis naskah ini tidak ia rencanakan, tapi lebih seperti air mengalir.

    "Gak juga, saya tipikal yang memang go with the flow gitu, tapi sepanjang mengalir, sekaligus memupuk profesionalitas dan juga memfokuskan manfaat baik apa yang ingin diberikan kepada masyarakat," jelas Gina sembari tersenyum.

  2. 2. Dukungan suami dan produser perempuan Indonesia membuat Gina tidak terlalu merasakan diskriminasi

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Saat ini, sudah banyak perempuan menempati posisi publik, termasuk Gina S. Noer yang berada di above the line produksi film. Posisi ini terdiri dari sutradara, penulis naskah, produser, dan head of departments, sementara below the line adalah kru-kru film lainnya.

    Sembari sedikit mengingat kenangannya, sutradara, penulis naskah, dan produser Dua Hati Biru (2024) ini menjelaskan kalau ia tidak merasakan diskriminasi sebagai perempuan. Di sisi lain, ia justru merasakan sedikit gap dengan sineas lain yang berasal dari sekolah film populer.

    "Mungkin kalau di awal-awal banget pas masuk ke perfilman Indonesia memang ada gap, karena sekolah film masih sedikit, ada sekolah film yang lebih populer. Dulu itu dominannya diskriminasi, apakah kamu anak sekolah film ini atau bukan," tuturnya yang membuat saya cukup terkejut.

    Kehadiran sang suami, Salman Aristo dan produser-produser perempuan Indonesia, seperti Mira Lesmana hingga Nia Dinata menjadi angin segar bagi Gina S. Noer. Meski tidak mudah, tapi jalannya untuk terus menapaki industri perfilman semakin terbuka lebar.

    "Kalau saya pribadi, karena suaminya juga seorang filmmaker juga dan menariknya kebanyakan produser di Indonesia adalah perempuan. Jadi gak terlalu berasa," sambungnya.

    Meski tidak mengalami diskriminasi sebagai perempuan, Gina pun mengakui ada kalanya mendapat perlakuan berbeda dari kru film. Ketika berbicara dengan sang suami, mereka akan lebih sering membahas tentang hal berbau profesional. Sedangkan Gina lebih sering mendapatkan pertanyaan yang lebih domestik.

  3. 3. Tantangan yang Gina hadapi sebagai sineas perempuan adalah ekspektasi

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    "Sebagai sineas perempuan, Kak Gina pernah gak kesulitan mendapat kepercayaan dari kru film atau klien?" pertanyaan ini cukup membuat saya penasaran. Terlebih lagi Gina bekerja di posisi above the line yang memang memiliki tanggung jawab untuk memimpin jalannya produksi, seperti sutradara.

    Saya cukup terkejut dengan jawaban yang Gina lontarkan. Alih-alih ketidakpercayaan, sebagai sineas perempuan ia justru dikotakkan oleh ekspektasi. Menurutnya, pemimpin perempuan di industri apapun pasti akan mengalami ini.

    "Ada ekspektasi yang diharapkan dari kelekatan perempuan dengan gaya sifat dan tipikal yang lebih motherhood atau lebih lembut," tegas Gina menjabarkan jawabannya dengan kalimat yang tertata dan mudah dipahami.

    Penulis naskah film Esok Tanpa Ibu (2026) ini memberikan contoh jika ada kru film, baik laki-laki maupun perempuan yang memiliki pola pikir patriarki. Mereka akan terkejut saat melihat pemimpin perempuan yang cenderung tegas dan maskulin.

    "Bos perempuannya punya ketegasan yang selama ini diidentikkan dengan sifat laki-laki yang lebih maskulin. Itu pasti lebih kaget," ujarnya yang membuat saya mengangguk tanda setuju.

