Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Identitas Lokal Makin Dominasi Industri Kreatif Indonesia

Identitas Lokal Makin Dominasi Industri Kreatif Indonesia
idgitaf (youtube.com/idntimes)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Algoritma digital mengubah arah industri kreatif Indonesia, membuat karya lokal seperti hip hop dangdut Tenxi viral dan diakui secara nasional lewat penghargaan AMI Awards 2025.
  • Musik pop Indonesia mendominasi 78 persen chart Spotify Tanah Air tahun 2026, menandakan pergeseran selera generasi muda dari K-Pop dan Western Pop ke musisi lokal seperti Hindia dan Idgitaf.
  • Laporan IMGR 2027 menyoroti kebangkitan identitas lokal di berbagai sektor, dari parfum hingga film, dengan Netflix menjadikan Indonesia pasar prioritas utama di Asia Tenggara.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Generasi milenial pasti ingat betul masa-masa selera musik seseorang sangat ditentukan oleh apa yang tayang di MTV, radio, atau acara musik televisi. Dulu, sebuah lagu atau tren baru bisa dianggap keren kalau sudah melewati kurasi ketat dari label besar atau stasiun TV nasional.

Namun, memasuki 2026, peta industri kreatif benar-benar berbalik arah. Berkat kehadiran algorithmic gatekeeping (seperti algoritma "For You Page" di TikTok), kurasi tidak lagi dipegang oleh segelintir elite media, tetapi oleh interaksi para penggunanya.

Hasilnya, produk dan karya lokal yang dulu dianggap pinggiran, kini melesat menjadi pilihan utama di hati masyarakat.

Hal tersebut tertuang dalam Indonesia Milennial dan Gen Z Report (IMGR) 2027 yang dirilis oleh IDN Research Institute.

Yuk, simak lima bukti nyata kalau identitas lokal kini jadi raja di rumah sendiri!

1. Hip hop dangdut naik kelas, dari FYP TikTok langsung sabet penghargaan AMI Awards

Naykilla, Tenxi, Jemsii (youtube.com/antinmrl)
Naykilla, Tenxi, Jemsii (youtube.com/antinmrl)

Jika dulu musik daerah sering dianggap kurang bergengsi, algoritma digital mengubah stigma tersebut dalam sekejap. Sepanjang tahun 2025, platform TikTok Indonesia dihebohkan oleh dominasi genre hipdut alias hip hop dangdut.

Dari 10 lagu paling viral di TikTok sepanjang tahun lalu, dua di antaranya adalah lagu hipdut milik musisi lokal bernama Tenxi, Garam dan Madu, Sakit Dadaku dan Mejikuhibiniu. Kerennya lagi, lagu Garam dan Madu yang dirilis pada 20 Desember 2024, gak butuh waktu lama untuk mendapatkan pengakuan resmi.

Belum genap setahun, genre ini langsung sukses meraih penghargaan di ajang bergengsi AMI Awards pada 19 November 2025. Bukti nyata kalau lagu daerah gak perlu lagi lewat jalur TV untuk bisa diakui secara nasional!

2. Musik pop lokal makin perkasa, kuasai 78 persen chart spotify Tanah Air

Sal Priadi dalam konferensi pers pada Jumat (17/1/2025) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)
Sal Priadi dalam konferensi pers pada Jumat (17/1/2025) (IDN Times/Elizabeth Chiquita)

Fenomena melemahnya dominasi KPop dan Western Pop ternyata tak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merata di Asia Tenggara. Berdasarkan data dari Tsurezure Lab (2026), musik domestik di beberapa negara ASEAN mengalami lonjakan tajam sejak 2023.

Di Thailand, ThaiPop melesat dari 65 persen ke 78 persen, sementara di Filipina, musik OPM (Original Pilipino Music) melonjak hingga 63 persen.

Di Indonesia sudah selangkah lebih maju. Musik pop Indonesia konsisten mendominasi pasar dengan pangsa chart mencapai 78 persen di tahun 2026.

Nama-nama seperti Hindia, Idgitaf, hingga Sal Priadi sukses menjadi tuan rumah di aplikasi streaming musik kita sendiri, mendepak nama-nama besar KPop keluar dari daftar Top 20 mingguan.

