Ketika ditanya IDN Times mengenai alasan di balik pemilihan judul “Dogs Are Always True”, Lafa menyoroti kebiasaan manusia yang mulai nyaman bercerita kepada AI karena respons yang diberikan cenderung memvalidasi perasaannya. Berbeda ketika bercerita kepada orang lain, ada kemungkinan seseorang merasa dihakimi atau tidak mendapatkan respons yang diharapkan. Meski begitu, Lafa mengingatkan bahwa AI tetaplah mesin. Kemampuan teknologi untuk merespons cerita dan perasaan manusia tidak serta-merta membuatnya sama dengan hubungan yang terjalin antarmakhluk hidup.
Lafa x Isyana x Jason Ranti akan Rilis Dogs Are Always True, Soal Apa?

- Isyana Sarasvati dan Jason Ranti berkolaborasi dalam “Dogs Are Always True”, diproduseri Lafa Pratomo untuk EP Garis Tegak, yang dijadwalkan rilis 3 November 2026.
- Ide lagu berawal dari cerita Jason tentang tetangganya yang terkena PHK setelah pekerjaannya digantikan AI, lalu berkembang menjadi tulisan yang menjadi bahan lirik.
- Lafa memaknai lagu sebagai dokumentasi pemikiran tentang peran AI, sekaligus mengingatkan bahwa mesin bukan pengganti hubungan hidup; judulnya menyoroti ketulusan anjing.
Jakarta, IDN Times – Isyana Sarasvati dan Jason Ranti berkolaborasi lewat lagu “Dogs Are Always True” yang diproduseri oleh Lafa Pratomo. Lagu ini menjadi bagian dari EP Garis Tegak, proyek kolaboratif Lafa yang mempertemukan sejumlah musisi Indonesia dengan karakter musikal berbeda.
Gak cuma menarik perhatian dari sisi judulnya, lagu yang bakal dirilis pada 3 November 2026 ini ternyata lahir dari obrolan santai Jason dan Lafa tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Cerita di balik lagu “Dogs Are Always True” tersebut diungkap langsung oleh Lafa dalam listening session yang berlangsung di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026). Lantas, apa makna di balik lagu yang mempertemukan dua musisi dengan karakter berbeda ini?
1. “Dogs Are Always True” terinspirasi dari cerita Jason Ranti soal tetangganya yang terkena PHK akibat AI

listening session “Dogs Are Always True” di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Menurut Lafa, ide lagu “Dogs Are Always True” bermula dari percakapan santainya dengan Jason Ranti sebelum mereka masuk ke studio. Saat itu, keduanya membicarakan perkembangan AI dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Nah, dalam obrolan tersebut, Jason kemudian menceritakan tentang tetangganya yang baru saja terkena layoff karena pekerjaannya telah digantikan oleh AI.
“Sebelum masuk studio, kami sebenarnya cuma mengobrol biasa. Gak ada intensi khusus untuk menulis sesuatu. Kami sempat membicarakan AI. Jason bercerita bahwa tetangganya baru saja terkena layoff sekitar dua minggu sebelumnya karena pekerjaannya sudah digantikan mesin,” ungkap Lafa, Rabu (28/10/2026).
Meski awalnya, mereka tidak memiliki rencana khusus untuk menulis lagu tentang topik tersebut. Namun, percakapan itu justru berkembang menjadi gagasan yang kemudian dituangkan Jason dalam sebuah tulisan panjang. Tulisan tersebutlah yang kemudian menjadi bahan lirik lagu “Dogs Are Always True”.
2. Lafa Pratomo maknai lagu “Dogs Are Always True” sebagai dokumentasi pemikiran tentang AI

listening session “Dogs Are Always True” di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Sebagai produser, Lafa Pratomo memaknai lagu “Dogs Are Always True” sebagai dokumentasi pemikiran yang muncul di tengah perkembangan teknologi, khususnya pada tahun ini. Ia melihat AI mulai mengambil alih berbagai hal dalam kehidupan manusia. Lafa juga menyoroti bagian pembuka lagu yang memuat kalimat “Good morning, society”. Menurutnya, bagian tersebut menggambarkan situasi ketika AI mulai mengambil peran lebih besar dalam kehidupan manusia.
“Menurutku, ini semacam dokumentasi pikiran yang kebetulan muncul saat itu. Kami mendokumentasikan kejadian pada 2026, ketika AI mulai mengambil alih banyak hal. Di bagian pembukaan lagu, ada kalimat ‘Good morning, society’. Rasanya seperti menggambarkan keadaan sebelum AI mengambil alih semuanya. Mungkin ada unsur satirnya juga. Kami seperti sedang mengatakan bahwa keadaan sudah sampai di titik ini.”
3. Alasan di balik pemilihan judul “Dogs Are Always True”

listening session “Dogs Are Always True” di Pondok Indah, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026) (dok. IDN Times/Rani Asnurida) “Ketika manusia sudah malas bercerita kepada manusia lain dan akhirnya memilih bercerita kepada mesin, kita perlu ingat bahwa mesin tetaplah mesin,” kata Lafa.
Menurut Lafa Pratomo, judul “Dogs Are Always True” juga bukan berarti bahwa manusia tidak bisa tulus. Namun, ia melihat hubungan antarmanusia terkadang lebih bersifat transaksional. Lantas, siapa yang paling true atau tulus di dunia ini menurut Lafa? Jawabannya adalah anjing. Pandangan tersebut pun menjadi dasar pemilihan judul “Dogs Are Always True” untuk menggambarkan perspektif mereka tentang ketulusan.




