    Gina pun menambahkan, " Tapi apakah itu cuma terjadi di laki-laki? Gak juga, banyak juga perempuan yang terjebak dalam logika patriarki ini. Jadi mereka menganggap kalau pemimpin perempuan itu jauh lebih ribet atau emosional. Padahal kalau dilihat kenyataannya gak demikian."

  4. 4. Industri perfilman Indonesia belum 100 persen aman bagi perempuan

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadi.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Kita semua berharap industri manapun akan menjadi ruang aman bagi perempuan atau kaum minoritas, serta marginal. Inilah yang sedang digalakkan di industri perfilman Indonesia. Namun, Gina mengajak kita berpikir realistis, bahwa industri ini memang tidak akan pernah sepenuhnya menjadi ruang yang aman bagi perempuan.

    "Kalau bilang apakah 100 persen sudah ruang aman, belum. Dan menurutku mungkin malah mustahil kali ya secara realistis. Ketika kita bicara soal industri film itu juga lekat sama society-nya, bagaimana masyarakat secara umum di Indonesia. Jadi ketika masyarakat secara umum masih belum bisa benar-benar ngasih ruang aman, tentu subdivisi industrinya juga masih penuh tantangan," jawab Gina dengan mantap.

    Pekerjaan rumah industri perfilman Indonesia masih sangat banyak. Khususnya ketika mereka berusaha memerangi kekerasan seksual dan perundungan. Setelah mendapatkan pelaporan, industri juga harus menyiapkan langkah selanjutnya untuk menanggulangi.

    "Kita di industri film sudah mulai konsisten orang-orangnya untuk meningkatkan disiplin, untuk menegakkan aturan anti kekerasan seksual dan anti-bullying. Nah, tapi kemudian yang perlu dipikirkan selanjutnya adalah setelah ada keluhan, setelah ada laporan, apa yang terjadi selanjutnya," lanjutnya ketika masih membicarakan ruang aman di industri perfilman Indonesia.

  5. 5. Meningkatkan empati dan menyayangi diri sendiri tidak kalah penting dengan belajar ilmu film bagi pemula

    Potret Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia, dalam dokumentasi pribadinya.
    Gina S. Noer, sutradara, penulis skenario, dan produser Indonesia (dok. Pribadi/Gina S. Noer)

    Sebelum mengakhiri wawancara kami, saya sempat bertanya tentang harapan, sekaligus pesan Gina untuk calon sineas Indonesia. Saya cukup terkejut, karena dibandingkan dengan memperbanyak ilmu pembuatan film, Gina justru memberikan pesan lain yang tidak kalah penting.

    "Untuk teman-teman, terutama yang mau masuk ke dunia filmmaking, selain meningkatkan empatinya dan menyayangi diri sendiri, juga harus lebih banyak melihat referensi ilmu. Jadi, jangan hanya terpaku ke ilmu-ilmu pembuatan filmnya aja," kata penulis, sekaligus produser eksekutif Seni Merayu Tuhan (2026) ini.

    Ia pun menambahkan, "Karena semakin kita punya leadeship yang jauh lebih baik, yang kita asah setiap saat, maka kita akan punya daya tahan, daya tawar, dan daya lenting atau resiliensi, ketika menghadapi segala perubahan yang ada itu sih."

    Semua elemen di atas sangat dibutuhkan, ketika industri perfilman Indonesia sedang mengalami transisi yang menarik. Mulai dari tantangan distribusi yang berubah, berkembangnya alat produksi dan penggunaan AI (Artificial Intelligence) untuk proses pembuatan film, serta sulitnya ekonomi, sehingga membuat tingkat stres meningkat. Gina pun berpesan, kebijaksanaan adalah hal yang penting di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja.

    Tidak terasa waktu wawancara saya dengan Gina telah berakhir. Namun, kisah menarik yang ingin saya sampaikan belum berhenti sampai di sini. Nantikan artikel selanjutnya tentang penggambaran karakter perempuan di perfilman Indonesia hingga cara Gina melahirkan karya-karyanya selama ini!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More