3. Go International tanpa kehilangan jati diri, kisah Carmen bersama Hearts2Hearts

Image Teaser Carmen (x.com/Hearts2Hearts, 2025)
Image Teaser Carmen (x.com/Hearts2Hearts, 2025)

Meskipun pasar lokal sangat dominan, bukan berarti anak muda Indonesia anti dengan industri internasional. Menariknya, cara bersaing di kancah global kini jauh lebih berkarakter.

Salah satu contoh paling konkret adalah Nyoman Ayu Carmenita (Carmen), gadis asal Bali yang berhasil debut di Korea Selatan pada tahun 2025. Dia menjadi satu-satunya member Indonesia di idol group besutan SM Entertainment, Hearts2Hearts.

Berbeda dengan masa lalu di mana talenta lokal yang ke luar negeri sering memicu perdebatan, kehadiran Carmen justru disambut dengan rasa bangga yang organik oleh warganet.

Hebatnya lagi, Carmen tidak melebur menjadi orang Korea. Dia membawa identitas dan pesona budaya Bali-nya ke panggung dunia. Bahkan pada April 2026, Menteri Luar Negeri Sugiono secara khusus menyebut namanya dalam konteks hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan.

4. Industri parfum lokal meledak, cetak nilai transaksi hingga Rp6,1 triliun

HMNS Orgsm (instagram.com/hmns.id)
HMNS Orgsm (instagram.com/hmns.id)

Beralih ke industri retail, jika dulu parfum mewah identik dengan merek-merek Paris atau Italia, sekarang ceritanya sudah beda. Kehadiran brand lokal seperti Saff & Co., HMNS, dan Alchemist berhasil mengubah total perilaku konsumsi masyarakat.

Mereka tak hanya menjual keharuman, tapi juga narasi autentik tentang bagaimana rasanya menjadi representasi anak muda Indonesia modern yang urban dan reflektif.

Berdasarkan data Compas Market Insight Dashboard, industri parfum e-commerce di Indonesia mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 53 persen di tahun 2025, dengan nilai penjualan menembus Rp6,1 triliun (naik dari Rp4 triliun di tahun sebelumnya).

Secara volume, ada 115 juta unit parfum lokal yang terjual. Ini menandakan bahwa masyarakat kita tidak hanya membeli dalam jumlah banyak, tetapi juga berani membayar lebih mahal demi kualitas produk lokal yang ciamik.

5. Perfilman Indonesia jadi prioritas utama Netflix di Asia Tenggara

Muhadkly Acho sebut adegan itu paling lama digarap.jpg
Konferensi pers film "Agak Laen: Menyala Pantiku!" di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis (20/11/2025) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)

Slogan ‘The old industry picked the winners. The new one watches them emerge’ sangat cocok menggambarkan industri film Indonesia saat ini. Sineas Indonesia kini semakin berani mengeksplorasi tema. Hasilnya pun di luar nalar.

Film-film seperti 'Jumbo,' 'Sore,' hingga 'Agak Laen' terbukti sukses menembus pasar internasional.

Menurut data Cinema Poetica (2025), ada 126 film Indonesia yang berhasil tayang di festival film internasional sepanjang tahun 2025, melompat jauh dari tahun sebelumnya yang hanya 78 film.

Akibat ekosistem yang makin matang ini, media global Deadline (2025) melaporkan bahwa Netflix kini menetapkan Indonesia sebagai pasar prioritas utama di Asia Tenggara. Mereka pun langsung mengandeng sutradara dan kreator top seperti Kimo Stamboel, Ernest Prakasa, dan MD Entertainment untuk menggarap proyek eksklusif berskala global.

Kesimpulannya, menjadi lokal di era digital saat ini bukan lagi berarti terbatas atau ketinggalan zaman. Sebaliknya, merangkul identitas, kedekatan, dan narasi lokal terbukti menjadi strategi paling ampuh untuk membangun koneksi yang jujur dan mendalam dengan audiens. Maju terus kreatif Indonesia!

IDN menggelar Indonesia Summit 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.

IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.

Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More