Gina S. Noer Ungkap Inspirasi Hubungan Ayah-Anak di Aku Sebelum Aku

Sutradara sekaligus penulis Gina S. Noer terinspirasi dari hubungan suami dan anak keduanya dalam menciptakan kisah ayah-anak di film Aku Sebelum Aku.
Refleksi masa lalunya tentang hubungan dengan sang ayah membantu Gina memperdalam cerita, serta proses menggarap film membuatnya kembali memahami soal healing dan hubungan orangtua-anak.
Gina berharap film ini mendorong generasi orangtua kini untuk membangun hubungan lebih hangat dan hadir bagi anak-anak mereka.
Jakarta, IDN Times – Aku Sebelum Aku menambah daftar film Indonesia yang ikut memotret dinamika hubungan kompleks antara ayah dan anak laki-laki. Namun, kisah tersebut ternyata bukan lahir dari imajinasi semata, melainkan berangkat dari pengalaman pribadi Gina S. Noer.
Sutradara sekaligus penulis cerita Aku Sebelum Aku itu mengungkapkan, ide tersebut berawal dari hal sederhana, yakni kedekatan antara sang suami dengan putra keduanya. Dari hubungan itulah, Gina kemudian menemukan refleksi yang berkembang menjadi kisah dalam film garapannya.
1. Gina jadikan hubungan suami dan putranya sebagai inspirasi Aku Sebelum Aku

Dalam wawancara eksklusif bersama IDN Times, Gina mengaku proses kreatifnya dalam membuat film selalu berangkat dari kedua anaknya. Ia bahkan menyebut beberapa film, seperti Dua Garis Biru, Posesif, sampai Like and Share berasal dari kekhawatirannya sebagai orangtua terhadap anak pertamanya, Biru Langit Fatiha alias Biru.
Khusus film Aku Sebelum Aku, Gina menjadikan perkembangan hubungan antara suaminya, Salman Aristo, dengan anak kedua mereka, Akar Randu Furqan alias Bung, sebagai inspirasi hubungan ayah-anak dalam filmnya. Ia pun menyaksikan sendiri bagaimana hubungan Aris dan Bung berkembang dari yang canggung menjadi sangat akrab.
"Ketika anak laki-laki yang berbeda sekaligus dekat, terus ngeliat bagaimana hubungan itu antara suamiku, Aris, dengan si Bung itu tuh dari yang awkward nih, bapak punya anak baru, anak laki baru. Terus kemudian sempat jadi galak juga. Tiba-tiba tuh kayak sadar, terus kemudian akhirnya jadi punya hubungan yang akrab," katanya di IDN HQ, Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
2. Refleksi masa lalu membantu Gina mengembangkan cerita

Melihat kedekatan Aris dan Bung membuat Gina ikut merefleksikan masa lalunya. Ia mengaku tak pernah memiliki hubungan ayah dan anak yang sehangat itu bersama sang ayah dulu. Pengalaman tersebut pun membantu Gina untuk mengembangkan cerita Aku Sebelum Aku.
"That kind of relationship yang gak pernah kumiliki dengan bapakku gitu, yang begitu tulus dan tumbuh. Akhirnya ketika berproses dengan film Aku Sebelum Aku ini justru aku tuh adalah Jaya sekaligus Jatinya, dan membuatnya jadi dua sosok laki-laki itu tuh a good reflection for me," tambahnya.
Diakui Gina, proses menggarap Aku Sebelum Aku juga memberinya ruang untuk kembali memahami proses healing, hubungan orangtua dan anak, serta menuangkan luka-luka masa lalu dalam bentuk refleksi dan cerita.
3. Harapan Gina untuk para penonton film Aku Sebelum Aku

Di akhir pernyataannya, Gina pun berharap para orangtua seangkatannya dapat menjadi sosok yang lebih baik bagi anak-anak mereka, dan tidak ada lagi yang merasakan pengalaman pahit dalam hubungan ayah-anak seperti yang pernah dialami oleh generasi masa lalu.
"Justru agar lebih banyak orang-orang yang gak perlu ngalamin yang dulu mungkin dialami sama angkatan generasi milenial ini, gitu. Atau orangtua seangkatan kita tuh bisa jadi lebih baik, harapannya itu sih," ucap sutradara kelahiran 1985 itu.
Terlebih lagi, ia tidak memungkiri bahwa hubungan ayah dan anak di dalam keluarga juga sangat personal karena menurutnya, perkataan maupun kehadiran seorang ayah dapat memengaruhi diri anak sampai mereka dewasa.
"Makanya, ayah sama anak tuh jadi very personal, karena tanpa disadari apa yang diomongin sama ayah itu jadi suara dalam pikiran kita dan ketika ayah gagal benar-benar hadir, itu tuh anak sampai dia dewasa bisa sulit merasakan rasa aman dalam diri dan lingkungannya," pungkas Gina.





















